KONSERVASI HEWAN : Laut Antartika jadi Kawasan Perlindungan Laut Terbesar

The Thwaites Glacier in Antarctica is seen in this undated NASA image. REUTERS/NASA - Handout via Reuters
29 Oktober 2016 02:20 WIB Mediani Dyah Natalia News Share :

Konservasi hewan di laut Antartika

Harianjogja.com, AMERIKA -- Antartika menjadi rumah bagi pinguin dan paus pembunuh. Kawasan ini menjadi area perlindungan laut terbesar di dunia.

CNN, Jumat (28/10/2016) melaporkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya menayatakan kesepakatan setelah negoisasi selama lima tahun di Hobart, Tasmania.

"Kondisi di sini masih murni. Masih berapakah area di samudra yang masih murni di planet ini?" ranya Manajer Ilmu Pengetahuan Samudra, World Wildlife Fund (WWF), Chris Johnson kepada CNN.

Sebanyak 24 negara di dunia dan Uni Eropa menyetujui secara penuh untuk menyatakan Laut Ross di Antartika sebagai Kawasan Perlindungan Lautan. Kesepakatan ini juga disetujui komisi PBB, Konservasi Laut Antartika.

Berdasarkan data PBB, di kawasan ini hidup 50% dari populasi paus pembunuh ecotype-C (hewan terkecil dari empat tipe Southern Hemisphere orcas), 40% pinguin Adelie dan 25% kerajaan pinguan hidup di area yang tertutup oleh taman baru.

"Data didapatkan dari laboratorium hidup, membantu kita memahami perubahan besar yang terjadi di bumi ini," jelas penelitia Amerika Serikat (AS), David Aninley, satu dari sekian orang yang menyerukan kawasan ini dilindungi.

Butuh Waktu 35 Tahun
Tidak seluruh orang setuju dengan kesepakatan ini. Johnson kepada CNN menyatakan kesepakatan Laut Ross ini berakhir dalam 35 tahun.

"Kami memang antusias mengenai hal ini, kami tak mau ini sekadar jadi contoh untuk perlindungan kelautan lain di area Selatan," terangnya.

Jumlah taman kelautan saat ini mengalami penurunan, Johnson mengatakan setiap negara yang terlibat menyetujui hal ini. Adapun konsesus lengkap perlu dilakukan.

"Proses ini membutuhkan waktu lama dan akan panjang, penuh dengan perdebatan menantang. Saya percaya hal ini menjadi kesepakatan untuk mendapatkan 100 persen konsesus," terangnya.

Johnson kepad WFF akan bekerja keras bersama Kawasan Perlidungan Laut Ross secara permanen.

"Kesepakatan ini menjadi titik kritis untuk keberagaman, bukan hanya sebagai taman kelautan tetapi juga tempat kita membangun perlindungan untuk mengantisipasi perubahan iklim," paparnya.

Diplomasi Speedo
Rusia kembali melakukan pemilihan untuk menangani area perlindungan di lima kawasan sebelum kesepakatan dilakukan.

Juru bicara PBB, memberikan penekannan kepada tokoh lingkungan kelautan UN, Lewis Pugh, yang selama dua tahun terakhir untuk mendapatkan suara dari Rusia.

Dia bahkan berenang di air es di Laut Ross pada 2015 untuk meningkatkan perhatian akan isu lingkungan. Aksi ini dikenal dengan diplomasi speedo.

"Saya sangat senang," terang Pugh. "Laut Ross adalah salah satu tempat paling mengesankan di bumi. Lokasi ini adalah area liar terakhhir yang luar biasa. Semua ini seperti mimpi menjadi nyata."

Menurut juru bicara PBB, Pugh berulangkali ke Rusia untuk membujuk pemerintah setempat melindungi Laut Ross.