Bima Seta dari Jogonalan Terpilih Jadi Sapi Kurban Presiden Prabowo
Sapi jumbo 977 kg asal Klaten terpilih jadi kurban Presiden 2026. Dipelihara peternak muda, lolos uji kesehatan dan siap disembelih.
Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F.Moeloek saat meresmikan pelayanan Pusat Jantung Terpadu (PJT) di RSUP Dr. Sardjito Jumat (15/3/2019)./IST
Harianjogja.com, JAKARTA - Kementerian kesehatan membeberkan hasil audit terhadap meninggalnya ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang baru-baru ini dilakukan.
Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek memaparkan hasil aduit medik kepada ratusan KPPS yang meninggal usai menyelenggarakan Pilpres 2019. Ia menjelaskan bahwa Dirjen Kesehatan Masyarakat langsung membuat surat edaran agar para penyelenggara Pemilu diperiksa setelah banyaknya kasus kematian.
"Kami terus menerus meminta mencatatkan pendataan sampai ke penyebab kematian atau sakit," kata Nila di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (14/5/2019).
Nila memaparkan, Kemenkes juga menggelar pertemuan dengan Ombudsman, Komnas HAM, IDI, dan FK UI pada 6 Mei 2019. Kala itu, sebanyak 485 orang penyelenggara Pemilu telah dinyatakan meninggal dunia dengan angka mereka yang sakit sebanyam 10.997 petugas.
"Karena itu kami memberi perhatian bagi yang sakit," terangnya.
Kemenkes juga melakukan audit medik kepada para korban. Audit itu dilakukan dengan mencari tahu penyebab kematian berdasarkan rekam medis dari rumah sakit.
"Kematian yang terjadi di rumah sakit sendiri sebesar 39 persen, kita lakukan audit medik. Dari yang sakit, sudah terkumpul data dari 25 provinsi. Terbanyak kesakitan terbanyak di Jakarta dan Banten," sambungnya.
"Kemudian kematian, terbanyak ada di Jawa Barat, diikuti oleh Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tidak ada kematian di Maluku Utara," tambahnya.
Nila menerangkan, kematian kepada petugas KPPS paling banyak berasal dari kelompok 50 tahun ke atas. Bahkan, kata dia, adanya petugas KPPS yang telah berusia 70 tahun.
"54 persen berusia di atas 50 tahun. Bahkan ada yang berusia 70 tahun. Jadi artinya memang yang meninggal kebanyakan usia tua," ungkap Menkes.
Menurut dia, saat ini tercatat 51% kematian petugas KPPS ini disebabkan oleh penyakit kardiovaskular atau jantung, termasuk di dalamnya ada stroke, dan infat atau sudden death.
"Kalau ditambah dengan hipertensi, yaitu 53 persen. Jadi hipertensi ini yang emergency juga bisa menyebabkan kematian. Kita masukkan ke dalam kardiovaskuler," jelasnya.
Selain itu, sambung dia, angka kematian tertinggi juga disebabkan oleh gagal pernafasan atau respiratori, kemudian bisa disebabkan asma.
"Ketiga disebabkan kecelakaan sebesar 9 persen. Ada gagal ginjal, diabetes melitus dan penyakit liver. Jadi dalam hal ini, data yang masuk memang belum total. Kami tetap mendorong agar kepala dinas kesehatan mengumpulkan data tersebut. Ini yang disebut audit medik," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Sapi jumbo 977 kg asal Klaten terpilih jadi kurban Presiden 2026. Dipelihara peternak muda, lolos uji kesehatan dan siap disembelih.
Taeyang BIGBANG merilis album Quintessence setelah 9 tahun, berisi 10 lagu dan kolaborasi global lintas musisi.
xAI meluncurkan Grok Build, AI coding berbasis terminal untuk saingi Claude Code dengan fitur plan mode dan sub-agent.
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Grand Rohan Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka Senin (18/5)
Dua wakil Indonesia lolos ke babak utama Malaysia Masters 2026, drama kualifikasi warnai hasil di Axiata Arena Kuala Lumpur.