Advertisement
Ini Ciri-Ciri Strategi Firehose of Falsehood
Petugas melakukan pengecekan kualitas surat suara Pilpres 2019 saat pencetakan surat suara di Jakarta, Minggu (20/1/2019). - ANTARA/Muhammad Adimaja
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA - Ucapan Joko Widodo (Jokowi) tentang propaganda ala Rusia memancing perdebatan. Istilah itu dipakai Jokowi untuk menyebut cara-cara kotor dengan menyebar kebohongan untuk membingungkan publik.
Ace Hasan Syadzil, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Kyai Ma’ruf, menuturkan Jokowi sering terkena semburan fitnah, hoaks dan ujaran kebecian yang menuduhnya antek asing.
Advertisement
Fitnah itu mulai soal membuka ekonomi Indonesia terhadap serbuan korporasi global, menjadi boneka China sampai dengan serbuan TKA China.
“Semburan hoaxlks ini by design untuk membangun framing negara kita sudah dikuasai asing, hilang kedaulatan, dan juga pada ambang kebangkrutan,” kata Ace dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/2/2019).
Cara tersebut mirip dengan strategi firehose of falsehood yang digunakan dalam Pilpres AS dan Brasil. Strategi itu yang disebut oleh media-media AS sebagai propaganda Rusia.
Di AS, Donald Trump menggunakan model proganda dan mengangkat tema Make America Great Again. Tema yang sama juga berkali kali digunakan oleh capres Prabowo dengan gunakan propaganda yang sama Make Indonesia Great Again.
Kemiripan ini bukan kebetulan, ada indikasi untuk mejiplak propaganda Trump untuk digunakan di Indonesia. Propoganda firehose of falsehood memiliki ciri:
Pertama, berusaha mendapatkan perhatian media dengan pernyataan dan tindakan yang konyol dan mengundang kontroversi.
Kedua, melemparkan pernyataan-pernyataan yang bentuknya partial truth (kebenaran parsial), misleading claim (klaim yang tidak tepat) dan bahkan bohong. Tujuannya menghilangkan kepercayaan pada data objektif dan merusak kredibilitas sumber data.
Ketiga, pernyataan itu dikeluarkan secara berulang-ulang dan terus menerus sehingga menjangkau banyak orang.
Keempat, menuduh lawan politik melakukan kebohongan.
Kelima, menyentuh sisi-sisi sentimen alias emosional dengan menebar kebecian, keterancaman dan ketakutan untuk membuat masyarakat bersikap konservatif.
Dengan membongkar strategi propaganda ini, menurut Ace, Jokowi mengingatkan rakyat agar tidak tertipu oleh model propaganda seperti itu. Selain itu, Jokowi memberi peringatan terhadap bahaya penggunaan propaganda seperti ini karena bisa memecah belah dan mengadu domba rakyat.
“Sangat besar ongkos yang dipertaruhkan jika elite politik untuk kepentingan pragmatisme politik menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan,”ujar Ace.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- IAEA Kecam Serangan Dekat PLTN Iran, Peringatkan Risiko Nuklir
- Serangan AS-Israel Tewaskan 5 Tentara Iran di Ardabil
- Hari Terakhir Pendaftaran! Cek Link Rekrutmen TPM P3TGAI 2026 Kemen PU
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
Advertisement
TKA SMP Digelar 8-9 April, Disdik Gunungkidul Jamin Kesiapan
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
- Event Jogja April: Malam Ini, Guyon Waton dan NDX di Kridosono
- Viral Meteor Langit di Lampung, Ini Fakta Sebenarnya
- Sultan HB X Minta Pengusutan Gugurnya Tiga Prajurit TNI
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, Minggu 5 April 2026
- Lengkap! Jadwal Misa Paskah 2026 di Jogja, Sleman dan Bantul
- Tiket Pesawat Dibatalkan? Begini Cara Refund Uangnya
- Korban Luka di UEA Tembus 217, WN Rusia Ikut Terdampak
Advertisement
Advertisement







