New York Dukung Jakarta Terbitkan Obligasi Rp5,6 Triliun
New York mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah Rp5,6 triliun pada 2027 untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
Pengunjung beraktivitas di salah satu sudut Stadion Utama Gelora Bung Karno di Senayan, Jakarta, seusai menyaksikan laga Timnas Indonesia vs Islandia di Jakarta, Minggu (14/1). Stadion yang telah diresmikan Presiden Joko Widodo ini diterangi lampu berkekuatan 3.500 lux./JIBI-Dedi Gunawan
Harianjogja.com, JAKARTA--Sejak dibangun gelanggang olahraga bertaraf internasional menjelang Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962, Senayan menjadi satu kawasan penting di Jakarta.
Sarana berolahraga tersebut bernama Gelanggang Olahraga (Gelora) Soekarno, yang dibangun pada awal 1960-an atas bantuan Pemerintah Uni Soviet pada era Perdana Menteri Nikita Sergeiwitsj Kruschev.
Nama Senayan, satu kelurahan yang termasuk Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, semakin terkenal setelah di kawasan tersebut dibangun Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat/Dewan Perwakilan Rakyat (MPR/DPR).
Mengapa daerah itu diberi nama Senayan? Zaenuddin HM, menjelaskan dalam buku karyanya berjudul “212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe,” setebal 377 halaman yang diterbitkan Ufuk Press pada Oktober 2012.
Nama Senayan berasal dari keadaan wilayahnya pada masa lampau. Pada peta yang diterbitkan Topographische Bureau, Batavia pada 1902, kawasan Senayan masih ditulis Wangsanajan, atau Wangsanayan menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
Kata Wangsanayan berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik seseorang yang bernama Wangsanayan.
Sebutan Wangsanayan lambat laun berubah, karena masyarakat lebih mudah melafalkan atau mengucapkannya dengan kata Senayan.
Wangsanayan diyakini sebagai seseorang yang berasal dari Bali, berpangkat Letnan, yang lahir sekitar 1680-an, yang kemudian tinggal di Batavia.
Jadi, asal muasal nama Senayan sebetulnya dari nama orang tersebut hingga kini menjadi salah satu kawasan yang sangat terkenal di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
New York mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah Rp5,6 triliun pada 2027 untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
Film horor The Doll Ghawiah mengangkat mitos Boneka Uci di Bandung. Dibintangi Sara Wijayanto, Titi Kamal, dan Darius Sinathrya, tayang 29 Oktober 2026.
Indonesia akan menghadapi China pada final bulu tangkis beregu putra Asian Games 2026, Kamis (24/9). Simak hasil semifinal dan jadwal final.
Buku MUHI untuk Negeri merangkum sejarah 77 tahun SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta serta kiprah ratusan alumni lintas generasi.
Pendapatan transfer DIY dalam RAPBD Perubahan 2026 turun Rp583,77 miliar. Sultan HB X menegaskan program berdampak besar tetap menjadi prioritas.
Lansia asal Ngawen, Gunungkidul, tewas terbakar saat membakar sampah. Hingga September 2026 tercatat 154 kasus kebakaran.