Advertisement
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Pangan Dunia, RI Waspada
Petani mencabut benih untuk ditanam. - ilustrasi - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Lonjakan harga pangan global mulai terasa pada Maret 2026 seiring memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini berpotensi menekan stabilitas harga pangan di dalam negeri, terutama untuk komoditas yang masih bergantung pada impor.
Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menunjukkan Indeks Harga Pangan global mencapai 128,5 poin atau naik 2,4% secara bulanan. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya biaya energi serta terganggunya jalur distribusi logistik internasional.
Advertisement
Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, mengingatkan risiko yang lebih besar apabila konflik berlangsung berkepanjangan. Ia menyebut durasi konflik lebih dari 40 hari dapat memicu krisis pada sektor pertanian global, terutama terkait biaya input produksi.
“Petani bisa menghadapi dilema, antara mengurangi penggunaan pupuk atau memperkecil luas tanam,” ujarnya.
BACA JUGA
Dampak Mulai Terasa di Indonesia
Pengamat dari Center of Reform on Economics Indonesia, Eliza Mardian, menilai dampak gangguan rantai pasok global akan dirasakan secara bertahap di Indonesia.
Meski stok beras relatif aman karena ditopang produksi dalam negeri, tekanan harga diperkirakan muncul pada komoditas impor seperti gandum, kedelai, dan gula.
Indonesia sendiri masih bergantung penuh pada impor gandum dengan kebutuhan yang diproyeksikan mencapai 11,2 juta ton pada 2026. Sementara itu, impor kedelai berada di kisaran 2,4–2,6 juta ton per tahun, dengan 80%–90% kebutuhan industri tahu dan tempe berasal dari pasar global, terutama dari kawasan Amerika.
Efek Domino ke Sektor Lain
Menurut Eliza, gejolak geopolitik akan memperpanjang rantai distribusi sekaligus meningkatkan biaya pengiriman akibat lonjakan harga energi dunia. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada bahan pangan utama, tetapi juga merembet ke sektor peternakan.
Kenaikan harga bahan baku pakan seperti jagung dan gandum berpotensi mendorong kenaikan harga daging ayam dan telur di tingkat konsumen.
Selain itu, risiko pembatasan ekspor oleh negara produsen juga menjadi perhatian. Dalam situasi krisis global, negara pemasok cenderung mengamankan kebutuhan domestik mereka lebih dulu.
“Indonesia menghadapi tekanan ganda, mulai dari gangguan produksi akibat faktor iklim hingga ketidakpastian pasokan global,” jelasnya.
Perlu Langkah Antisipasi
Pemerintah didorong untuk segera memperkuat cadangan pangan nasional serta mencari alternatif sumber impor di luar kawasan konflik. Langkah ini dinilai penting untuk menahan laju inflasi pangan, terutama pada paruh kedua 2026.
Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi, strategi mitigasi menjadi kunci agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan stabilitas ekonomi nasional tidak terganggu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- IAEA Kecam Serangan Dekat PLTN Iran, Peringatkan Risiko Nuklir
- Serangan AS-Israel Tewaskan 5 Tentara Iran di Ardabil
- Hari Terakhir Pendaftaran! Cek Link Rekrutmen TPM P3TGAI 2026 Kemen PU
- Gempa M5,7 Guncang Tenggara Tuapejat, Tak Berpotensi Tsunami
- Indonesia Soroti Insiden Berulang di Lebanon, Minta PBB Bertindak
Advertisement
TKA SMP Digelar 8-9 April, Disdik Gunungkidul Jamin Kesiapan
Advertisement
Mekar Hanya Beberapa Hari, Bunga Bangkai di Palupuh Diserbu Turis
Advertisement
Berita Populer
- Event Jogja April: Malam Ini, Guyon Waton dan NDX di Kridosono
- Viral Meteor Langit di Lampung, Ini Fakta Sebenarnya
- Sultan HB X Minta Pengusutan Gugurnya Tiga Prajurit TNI
- Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo
- Jadwal Terbaru KA Prameks Jogja-Kutoarjo, Minggu 5 April 2026
- Lengkap! Jadwal Misa Paskah 2026 di Jogja, Sleman dan Bantul
- Tiket Pesawat Dibatalkan? Begini Cara Refund Uangnya
Advertisement
Advertisement






