Advertisement

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Pangan Dunia, RI Waspada

Rika Anggraeni
Minggu, 05 April 2026 - 23:17 WIB
Abdul Hamied Razak
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Pangan Dunia, RI Waspada Petani mencabut benih untuk ditanam. - ilustrasi - Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — Lonjakan harga pangan global mulai terasa pada Maret 2026 seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini berpotensi menekan stabilitas harga pangan di dalam negeri, terutama untuk komoditas yang masih bergantung pada impor.

Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menunjukkan Indeks Harga Pangan global mencapai 128,5 poin atau naik 2,4% secara bulanan. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya biaya energi serta terganggunya jalur distribusi logistik internasional.

Advertisement

Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, mengingatkan risiko yang lebih besar apabila konflik berlangsung berkepanjangan. Ia menyebut durasi konflik lebih dari 40 hari dapat memicu krisis pada sektor pertanian global, terutama terkait biaya input produksi.

“Petani bisa menghadapi dilema, antara mengurangi penggunaan pupuk atau memperkecil luas tanam,” ujarnya.

Dampak Mulai Terasa di Indonesia

Pengamat dari Center of Reform on Economics Indonesia, Eliza Mardian, menilai dampak gangguan rantai pasok global akan dirasakan secara bertahap di Indonesia.

Meski stok beras relatif aman karena ditopang produksi dalam negeri, tekanan harga diperkirakan muncul pada komoditas impor seperti gandum, kedelai, dan gula.

Indonesia sendiri masih bergantung penuh pada impor gandum dengan kebutuhan yang diproyeksikan mencapai 11,2 juta ton pada 2026. Sementara itu, impor kedelai berada di kisaran 2,4–2,6 juta ton per tahun, dengan 80%–90% kebutuhan industri tahu dan tempe berasal dari pasar global, terutama dari kawasan Amerika.

Efek Domino ke Sektor Lain

Menurut Eliza, gejolak geopolitik akan memperpanjang rantai distribusi sekaligus meningkatkan biaya pengiriman akibat lonjakan harga energi dunia. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada bahan pangan utama, tetapi juga merembet ke sektor peternakan.

Kenaikan harga bahan baku pakan seperti jagung dan gandum berpotensi mendorong kenaikan harga daging ayam dan telur di tingkat konsumen.

Selain itu, risiko pembatasan ekspor oleh negara produsen juga menjadi perhatian. Dalam situasi krisis global, negara pemasok cenderung mengamankan kebutuhan domestik mereka lebih dulu.

“Indonesia menghadapi tekanan ganda, mulai dari gangguan produksi akibat faktor iklim hingga ketidakpastian pasokan global,” jelasnya.

Perlu Langkah Antisipasi

Pemerintah didorong untuk segera memperkuat cadangan pangan nasional serta mencari alternatif sumber impor di luar kawasan konflik. Langkah ini dinilai penting untuk menahan laju inflasi pangan, terutama pada paruh kedua 2026.

Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi, strategi mitigasi menjadi kunci agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan stabilitas ekonomi nasional tidak terganggu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

TKA SMP Digelar 8-9 April, Disdik Gunungkidul Jamin Kesiapan

TKA SMP Digelar 8-9 April, Disdik Gunungkidul Jamin Kesiapan

Gunungkidul
| Minggu, 05 April 2026, 23:37 WIB

Advertisement

Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis

Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis

Wisata
| Minggu, 05 April 2026, 21:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement