KURIKULUM 2013 DIHENTIKAN : Buku Ajar Kurikulum 2006 Banyak yang Rusak, Terus?

27 Januari 2015 01:20 WIB News Share :

Kurikulum 2013 dihentikan, buku ajar KTSP sebagian rusak dan materi belum tentu dapat diunduh melalui website.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Keputusan untuk kembali ke Kurikulum 2006 ternyata tak luput dari masalah. Buku ajar siswa kondisinya memprihatinkan, selain sudah banyak yang rusak, sebagian juga ada yang hilang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Harianjogja.com, Minggu (25/1/2015), sejak diputuskan untuk menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) 2006, kegiatan belajar mengajar belum maksimal. Selama dua hari (Jumat-Sabtu) diisi dengan kegiatan olahraga dan kebersihan. Sedang, pembelajaran baru sebatas pengenalan.

Salah seorang guru Sekolah Dasar di Wonosari Bayu Prihartanto mengatakan penerapan kembali Kurikulum 2006 tidak lepas dari masalah. Sama seperti penerapan Kurikulum 2013, buku ajar menjadi kendala utama.

“Hampir sebagian besar buku telah rusak dan tidak layak pakai. Ada juga buku yang hilang, dampaknya setelah adanya pemeberitahuan kembali ke kurikulum lama proses KMB belum maksimal, karena baru diisi kegiatan bersih-bersih dan olahraga. Kalau untuk Kurikulum 2013 kita bisa mengunduh di laman Dinas Pendidikan. Sedang untuk KTSP 2006 kita mau mengunduh kemana? Padahal buku-buku itu penting untuk KMB,” kata Bayu saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Sekolah SD Candi Baru Karangmojo Theresia Trisnawati. Menurut dia, jumlah buku yang ada tidak mencukupi untuk seluruh siswa, padahal buku-buku itu penting untuk proses belajar KTSP 2006. Secara prinsip tidak ada permasalahan untuk kembali ke Kurikulum 2006. Sebab, proses pembelajaran sudah dimulai sejak adanya instruksi untuk kembali ke kurikulum lama.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul Bahron Rasyid tidak menampik, penerapan kembali KTSP 2006 juga mengalami kendala, terutama berkenaan dengan buku ajar. Namun, kata dia, untuk penerapan kurikulum lama para siswa tidak diharuskan memiliki pedoman buku itu.

“Masalah yang ada tetap kita tampung, dan akan segera dicari jalan keluarnya. Tapi, untuk pemenuhan buku, sampai sekarang, saya belum tahu apakah akan ada pengadaan buku Kurikulum 2006 atau tidak,” aku dia.

Bahron menambahkan di awal-awal penerapan Kurikulum 2006 sempat ada buku elektronik, yang bisa diunduh sebagai bahan pembelajaran. Namun, saat ini dia mengaku belum mengecek apakah buku tersebut masih ada di laman Kementerian Pendidikan atau tidak.

“Kalau dulu bisa diunduh, tapi untuk saat ini belum tahu, apakah masih bisa,” kata dia.