Mensos Prioritaskan Keselamatan Warga Pascagempa
Kemensos menyalurkan bantuan Rp4,52 miliar untuk korban gempa M 7,7 di NTT. Sebanyak 38 orang meninggal dan sekitar 2.000 warga terdampak.
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri), Ketua KPU Arief Budiman (tengah) dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sebelum mengikuti debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3/2019). /Bisnis-Nurul Hidayat
Harianjogja.com, JAKARTA-- Dua calon presiden yang akan berkompetisi dalam Pemilu 2019, Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto, memiliki pendekatan berbeda mengenai politik luar negeri. Hal itu diungkapkan Ketua Departemen Hubungan Internasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Shafiah Muhibat.
“Kalau boleh saya simpulkan, capres 01 (Jokowi) mengedepankan diplomasi sedangkan capres 02 (Prabowo) lebih memajukan isu-isu pertahanan dan militer,” kata Shafiah dalam "Forum Diskusi Seri Pemilu 2019” yang diselenggarakan CSIS di Jakarta, Senin (1/4/2019).
Dalam debat capres keempat yang salah satu topiknya adalah hubungan internasional, Sabtu (30/3/2019) lalu, Capres Nomor Urut 01 Jokowi menyoroti mengenai pentingnya diplomasi untuk menjalin hubungan dengan negara lain, terutama dalam bidang perdagangan dan investasi.
Pendekatan yang dipaparkan Jokowi, menurut Shafiah, sangat berbeda dibandingkan pandangannya mengenai kebijakan luar negeri saat Pemilu 2014 yang lebih mengemukakan pendekatan geopolitik.
"Kalau kita ingat debat lima tahun lalu, banyak ide-ide terkait maritim yang disampaikan Jokowi, sedangkan dalam debat dua hari lalu sangat minim referensi mengenai ide-ide awal beliau mengenai maritim,” tutur dia.
Sementara Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto, dinilai lebih melihat kebijakan luar negeri dari pendekatan militer, sehingga teritori menjadi isu yang sangat penting.
Menurut Shafiah, Prabowo melihat kebijakan luar negeri seharusnya dilakukan semaksimal mungkin untuk bisa mempertahankan keutuhan wilayah Indonesia.
“Berarti sifatnya melihat hubungan kita dengan negara lain bukan memajukan sifat-sifat kooperatif, tetapi bagaimana menjaga teritori Indonesia supaya tidak ada serangan atau ancaman dari negara lain,” ujar dia.
Doktor lulusan Ilmu Politik Universitas Hamburg, Jerman, itu tidak bisa menentukan pendekatan mana yang lebih baik diantara dua calon, mengingat perbedaan pandangan mengenai kebijakan luar negeri lumrah dimiliki oleh berbagai negara di dunia.
Namun, Shafiah memprediksi kebijakan politik luar negeri Indonesia tetap akan berlandaskan prinsip bebas aktif, yang pertama kali dikemukakan oleh Mohammad Hatta pada 2 September 1948.
Bebas aktif mengacu pada kebijakan yang dirancang untuk melayani kepentingan nasional dan secara bersamaan memungkinkan Indonesia untuk bekerjasama dengan negara-negara lain, serta berkontribusi pada perdamaian dan keadilan sosial dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kemensos menyalurkan bantuan Rp4,52 miliar untuk korban gempa M 7,7 di NTT. Sebanyak 38 orang meninggal dan sekitar 2.000 warga terdampak.
Uni Eropa menawarkan satelit Copernicus untuk membantu pencarian korban gempa NTT M7,7 yang menewaskan 47 orang.
Prabowo paling sering menyebut kata Indonesia dalam pidato kenegaraan 2026, disusul rakyat, tahun, anak, sekolah, hingga BUMN.
Gempa 7,7 SR di Flores NTT menewaskan 38 orang. Pemerintah kirim 50.000 paket sembako dan kerahkan TNI untuk evakuasi korban.
Karhutla di TNBTS mulai terkendali. Api aktif sudah tidak ditemukan, tetapi petugas masih melakukan pendinginan untuk mencegah bara kembali menyala.
Pemkab Gunungkidul mengukuhkan 72 anggota Paskibraka dari 22 sekolah untuk bertugas dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI.