Advertisement
Polisi Filipina Belum Rilis Bukti Keterlibatan Pasutri Indonesia dalam Bom Gereja
Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri RI Lalu Muhammad Iqbal (kedua kanan) bersama Duta Besar RI untuk Filipina Sinyo Sinyo Harry Sarundajang (ketiga kanan) memberikan keterangan pers terkait pembebasan dan penyerahan kembali tiga WNI yang sebelumnya disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina selatan, Jakarta, Rabu (19/9/2018). - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA - Duta Besar Indonesia untuk Filipina Sinyo Harry Harundjang menyatakan Kepolisian Nasional Filipina (PNP) belum merilis bukti yang menguatkan dugaan keterlibatan pasangan suami istri (pasutri) asal Indonesia dalam serangan bom bunuh diri di Gereja Katedral Our Lady of Mt. Carmel pada Minggu (27/1/2019).
"Otoritas setempat belum mengeluarkan hasil uji DNA serta gambar resmi hasil rekaman CCTV di lokasi ledakan, yang menyatakan bahwa kedua pelaku adalah WNI sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Dalam Negeri Ano," kata Harry dalam keterangan resmi yang diterima Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Selasa (5/2/2019).
Advertisement
Dugaan keterlibatan WNI dalam aksi bom bunuh diri yang menewaskan 22 orang itu berawal dari pernyataan Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano beberapa waktu lalu.
Dalam suatu pernyataan resmi yang dikutip media lokal pada Jumat (1/2/2019), Ano mengungkapkan keyakinannya bahwa pelaku bom bunuh diri Gereja Katedral Our Lady of Mt. Carmel adalah sepasang suami istri yang berasal dari Indonesia. Ia mengidentifikasi pria pelaku ledakan itu sebagai Abu Huda tanpa menyebutkan nama istrinya.
Ano memaparkan bahwa kedua WNI tersebut dibimbing oleh kelompok Abu Sayyaf dan melancarkan serangan untuk menginspirasi teroris lokal.
Kendati telah menyampaikan informasi tersebut, hasil penelusuran KBRI Manila dan KJRI Davao menyebutkan bahwa pihak intelijen Filipina (NICA) justru belum mengetahui dasar penyampaian informasi yang diberikan oleh Menteri Ano terkait keterlibatan WNI dalam aksi bom bunuh diri itu.
Berdasarkan catatan KBRI Manila, ini bukan kali pertama pejabat Filipina menyampaikan keterlibatan WNI dalam aksi teror tanpa memberikan bukti dan hasil investigasi terlebih dahulu.
Tuduhan keterlibatan WNI pernah disampaikan pada saat peledakan bom di Kota Lamitan, Provinsi Basilan pada 31 Juli 2018. Tak hanya itu, otoritas Filipina kembali menyebut keterlibatan WNI atas nama Abdulrahid Ruhmisanti dalam aksi ledakan bom jelang tahun baru 2019.
"Meski demikian, hasil investigasi menunjukkan tidak ada keterlibatan WNI dalam dua pengeboman tersebut sebagaimana pernyataan aparat dan pemberitaan-pemberitaan media," kata Harry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesis
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Arus Balik, Rest Area Tol Cipali Diberlakukan Sistem Buka-Tutup
- Resmi, One Way Nasional Arus Balik Lebaran 2026 Berlaku Mulai Hari Ini
- Puncak Arus Balik 2026: Rest Area KM 62B dan 52B Tol Japek Ditutup
- Lonjakan Kendaraan Arus Balik, Rest Area di Tol Ini Ditutup
- Listrik Kuba Kembali Padam Saat Tekanan Krisis Energi Meningkat
Advertisement
Libur Lebaran 2026, Kunjungan Wisatawan ke Kaliurang dan Breksi Naik
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Arus Balik di Pelabuhan Bakauheni Mulai Ramai, Naik 45 Persen
- Arsenal Diterpa Cedera, Pemain Inti Menepi dari Timnas
- Arus Balik Naik, Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Dibuka Hingga Malam
- Empat Suplemen Alami Bantu Turunkan Kolesterol Jahat
- Harga Emas Hari Ini, UBS dan Galeri24 Anjlok, Antam Stabil
- Lonjakan Arus Balik, Akses ke GT Purwomartani Dipadati Kendaraan
- Arus Balik di Pati Terkendali, Polisi Intensif Patroli
Advertisement
Advertisement







