Survei Kompas: TKN Pede, BPN Belum Puas

Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan Rabu, 20 Maret 2019 23:47 WIB
Survei Kompas: TKN Pede, BPN Belum Puas

Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (tengah) mencium tangan cawapres nomor urut 01 KH Ma\'ruf Amin saat debat cawapres Pilpres 2019 di Jakarta pada Minggu (17/3/2019) malam./Bisnis-Jody Kinarwan

Harianjogja.com, JAKARTA – Tipisnya selisih elektabilitas pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Jokowi-Ma\'ruf dengan pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi yang hanya 11,8% di Survei Litbang Kompas memberikan reaksi berbeda bagi kedua tim sukses.

Berdasarkan survei tersebut, elektabilitas calon petahana turun dari sebelumnya 52,6% pada Oktober, menjadi 49,2% pada Maret. Sebaliknya, calon penantang justru naik dari sebelumnya 32,7% menjadi 37,4%. Adapun yang belum menjawab, atau masih rahasia, turun dari sebelumnya 14,7% menjadi 13,4%.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Imelda Sari menyatakan hasil survei tersebut berhasil memberi gambaran bahwa peluang pihaknya memenangi kontestasi Pilpres 2019 masih ada.

"Kalau kita melihat elektabilitas mereka [kubu 01 Jokowi-Ma\'ruf] saat ini di bawah 50 persen, artinya kecenderungan masyarakat akan perubahan dan ingin adanya presiden baru itu di atas 50 persen," jelas Imelda dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Rabu (20/3/2019).

Meski demikian, Imelda mengungkapkan bahwa survei ini tidak akan membuat mereka berpuas diri sebab hasil survei ini merupakan potret per 5 Maret, sehingga efek Debat Cawapres 2019 belum terhitung.

Terlebih, politisi Partai Demokrat ini mengklaim bahwa pihak BPN Prabowo-Sandiaga telah bekerja keras mencapai hasil survei internal melebihi survei besutan Kompas tersebut.

"Kalau dari posisi survei internal yang kita lihat memang ketat angkanya, dan selisihnya mungkin sangat kecil. Kalau yang Kompas 11%, yang kami ketahui di bawah 10%," ungkapnya.

Di sisi lain, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma\'ruf diwakili juru bicara muda dari PDI Perjuangan, Garda Maharsi, menyebut bahwa survei ini merupakan efek dari beberapa black campaign yang ditujukan pada capres besutannya.

Selain itu, menurutnya, naik-turun elektabilitas merupakan hal biasa. Terpenting, capres-cawapres besutannya masih unggul, "Bahwa dalam proses elektoral yang panjang ini. Tentu saja ada dinamika naik turun."


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online