Jika Kalah di MK, Pengamat Ramalkan Prabowo Subianto Bakal Jadi Oposisi Pemerintahan Jokowi

Peserta pemilihan presiden 2019 Joko Widodo (kanan), dan Prabowo Subianto, bersalaman di sela-sela pengambilan nomor urut di Komisi Pemilihan Umum Jakarta, Jumat (21/9/2019). - Bisnis/Dwi Prasetya
27 Juni 2019 16:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, KUPANG- Akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Mikhael Bataona memprediksi Prabowo Subianto akan menyatakan diri sebagai oposisi jika putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatannya.

"Jika Prabowo kalah di MK, maka saya memprediksi, Prabowo Subianto justru akan menyatakan diri sebagai oposisi di negeri ini, karena hanya dengan menjadi oposisi, Prabowo bisa merawat pengikutnya," kata Mikhael Bataona kepada Antara di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (27/6/2019).

Dia mengemukakan hal itu berkaitan dengan posisi Prabowo Subianto dan Partai Gerindra jika putusan Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatannya dalam sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2019.

Menurut dia, jika kalah di MK, Prabowo bersama pendukungnya diperkirakan akan tetap memilih berada di luar pemerintahan dan menjadi oposisi bagi pemerintahan yang berkuasa.

"Dengan mengambil posisi sebagai oposisi, maka Prabowo bisa merawat pengikutnya, karena kekuatan inilah yang akan ia gunakan untuk kontestasi elektoral ke depan," kata dosen ilmu Komunikasi Politik dan Sistem Politik Indonesia serta Ilmu Teori Kritis pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unwira Kupang itu.

Jika putusan MK menolak gugatannya, dia mengatakan, Prabowo akan menerima kekalahan hanya sebagai bagian dari konsekuensi atas putusan MK, tetapi bukan karena menerima kekalahan secara substantif.

"Soal menerima kekalahan, saya kira secara keadaban politik tentu Prabowo akan bertemu, tetapi ini kan namanya dramaturgi politik sehingga Prabowo hanya mengakui kekalahannya dari kekalahan di MK," katanya.

Justru, kata dia, kekalahan akan dirawat sebagai kekuatan psikologis yang punya dampak elektoral demi kebesaran oposisi dan kepentingan politik elektoral ke depan.

"Jadi untuk panggung depannya, (jika kalah di MK) saya kira Prabowo akan menerima kekalahannya itu, tetapi itu tidak menggambarkan apa yang sesungguhnya sedang dan akan mereka lakukan di panggung belakang sebagai kekuatan oposisi di negeri ini," kata Mikhael Bataona yang juga pengajar investigatif news dan jurnalisme konflik pada Fisip Unwira itu.

Sumber : Antara