KPK Dalami Aliran Rp106,3 Miliar yang Diduga ke Nusron Wahid
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Ilustrasi pembalut./shutterstock
Harianjogja.com, SEMARANG – Kasus dugaan narkoba dari air rebusan pembalut muncul di Jawa Tengah.
Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng masih mendalami fenomena remaja yang kecanduan air rebusan pembalut. Mereka nekat meminum air rebusan pembalut agar bisa merasakan sensasi sebagaimana mengonsumsi narkotika jenis sabu.
“Memakai pembalut itu sebenarnya mereka bereksperimen. Ketika dia dalam keadaan terpaksa [tidak memiliki biaya] itu akan menimbulkan suatu ide-ide. Dari ide inilah diyakini terus menimbulkan sugesti [fly],” kata psikolog, Indra Dwi Purnomo, yang turut menangani anak-anak pecandu pembalut rebus, di Kantor BNNP Jateng, Selasa (6/11/2018).
Dia mengatakan, eksperimen menggunakan pembalut dimulai dari yang bekas pakai hingga membuka kemasan baru. Sementara pembalut yang paling digemari adalah jenis bersayap, karena bisa memberikan sensasi fly yang lebih dahsyat.
“Mereka pilih softex [pembalut] yang bersayap itu entah kenapa. Mereka rata-rata bilang, hasilnya ngeri-ngeri, halusinasinya ngeri,” ulasnya tanpa menjelaskan halusinasi yang dimaksud anak-anak pecandu pembalut rebus.
Menurutnya, efek fly yang dirasakan anak-anak pecandu itu berasal dari gel di dalam pembalut. Meski demikian, pihaknya belum mengetahui pasti kandungan bahan kimia yang tersimpan dalam gel. Sekadar yang diketahuinya, gel tersebut berfungsi menyerap air atau darah haid.
“Di dalam softex [pembalut] itu ada semacam gel yang bisa direbus dan bisa bikin fly. Gel softex itu untuk menyerap air supaya enggak tembus. Ini menggunakan kimia-kimia seperti apa, saya enggak tahu persis,” terangnya.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jawa Tengah, AKBP Suprinarto, mengatakan, menemukan kasus tersebut di beberapa daerah. Kebanyakan mereka adalah anak-anak muda yang mendiami wilayah pinggiran kota, seperti Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang, serta di Kota Semarang bagian timur.
Supri menyebut, anak-anak yang mulai kencanduan mengonsumsi air rebusan pembalut masih pada usia pelajar yakni 13-16 tahun. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan utama bagi anak-anak tersebut, karena tak mampu membeli sabu yang harganya mencapai jutaan rupiah per gram.
“Narkotika ini pada kelompok tertentu mungkin mahal, sehingga pada kelompok masyarakat tertentu bagi anak-anak ini yang masih mencoba terutama anak jalanan, juga pingin seperti itu [mengonsumsi sabu],” kata Suprinarto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 27 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
DPRD Gunungkidul menegaskan Perubahan APBD 2026 harus berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar besarnya anggaran.
HP mulai bermasalah? Kenali tanda pada layar, baterai, dan suhu sebelum memutuskan mengganti perangkat.
Bangun siang bisa memengaruhi ritme sirkadian, jadwal tidur, konsentrasi, suasana hati, hingga rutinitas harian. Ini 13 dampaknya.
iPhone 18 Pro 1TB dan 2TB dilaporkan memakai QLC, sedangkan 256GB dan 512GB menggunakan TLC. Simak hasil uji performanya.