Ini Fakta Baru di Sidang Kasus Pembobolan Toserba Luwes Sragen...

Aktivitas warga di depan Toserba Luwes Sragen di Jl. Raya Sukowati Sragen, Kamis (31/1/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
16 Mei 2019 13:17 WIB Moh Khodiq Duhri News Share :

Harianjogja.com, SRAGEN -- Kasus pembobolan brankas Toserba Luwes Sragen menyimpan detail cerita yang belum terungkap. Cerita itu mencuat saat proses persidangan kasus tersebut di Pengadilan Negeri (PN) Sragen, Senin (13/5/2019).

Dalam persidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa itu seperti dituturkan Kasi Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri (Kejari) Sragen, Wahyu Saputro, Rabu (15/5/2019), terungkap salah satu dari tiga terdakwa yakni Narwan Lusdiyanto, 38, sempat bersembunyi di game zone sebelum beraksi.

Warga Dusun Gebyog, Desa Karangmendem, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar, itu memilih bersembunyi di balik mobil-mobilan guna mengelabui petugas jaga game zone tersebut.

Pembobolan brankas Luwes Sragen pada akhir Januari lalu dilakukan Narwan bersama dua rekannya yakni Supriyanto, 35, warga Dagen, Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar, dan Risang Gilang Purboyo, 20, warga Dusun Jetis, Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar.

Dengan mengendarai dua sepeda motor, ketiganya tiba di Luwes Sragen pada Rabu, 30 Januari 2019 pukul 18.00 WIB. Sesampainya di depan Luwes, mereka memantau situasi sembari jajan es teh dan mi ayam.

Tapi pada saat itu mereka masih ragu karena salah satu terdakwa mengaku punya firasat tidak enak. Mereka akhirnya keluar dari Luwes menuju warung hik di kawasan terminal lama. "Di sana mereka makan dan mengatur siasat,” ucap Wahyu Saputro yang menjadi jaksa persidangan Senin lalu.

Wahyu melanjutkan selesai makan di warung hik, Narwan, Supriyanto, dan Risang kembali mendatangi bagian depan Luwes Sragen. Dua sepeda motor mereka parkir di depan BMT Tumang tepat di seberang jalan Luwes Sragen.

Kala itu, Narwan dan Risang bertugas masuk ke Luwes. Mereka masuk sekitar pukul 20.30 WIB atau 30 menit sebelum swalayan itu tutup. Narwan tidak berani membawa perlengkapan seperti bor, gergaji, dan lainnya yang sudah dipersiapkan dari rumah.

Ia khawatir jika membawa peralatan tersebut akan dicurigai petugas satpam. Narwan kemudian memilih bersembunyi di balik mobil-mobilan di game zone lantai II. Sementara Risang belum menemukan tempat persembunyian.

“Risang ini ragu. Dia baru kali pertama terlibat kasus pencurian sehingga masih minim pengalaman. Karena ragu, Risang akhirnya keluar untuk menemui Supriyanto di depan BMT Tumang,” terang Wahyu.

Setelah dua jam bersembunyi di balik mobil-mobilan, sekitar pukul 11.00 WIB, Narwan memberanikan diri keluar. Setelah memastikan situasi aman, Narwan mendatangi tempat penyimpanan brankas yang berada di lantai basement.

Selama hampir dua jam Narwan bolak-balik ke lantai II untuk mengambil peralatan yang tertata di etalase. “Pada pukul 02.00 WIB, dia sudah mendapatkan semua peralatan yang dibutuhkan. Untuk membobol brankas, dia dipandu Supriyanto melalui telepon. Sebagai produsen brankas, Supriyanto tahu seluk-beluk tempat penyimpanan uang itu. Baru pada pukul 03.30 WIB, brankas sudah bisa dijebol,” papar Wahyu.

Brankas yang dijebol tersebut berisi sekitar Rp2,2 miliar. Untuk menampung uang itu, Narwan mengambil lima tas yang masih baru. Salah satu di antaranya koper.

Belum puas dengan apa yang didapat, Narwan berniat membawa kabur satu unit sepeda motor yang terparkir di basement. Kebetulan, petugas jaga Luwes Sragen saat itu tertidur.

Hal itu memudahkan tiga kawanan maling itu membawa pergi lima tas berisi uang dan satu unit sepeda motor. “Narwan bisa keluar setelah menarik engsel pintu parkir basement. Mereka berangkat menuju Luwes membawa dua motor, tapi pulang membawa tiga motor dengan tas berisi banyak uang. Beberapa hari kemudian, Supriyanto ditangkap lebih dulu. Polisi menangkap Narwan di daerah Banjar, Jawa Barat, sementara Risang memilih menyerahkan diri di polsek dekat rumahnya,” ucap Wahyu.

Sumber : Solopos.com