SOSOK: Rita Indriana, Rangkul Difabel Membuat Alat Permainan Edukatif

Rita dan alat permainan edukatif Anak Bangsa Cerdas ABC Toys - ist
10 Maret 2019 09:35 WIB Lajeng Padmaratri News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Minimnya lapangan kerja bagi kalangan disabilitas membuat Rita Indriana tergerak untuk memberikan kesempatan untuk membuktikan kemampuan mereka. Bersama suaminya ia kemudian mendirikan usaha pembuatan alat permainan edukatif lalu merekrut beberapa alumni sekolah luar biasa (SLB) untuk menjadi karyawan.

Sekitar 2003, Rita harus menunggui anaknya yang sakit ketika dirawat di salah satu rumah sakit di Yogyakarta. Mengantisipasi anak-anak yang bisa rewel sewaktu-waktu, rumah sakit tersebut meminjamkan mainan edukatif berbahan kayu kepada anak-anak.

Menurut dia wooden toys yang dipinjamkan saat itu memiliki kualitas yang sangat bagus bagi sebuah mainan anak-anak. Bahannya yang tergolong aman bagi anak-anak itu didukung dengan tepiannya yang tumpul dan desain yang menarik. Rupanya, wooden toys itu berasal dari Belanda.

Di Indonesia, ada pula produsen wooden toys dengan kualitas bersaing. Sayangnya, produk dalam negeri itu justru diekspor ke luar negeri. Rita yang saat itu memiliki dua anak perempuan berusia tiga dan satu tahun akhirnya tergerak untuk membuat sendiri permainan edukatif yang ia beri label Anak Bangsa Cerdas.

Didukung oleh suaminya yang merupakan seorang guru di SLB Negeri 1 Bantul, Rita mulai tergerak untuk sekaligus membantu kalangan disabilitas dengan memberi mereka kesempatan kerja.

Mulanya, tak mudah bagi Rita untuk mengajak difabel untuk ikut bekerja dengannya. Sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan kalangan disabilitas membuatnya cukup kesulitan memahami cara mereka bekerja.

“Di sini kan menerima tunagrahita, tunarungu, dan tunawicara. Awalnya saya kira mereka semua kemampuannya relatif sama, ternyata beda. Pernah saya minta yang tunagrahita untuk menata mainan puzzle berdasarkan warna, tapi hasilnya lama sekali nggak selesai-selesai. Akhirnya saya marahi,” katanya sembari mengingat kenangan masa lalu tentang perkenalannya dengan disabilitas.

“Begitu saya marahi, saya malah dimarahi balik sama suami saya. Suami saya bilang, ya itu salah saya kalau memberikan tugas menata puzzle warna pada tunagrahita. Harusnya yang disuruh itu yang tunawicara atau tunarungu, karena memang kemampuannya beda. Bisa ditukar dulu, misal yang tunagrahita nggraji atau ngamplas dulu,” jelas Rita.

Sejak awal, Rita memberdayakan tiga difabel untuk tim produksi mainan edukatif Anak Bangsa Cerdas. Berjalan lebih dari lima belas tahun hingga kini, dirinya sudah memberdayakan total tujuh difabel untuk mencicipi lapangan pekerjaan sesuai kemampuan mereka.

Misinya ialah menciptakan lapangan pekerjaan bagi difabel yang setara dengan pekerja normal, yaitu masing-masing sebanyak 50%. Meski begitu, rupanya kini porsi pekerja difabelnya justru melebihi pekerja normal. “Sekarang itu justru lima orang difabel dan empat orang normal,” ujarnya.

Sejumlah lima orang difabel yang terdiri dari dua orang tunarungu dan tiga orang tunagrahita itu kini bekerja sebagai tim produksi. Sedangkan, empat orang lainnya yang tergolong normal ia beri tugas sebagai tim pemasaran.

“Kalau dengan tunarungu atau tunawicara, ya komunikasinya pakai Whatsapp atau tulisan. Kalau yang tunagrahita bisa langsung, tapi harus step by step,” jelas Rita.

Upaya lebih ia kerahkan untuk melatih tunagrahita. Karena kemampuan kognitif mereka yang terbatas, dirinya secara perlahan memberi instruksi tunagrahita untuk melakukan sesuatu secara satu per satu. Rita mencontohkan, mulanya ia akan menyuruh pekerja tunagrahita untuk mengamplas kayu. Selepas mereka selesai, ia akan meminta mereka untuk melanjutkan mengecat. Selesai dicat, baru diminta untuk merapikan.

“Harus sepenggal-sepenggal gitu. Kalau langsung saya suruh ngamplas, ngecat, terus merapikan ya enggak bisa. Mereka lupa nanti,” kata dia.

Dilatih dengan Sabar

Meski memiliki keterbatasan, tetapi Rita meyakini jika mereka dilatih dengan sabar maka akan memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan orang normal.  “Mereka ini malah saya lihat cenderung lebih teliti, bisa tekun gitu kerjanya. Ini yang ngamplas mereka lho, bisa rapi gini,” ujar Rita sembari menunjukkan beberapa permainan edukatif karya para difabel tersebut yang kini sudah berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI).

Standar permainan edukatif yang aman bagi anak-anak salah satunya tidak memiliki tepian yang runcing. Tepian-tepian puzzle game, miniatur jam, rumah, hingga rangkaian gerbong kereta mini dibentuk sedemikian rupa oleh para difabel menghasilkan alat permainan edukatif yang tak hanya menarik, tetapi yang terpenting juga aman bagi anak-anak.

Misi yang kuat untuk memberdayakan difabel memaksa Rita untuk beradaptasi, juga tak lupa diajaknya karyawan lain yang memiliki kondisi normal untuk turut beradaptasi. Namun, ia tidak merasa hal tersebut sebagai sebuah kendala. Meski sudah belasan tahun, namun bagi Rita sampai saat ini ia masih terus belajar cara memahami anak difabel. Baginya kuncinya hanya satu, yaitu kesabaran.

“Karena sudah misi dari awal ingin menciptakan lapangan pekerjaan buat anak difabel, ya saya harus memahami dia. Asal hati kita bisa masuk ke dunianya dia, ya pasti kita bisa,” kata Rita.