Vandalisme: Antara Iseng & Eksistensi

Petugas Museum Benteng Vredeburg memberishkan cat yang menempel akibat aksi vandalisme pada dinding relief Monumen Serangan Oemoem 1 Maret di kawasan Titik Nol Kilometer, Jogja, Rabu (20/2/2019).-Harian Jogja - Desi Suryanto
03 Maret 2019 13:05 WIB Salsabila Annisa Azmi & Lajeng Padmaratri News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Vandalisme yang menyasar relief Monumen Serangan Oemoem (SO) 1 Maret bikin resah seniman mural dan grafiti. Iseng dan upaya menunjukkan eksistensi di ruang publik ditengarai menjadi motivasi para vandal.

Relief-relief pahlawan di Monumen SO 1 Maret kotor oleh tangan-tangan jahil pada pertengahan Februari lalu. Pelakunya sampai sekarang belum diketahui. Ulah mereka tak hanya merusak pemandangan, tetapi juga merugikan seniman mural.

Yehezkiel Cyndo, 30, yang sudah kena getahnya. Cyndo kerap ditanyai orang awam yang melintas di depannya saat mengerjakan proyek mural.

“Mereka kerap kali bertanya apakah saya juga orang yang sering ngorak-orek ning pinggir dalan [mencoret-coret di pinggir jalan]. Tidak berdampak negatif sih, tapi itu contoh bahwa aksi vandalisme benar-benar bisa memberi paradigma yang kurang tepat untuk seniman grafiti atau mural,” kata Cyndo.

Mural adalah seni melukis di dinding ruang-ruang publik dan ini jelas berbeda dengan coretan para vandal yang terlihat tak berarturan.

Menurut Cyndo, vandalisme seperti di Monumen SO 1 Maret adalah bentuk tagging atau membubuhkan inisial maupun tanda eksistensi sebuah kelompok. Vandal murni bertujuan merusak atau mengotori objek bersejarah tanpa menambahkan unsur seni. 

“Untuk hal seperti ini si pelaku benar-benar layak untuk diberi hukuman bila ada pasal yang mengaturnya,” kata Cyndo.

Cyndo bersama komunitasnya tak bisa diam saja. Dia lebih sepakat untuk mengadakan beberapa penyuluhan, perbincangan di komunitas maupun unit pendidikan untuk memberikan pemahaman tentang mendesain dan mengekspresikan gagasan.

Keresahan serupa juga dirasakan Rise, 24, yang sudah 10 tahun menggeluti grafiti, seni melukis dengan huruf di dinding. Ia dan komunitas bernama Bad Face Crowter berusaha tidak merusak ruang-ruang bersejarah ketika menuangkan karya. Apalagi, Rise melihat sudah ada beberapa tempat di Jogja yang dijadikan spot khusus grafiti.

“Orang yang ingin menuangkan karyanya harus tahu tempat,” ujar dia.

Dia mengharapkan pemerintah semakin memperbanyak tempat-tempat khusus untuk para seniman grafiti berekspresi. “Sekarang sudah ada beberapa tempat, tetapi belum banyak. Saya lupa sejak kapan bermulanya, tetapi pemerintah mulai sadar untuk melegalkan spot grafiti. Ya, diperbanyak saja.”

Masalah Pendidikan

Inisiator Reresik Sampah Visual dan Dosen Komunikasi Visual FSR Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Sumbo Tinarbuko mengatakan vandalisme dengan merusak ruang publik demi eksistensi tak lepas dari tekanan dalam sistem pendidikan. Menurut Sumbo, stres yang timbul juga karena kurikulum pendidikan saat ini tidak memberi ruang untuk anak-anak yang memiliki minat di bidang seni.

“Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan saat ini pada praktiknya hanya berfungsi sebagai lembaga pengajaran untuk transfer pengetahuan. Padahal lembaga pendidikan itu seharusnya tidak hanya memberi materi mata pelajaran dengan target nilai. Harus ada komunikasi. Guru memosisikan sebagai orang tua, pembimbing, pembombong, dan pemomong,” kata Sumbo.

Sumbo mengatakan jarang sekali guru yang memosisikan diri sebagai pendidik. Mereka hanya menjalankan tugas mengajar. Hal tersebut tak lepas dari beban administrasi mereka yang cukup besar. Ditambah lagi kebutuhan mereka yang semakin besar. Beban tersebut menyebabkan mereka abai menyediakan ruang berkarya seni kepada para siswanya.

Kondisi tersebut diperparah dengan stigma yang menganggap anak dengan bakat seni sebagai murid kurang pintar.

“Selama ini anak pintar hanyalah anak yang pandai dalam bidang sains dan matematika. Kebutuhan khusus ekspresi seni tidak dapat ruang. Mereka yang memiliki bakat di bidang seni mencari ruang eksistensi di luar, salah satunya vandalisme,” ujar Sumbo.

Menurut dia, para vandal melakukan aksinya setelah ujian atau jelang kenaikan kelas ketika banyak waktu luang yang biasanya diisi dengan class meeting. Class meeting tersebut mayoritas terasa membosankan bagi para siswa. Beberapa siswa akhirnya melampiaskan kebosanan dengan vandalisme.

“Lagi-lagi ini soal guru yang kurang kreativitasnya.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Soeprapto, menilai vandalisme memiliki beragam motif, mulai dari iseng hingga adu eksistensi. “Ada yang iseng melakukan itu dan ketika dia tahu ada orang lain yang kesal terhadap perilakunya, dia akan merasa puas. Keisengan itu biasanya muncul karena seseorang terlebih dahulu merasa kesal terhadap sesuatu, bisa terhadap orang tuanya atau lingkungannya,” ucap Soeprapto.

Soeprapto juga melihat aksi vandalisme menjadi upaya merekrut anak-anak baru dalam kelompok tertentu.

“Salah satunya dengan keberanian dia mencoret-coret di tempat-tempat yang dekat dengan pos keamanan.” Dengan kata lain seseorang yang berani melakukan vandalisme di tempat yang dilindungi akan dipandang lebih tinggi kelasnya.

Dosen Fisipol UGM ini menyebutkan vandal umumnya berasal dari lingkungan keluarga yang kurang lancar dalam sosialisasi budaya, nilai, dan norma. “Ketika anak sudah telanjur dapat sosialisasi dari kelompok pertemanan, peer group, atau masyarakat, lalu orang tua baru memberi tahu bahwa itu salah, itu berarti sudah terlambat. Tetapi kalau dari awal keluarga itu menjalankan fungsi pendidikan, anak sudah tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” ucap dia.