Kisah Zohri Menuju Kejuaraan Lari Dunia, Latihan Bertelanjang Kaki karena Tak Punya Sepatu

Pelari nasional, Lalu Muhammad Zohri, mengibarkan bendera Merah Putih usai menjuarai nomor lari 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia, Rabu (11/7/2018). - Ist/ Dok. PASI
13 Juli 2018 16:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, LOMBOK UTARA- Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan prestasi Zohri, pemuda belia asal sebuah desa di Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ia telah mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional pada cabang olah raga atletik.

Lalu Muhammad Zohri, nama lengkapnya, pelari asal Dusun Karang Pansor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara itu berhasil menorehkan prestasi gemilang di ajang 100 meter putera pada kejuaraan Dunia U-20 International Associations of Athletic Federation (IAAF) di Tampere, Finlandia.

Pria kelahiran tahun 2000 itu menjadi pelari 100 meter tercepat dengan catatan waktu 10,18 detik, mengalahkan dua pelari Amerika Serikat (AS) yang mencatut waktu 10,22 detik.

Hidup dalam kondisi serba kekurangan dan fasilitas latihan yang jauh dari sebutan memadai tak menjadi penghalang bagi pemuda yatim piatu itu untuk mengukir prestasi membanggakan.

Selama ini Zohri, siswa SMP Negeri 1 Pemenang, hidup dalam kondisi serba kekurangan bersama kakaknya di sebuah gubug berdinding gedeg yang sebagian bolong termakan usia.

Awalnya Zohri tak pernah berminat menjadi atlet lari apalagi bermimpi menjadi pelari tercepat dunia, walau akhirnya prestasi larinya telah mengharumkan nama bangsa di berbagai kejuraan atletik, khususnya pada nomor lari baik di tingkat nasional maupun internasional.

Ketika duduk di bangku kelas 7 di SMP 1 Pemenang, Zohri dikenal sebagai siswa penggila sepak bola. Oleh guru dan teman-teman sebayanya ia dinilai sebagi pemain sepak bola cukup handal.

Rosida, guru olah raganya menuturkan bahwa Zohri merupakan siswa yang sangat menggemari mata pelajaran olah raga, khususnya sepak bola, sehingga ketika diminta untuk bermain bola dia sangat gembira dan bersemangat.

Menurut guru jebolan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Mataram ini, awalnya Zohri tak pernah tertarik untuk menekuni cabang olah raga atletik, khususnya lari.

Sebagai guru olah raga, Rosida melihat potensi besar yang dimiliki Zohri, khususnya di cabang olah raga atletik, terutama ketika melihat teknik lari yang baik dan postur tubuhnya yang atletis.

Perempuan asal Kabupaten Sumbawa ini kemudian mencoba membimbing dan mengarahkan Zohri agar bersedia berlatih untuk menjadi pelari berprestasi.

Namun Zohri yang diharapkan untuk lebih tekun berlatih dan mengasah bakatnya untuk lari, terlihat tidak berminat, padahal sejak masih duduk di bangku SD dia sudah menunjukkan prestasi di berbagai lomba lari.

Rosida mengaku hampir putus asa karena berbagai upaya yang dilakukan untuk membimbing Zohri agar bersedia menekuni cabang olah raga atletik, tidak berhasil karena satu-satunya olah raga hanya disenanginya adalah bermain bola.

Zohri kerap mengikuti pertandingan sepak bola di sekolah hingga di kejuaraan tingkat kecamatan, bahkan ia merupakan salah satu pemain andalan di sekolah maupun kecamatan.

Guru olah raga bertangan dinigin ini pun pantang menyerah dan merayu Zohri terus menerus agar bersedia lebih giat berlatih lari. Upaya yang dilakukan mulai Zohri di kelas 7 hingga kelas 8 SMP belum juga berhasil.

Perjuangan panjang dan tak kenal lelah akhirnya membuahkan hasil, Rosida berhasil membujuk Zohri untuk latihan lari lebih tekun. Sprinter asal Lombok Utara ini mulai giat berlatih dan mulai menunjukkan prestasi.

Rosida mengakui fasilitas latihan untuk cabang olah raga, termasuk atletik di sekolah mereka relatif terbatas. Namun berbagai keterbatasan itu tidak mengurangi ikhtiarnya untuk terus membina dan membimbing Zohri untuk menjadi pelari berprestasi.

Ia meyakini bakat alam dan kedisiplinan Zohri dalam berlatih menjadi faktor utama bagi pemuda itu untuk meraih berbagai prestasi, pada ajang yang lebih tinggi nasional dan internasional.

Kecintaan Zohri pada olahraga lari rupanya mulai tumbuh. Rosida menuturkan, suatu ketika ia berjanji untuk melatih Zohri, namun karena saat itu hujan lebat dia terlambat menjemput, setelah dicari ternyata Zohri sedang latihan lari di pinggir pantai di tengah guyuran hujan lebat.

Keberhasilan Rosida membimbing Zohri untuk menekuni dunia lari agaknya tak terlepas dari sikapnya selain sebagai guru, ia juga menempatkan diri sebagai ibu, kakak dan teman.

Rosida mengaku senang, bahagia dan bangga atas keberhasilan Zohri menorehkan prestasi membanggakan di tingkat internasional dan kini dielu- elukan sebagai pelari tercepat .

Zohri pun sekarang disiapkan untuk membela tim merah putih di ajang Asian Games.

Ia mengaku optimis bahwa Zohri akan kembali mengukir prestasi dengan memboyong medali emas di ajang Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang.

Rosida mengakui pada awal mulai berlatih, Zohri kerap lari bertelajang kaki, karena saat itu ia belum memiki sepatu. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus berlatih.

Sementara itu terkait dengan keterbatasan Zohri dalam meniti prestasi sebagai pelari tercepat dunia, juga diakui pihak keluarga. Bahkan ia pernah berlari telanjang kaki karena tak memiliki sepatu.

Baiq Fazilah (29), Kakak kandung Lalu Muhammad Zohri mengaku bangga atas prestasi yang diraih adiknya Lalu Muhammad Zohri. Apalagi kalau mengingat perjuangan keras adiknya yang berlatih di tengah keterbatasan.

Dia mengaku Zohri pendiam dan tidak pernah banyak menuntut. Saat berlatih tidak pernah memakai alas kaki (sepatu, red), karena tidak punya, tetapi juga tidak mengeluh.

Menurut Fazilah, bakat lari adiknya tersebut sudah terlihat sejak Lalu Muhammad Zohri duduk di bangku SMP. Guru olahraganya pun sudah memantau bakat adiknya tersebut.

Untuk berlatih sendiri, Zohri suka latihan lari di pantai Pelabuhan Bangsal, Pemenang.

Lalu Muhammad Zohri merupakan anak bungsu dari empat bersaudara dengan kakak-kakaknya yakni Baiq Fazilah (29), Lalu Ma'rib (28), Baiq Fujianti (Almh) dan Lalu Muhamad Zohri.

Dia lahir di Karang Pansor pada 1 Juli 2000. Kedua orang tua Lalu Muhammad Zohri, yakni Lalu Ahmad Yani meninggal tahun 2017 dan Ibunya Saeriah juga sudah meninggal tahun 2015.

Menurut Fazilah, cita-cita Zohri ingin banggakan keluarga dan membangun rumah agar ia bersama kakaknya bisa menikmati tempat tinggal yang lebih layak.

Prestasi yang berhasil ditorehkan Lalu Muhammad Zohri sebagai pelari tercepat dunia yang kini mengharumkan bangsa agaknya tak terlepas dari kegigihan dan ketekunan ketekukannya berlatif dengan penuh disiplin serta kegigihan guru serta para pelatih yang membimbingnya selama ini.