Sakit Hati, Seperti Ini Pengakuan Tentara Perempuan Israel yang Dituduh Menembak Perawat Palestina Razan Al Najjar

Rebecca (kiri) dan Razan Al Najjar (kanan). - kolase Suara.com
06 Juni 2018 18:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, GAZA- Penembakan perempuan paramedis Palestina, Razan Al Najjar, dalam demonstrasi pada Jumat (1/6/2018) pekan lalu, berbuntut panjang.

”Orang-orang mengambil foto saya dan menyebarnya sebagai  simbol kebencian,” tutur perempuan penembak jitu Israel yang disebut sebagai penembak mati Razan Al Najjar, paramadis Palestina.

Rebecca, nama perempuan anggota Israel Defense Force tersebut, masih berusia 24 tahun. Ketika diwawancarai The Jerusalem Post, Selasa (5/6/2018), ia hanya diidentifikasi sebagai Rebecca demi tujuan keamanan.

Sejak Jumat (1/6) pekan lalu, paras Rebecca yang tengah tersenyum sembari menenteng senjata sniper viral di media-media sosial. Ia disebut sosok yang membunuh Razan, perempuan Palestina yang baru berusia 21 tahun.

”Aku lahir di Boston, Amerika Serikat. Umurku tak terpaut jauh dengan Razan, baru 24 tahun. Aku pindah ke Israel dan menjadi anggota IDF karena panggilan jiwa sebagai Yahudi,” tutur Rebecca.

Rebecca mengatakan bahwa dirinya "benar-benar menyesal" atas kematian Razan. Tapi, ia meminta publik tetap memeriksa fakta sebelum menyebar kebohongan.

“Saya benar-benar menyesal mereka kehilangan putri mereka. Hilangnya nyawa selalu menjadi tragedi, ”katanya.

”Tapi mereka harus memeriksa fakta, benar atau bohong. Orang-orang mengambil foto saya dan menjadikannya simbol kebencian, dan itu benar-benar bertentangan dengan apa yang saya perjuangkan. ”

Tuduhan terhadapnya berasal dari halaman Facebook Suhair Nafal, warga Chicago, AS. Suhair meunggah foto Rebecca yang seragam lengkap dan memegang senapan M-16 sembari tersenyum. Dalam keterangan foto, Suhair tak menyebut Rebecca adalah pembunuh Razan.

”Demi Tuhan, itu adalah foto empat tahun lalu, ketika aku berada di unit intelijen tempur di Israel selatan, dekat Semenanjung Sinai Mesir,” ungkapnya.

Ia mengakui kebingungan bagaimana Suhair bisa mendapatkan fotonya tersebut. Ia menduga, Suhair mendapat potretnya itu dari unggahan pada laman resmi IDF di Facebook pada Mei 2014.

Namun, saat unggahan Suhair itu disebar ulang pada halaman Facebook ”Freedom for Gaza” yang diikuti 100.000 warganet, dan mulailah terdapat orang menyebut Rebecca sebagai pembunuh Razan.

Walau ada warganet yang menyangsikan kebenaran tuduhan itu, mereka tetap menilai Rebecca turut bertanggungjawab atas kematian Razan.

"Mereka tidak tertarik pada kebenaran," kata Rebecca, "rasanya seperti mereka hanya ingin menyebarkan kebohongan."

Rebecca sendiri mengakui, baru mengetahui Razan tertembak pada Sabtu malam, setelah paramedis yang dijuluki sebagai ”Malaikat Pelindung Demonstran Palestina” itu dimakamkan.

Sabtu malam pekan lalu itu juga, Rebecca diberitahu teman-temannya bahwa foto dirinya sudah disebar sebagai pembunuh Razan.

”Sejak saat itu, Facebook ku dibanjiri kata-kata hinaan dan pesan kutukan dari seluruh dunia. Teman-temanku, dan juga keluargaku juga mendapat hal yang sama dari warga dunia.”

Rebecca menuturkan, dirinya merasa sakit hati karena banyak orang yang menilai ia tak seharusnya ada di Israel dan memerangi warga Palestina. Apalagi Rebecca lahir dan besar di AS, bukan Israel.

“Tapi, saya tetap mencintai Israel dan saya berdiri di sini sebagai tentara penjaganya. Pada saat yang sama, saya bisa melakukan sesuatu yang baik untuk seseorang yang saya mau, terlepas dari politik.”

Rebecca menuturkan, ia sudah mengajukan permohonan tahun jeda (cuti) ke IDF untuk menjadi sukarelawan membantu pengungsi konflik Suriah di Yunani.

“Aku akan mengajari pengungsi Suriah Bahasa Inggris, sebagai bekal mereka berimigrasi ke AS atau Eropa. Aku memulai tugas sebagai sukarelawan di Yunani mulai pekan depan. Itu tugas pentingku, terlepas dari perbedaan politik maupun agama.”

Sumber : suara.com