Tarif Dinilai Tinggi, Kesejahteraan Mitra Ojol Bisa Terganggu

Ilustrasi. - Solopos/Nicolous Irawan
04 Mei 2019 12:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dampak penetapan tarif ojek onlie (ojol), mengikuti Kepmen Perhubungan No. 348/2019 yang berlaku beberapa hari yang lalu, dinilai dapat mengganggu kesejahteraan para driver mitra perusahaan penyedia layanan transportasi berbasis aplikasi tersebut.

Menurut Ketua Tim Peneliti Reasearch Institute of Socio-Economic Development (RiSED) Rumaya Batubara, hal itu disebabkan karena angka tarif yang ditetapkan pemerintah masih dinilai tinggi dan berpotensi menurunan permintaan konsumen terhadap layanan ojol.

“Kesimpulannya, saya khawatir kebijakan kenaikan tarif ini justru tidak akan diikuti oleh peningkatan kesejahteraan pengemudi, malah justru menggerus pendapatan pengemudi itu sendiri,” kata dia, Sabtu (4/5/2019).

Konsumen, papar Rumaya, dari hasil penelitian RiSED, hampir 72% diantaranya menyatakan bakal meninggalkan ojek online, karena mereka keberatan dengan pengeluaran yang lebih dari Rp 5.000 per hari akibat kenaikan tarif ojol.

Sementara itu, Pakar Ekonomi DIY sekaligus Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta Edi Suandi Hamid menilai, aturan pemerintah itu harus dilihat dari sisi pengaruhnya. Apabila aturan tersebut bisa mendatangkan insentif untuk semua pihak, menurut dia, ketentuan itu harus dilanjutkan.

“Kalau bikin tarif lebih mahal hanya untuk mlindungi pengojek, itu justru bisa sebaliknya. Karena kalau terlalu mahal, pengguna jasa ojek online akan menurun. Bukan berarti tarif meningkat pendapatan akan meningkat, tidak akan selaku begitu,” papar dia.

Terhitung sejak 1 Mei 2019, pemerintah memberlakukan ketetapan tarif ojol baru. Implementasi tarif baru tersebut bagi sebagian warga ditanggapi negatif. Keluhan tersebut sebagian besar disampaikan melalui media online, cetak, maupun media social media.

Salah satunya pembicaraan yang tertangkap dari cuitan akun twitter @nisaknisot, “Per 1 Mei 2019, Grab dan Gojek ada tarif baru, sekali berangkat kantor 10 rb PP Rp20rb, x sebulan= Kerjaku berat diongkos.”

Lain halnya dengan akun twitter @rkivehigh,” gila gila tarif gojek sm grab naik banget jadi super mahal WKWKWKW gak akan tiap hari pake deh.”

Kemudian akun @Bay996BM menulis keluhannya,” Tarif Grab Sama Gojek Naik Per 1 Mei 2019, biasanya dari stasiun ke kantor 7 ribu tapi ini harus bayar 10 ribu, kami Rakyat Kecil Menangis, muai berfikir pake trans Jakarta lagi ini.”

Kontibusi Ojol Signifikan

Sementara itu, dari Jogja dilaporkan, dari sisi kinerja, kontribusi aktivitas ekonomi layanan ojek online ini saat ini dinilai sangat signifikan. Salah satunya seperti yang dilaporkan Lembaga Demografi FEB UI tentang dampak positif operasional Gojek di DIY.

Menurut Wakil Kepala Lembaga Demografi FEB UI Paksi C.K. Walandouw, kontribusi mitra Gojek terhadap perekonomian DIY sepanjang 2018 mencapai Rp2,5 triliun. Kontribusi itu berasal dari mitra empat layanan Gojek meliputi layanan ojol Go-Ride, Go-Car, Go-Food, dan Go-Life. Bahkan secara nasional kontribusi layanan Gojek mencapai Rp44,2 triliun.

Dalam pada itu, pendapatan driver mitra Gojek sepanjang 2018 lalu, rata rata mencapai Rp4 juta atau 2,3 kali upah minimum provinsi DIY yang sebesar Rp1,7 juta.

“Tidak hanya kontribusi secara ekonomi, penelitian ini juga menunjukkan bahwa tiga manfaat utama yang dirasakan sebagai mitra pengemudi Gojek. Mereka bisa mengatur waktu kerja, bisa membiayai keluarga, dan memiliki waktu lebih bersama keluarga,” terang Paksi.

Dengan kondisi seperti itu, menurut Edi, sangat wajar bila mitra ojek online tumbuh subur di Jogja. “Saya kira positif kalau di atas UMR. Itu tidak mengherankan karena nyatanya itu tumbuh subur. Ibarat ada gula ada semut. Ketika ada peluang berusaha dengan memberikan pendapatan yang memadai, orang akan datang tanpa perlu diundang dan itu terjadi pada ojek online,” jelas dia.