Advertisement
Pascagempa-Tsunami, Kementerian PUPR Fokus Bersihkan Puing-Puing Bangunan
Warga mengambil sisa-sisa bangunan yang masih bisa digunakan di lokasi terdampak pergerakan atau pencairan tanah (likuifaksi) di Balaroa Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (14/10/2018). - ANTARA FOTO/Yusran Uccang
Advertisement
Harianjogja.com, PALU-Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kini fokus untuk membersihkan puing-puing bangunan dan pepohonan yang tumbang akibat gempa bumi, tsunami, dan pencairan tanah (likuifaksi) yang melanda Palu-Sigi-Donggala, Sulawesi Tengah, 28 September 2018.
"Setelah pembersihan jalan untuk memperlancar aksesibilitas telah hampir selesai, fokus kami sekarang adalah membersihkan puing-puing dan sedimen yang menumpuk di banyak tempat," kata Arie Setiadi Murwanto, Kepala Satgas Kementerian PUPR untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sulteng yang dihubungi di Palu, Selasa (16/10/2018).
Advertisement
Menurut Arie, pembersihan ini penting untuk mencegah penyebaran bibit penyakit, apalagi di beberapa tempat, petugas masih menemukan jenazah-jenazah korban.
Pembersihan kota yang melibatkan puluhan alat berat berupa buldozer dan excavator, ratusan truk dengan ratusan personel tersebut akan memindahkan puing-puing itu ke tempat pembuangan sampah di Kelurahan Kavatuna, Kota Palu.
BACA JUGA
"Puing-puing ini kami kumpulkan karena cukup banyak yang bisa didaur ulang untuk menjadi barang bernilai ekonomi, cuman belum ada waktu untuk mendaur ulang puing-puinmg tersebut," ujarnya.
Terkait pemuilihan aksesibilitas, mantan Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR ini mengatakan pihaknya sudah membuka seluruh ruas-ruas jalan penting di tiga daerah terdampak sehingga arus lalulintas kini bisa berjalan normal.
"Kemarin jalur ke Kulawi yang tertutup akibat longsor, sudah berhasil dibuka kembali, namun di daerah itu sekarang banyak hujan sehingga ada longsor-longsor kecil lagi yang menghambat arus lalulintas," ujarnya.
Staf Ahli Menteri PUPR bidang komunikasi Rudy Novrianto menjelaskan mengenai bangunan-bangunan bertingkat seperti hotel dan kantor-kantor yang rusak, belum akan diratakan karena hal itu harus menunggu izin dari pemerintah setempat.
Selain itu, perlu ada kajian ulang penataan perencanaan pembangunan kota pascagempa, termasuk bangunan-bangunan yang berada di pinggir pantai.
Data yang dikutip dari Posko Satuan tugas gabungan terpadu (Satgasgabpad) penanganan bencana Sulteng mencatat korban jiwa yang ditemukan sampai Senin (15/10/2018) mencapai 2.100 orang, luka-luka 4.612 orang, hilang 680 orang, tertimbun 152 orang, bangunan/rumah rusak 68.451 unit dan penduduk yang mengungsi 78.994 orang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Libur Lebaran, Kapasitas KAI Bandara Jogja Naik Jadi 275 Ribu Kursi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Inggris Tolak Komando NATO untuk Misi Pengamanan Selat Hormuz
- BI DIY Siapkan Rp4,99 Triliun untuk Lebaran, Rp3,5 Triliun Terserap
- Mendes Yandri Optimistis Makan Bergizi Gratis Jadi Motor Ekonomi Desa
- Trump Tegaskan AS Mampu Amankan Selat Hormuz Tanpa Bantuan Sekutu
- Astra Motor Yogyakarta Rilis Promo Berkah Ketupat, DP Mulai Rp500 Ribu
- Gunungkidul Gandeng 30 Pedagang Pasar Jadi Agen Pengendali Inflasi
- Selat Hormuz Memanas Uni Eropa Masih Tahan Kirim Kapal
Advertisement
Advertisement








