Orang Tua Pengaruhi Tipologi Beragama Mahasiswa

Ilustrasi mahasiswa - Ist/UNY
01 Juli 2019 12:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--SETARA Institute melakukan survei tentang Model Beragama Mahasiswa di 10 Perguruan Tinggi Negeri. Survei ini sebagai upaya mengenali secara presisi kuantitas problem yang menuntut penyikapan pemerintah dan kalangan perguruan tinggi.

Dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Senin (1/7/2019), Direktur SETARA Institute, Halili menjelaskan bahwa sebelumnya, SETARA Institute telah melakukan kajian kualitatif yang secara purposif dan studi kasus telah menggambarkan bagaimana wacana dan gerakan keagamaan tumbuh subur di lingkungan perguruan tinggi dan pada batas-batas tertentu berpotensi bertransformasi menjadi intoleran, radikal dan bahkan terorisme. Wacana dan gerakan keagamaan tersebut secara langsung mengancam ideologi Pancasila.

"Dari survei yang dilakukan terhadap 1.000 mahasiswa dari 10 perguruan tinggi, dapat ditarik dua poin simpulan kunci. Pertama, tipologi
keagamaan mahasiswa dapat dibagi ke dalam tiga lapis, yaitu lapis individual, lapis sosial kemasyarakatan, dan lapis publik-kenegaraan," kata Halili. 

Pada lapis pertama, terdapat dua tipe keberagamaan mahasiswa, yaitu konservatif dan sekuler. Pada lapis kedua, terdapat dua tipe keberagamaan; eksklusif dan inklusif. Sedangkan pada lapis ketiga, juga terdapat dua tipe keberagamaan, yaitu formalis dan substansialis.

Satu catatan terpenting pada simpulan pertama ini adalah bahwa pada seluruh lapis keberagamaan tersebut kelompok moderat sangat potensial tergerus ke arah pendulum negatif (yaitu konservatif, eksklusif, dan formalis), jika tidak tersedia agenda dan intervensi untuk mencegahnya.

Kedua, pengaruh terbesar tipologi keagamaan mahasiswa berasal dari orang tua/keluarga. Meskipun demikian, guru agama juga memberikan pengaruh, sehingga pemetaan asal sekolah juga intervensi di tingkat persekolahan akan sangat mempengaruhi tipologi keagamaan mahasiswa di perguruan tinggi.

Di samping itu, kampus dapat mempersempitlingkungan yang memungkinkan (enabling environment) konservatisme, eksklusivisme, dan formalism tipologi keagamaan mahasiswa dengan menangani isu-isu pendidikan agama, dan organisasi (keagamaan) mahasiswa yang memberikan ruang bagi eksklusivisme literatur keagamaan dan peer group yang eksklusif dan radikal.