Kualitas Kampanye Buruk, Isu Identitas Masih Kental di 2019

Kualitas Kampanye Buruk, Isu Identitas Masih Kental di 2019

Calon Presiden dalam Pilpres 2019 Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Capres Prabowo Subianto di sela-sela pengambilan nomor urut pasangan calon untuk pemilihan Presiden 2019, di kantor KPU, Jakarta, Jumat (21/9/2018)./Reuters-Darren Whiteside

Harianjogja.com, JOGJA—2019 menjadi tahun penting bagi bangsa Indonesia. Pilpres akan digelar. Namun, kualitas pemilu diperkirakan tak terlalu baik karena isu identitas masih kental.

Pakar politik dari UGM Wawan Mas\'udi mengatakan tensi politik akan sangat tinggi. Isu-isu politik identitas, khususnya berkaitan dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) akan tetap digulirkan. “Memang ada komitmen dari kontestan pemilu [untuk tidak memakai isu SARA]. Tetapi politik identitas, khususnya SARA, akan tetap dipakai meski bentuknya tidak langsung,” ujar Wawan kepada Harian Jogja, Minggu (31/12/2018).

Wakil Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM itu mengatakan politik identitas tidak digunakan secara personal oleh peserta Pilpres 2019, tapi lebih banyak diembuskan para pendukung. Menurut dia, sentimen-sentimen dari pendukungnya itu yang akan dieksploitasi oleh kontestan.

Ia mencotohkan yang terjadi di Amerika Serikat. “Dalam Pilpres di Amerika Serikat, baik Donald Trump maupun Barack Obama, tidak bisa menghindari bergulirnya politik identitas,” ujar dia.

Menurut dia, isu identitas akan sulit dihilangkan pada tahun politik.

“Yang bisa dilakukan salah satunya dengan adanya komitmen dari para pimpinan-pimpinan atau tokoh politik dalam meredam politik identitas. Peran negarawan sangat penting agar masyarakat lebih bijak dalam menggunakan identitas, walaupun saat ini jumlah negarawan sangat sedikit,” ucap Wawan.

Suburnya isu identitas terlihat jelas dalam masa kampanye tiga bulan terakhir yang masih berjalan buruk. Para kontestan Pilpres 2019 dan tim kampanye hanya berkutat dengan politik identitas dan mengeluarkan narasi saling hujat.

Akibatnya, masyarakat lupa mengkritik visi dan misi kedua pasangan capres dan cawapres, dan terjebak mengomentari hal-hal yang tidak substansial.

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Ratna Dewi Pettalolo menilai masa kampanye tiga bulan ini belum maksimal. Penyebabnya adalah peserta Pilpres 2019 dan tim kampanyenya hanya mengeluarkan narasi saling hujat.

Hingga kini, Bawaslu lebih sering menerima laporan yang dihiasi kampanye negatif oleh peserta Pilpres. “Ujaran kebencian seperti wajah Boyolali, sontoloyo, hanya seputar-seputar itu. Substansinya bukan di situ,” katanya di Gedung Bawaslu, belum lama ini.

Komentar negatif ini berdampak buruk pada pesta demokrasi karena publik tidak menerima informasi secara baik. Dewi mengatakan, seharusnya peserta Pilpres 2019 lebih mempromosikan visi misi yang mereka unggulkan dan akan dibawa ke mana Indonesia selama lima tahun ke depan.

“Sebenarnya konsep kampanye dalam undang-undang itu sudah sangat jelas mengarahkan agar ada proses pencerdasan masyarakat pemilih,” kata dia.

Dewi mengharapkan agar masa kampanye yang tersisa tiga bulan ke depan bisa dimanfaatkan dengan cermat dan tepat untuk memberikan pendidikan politik kepada pemilih dengan menyampaikan visi, misi, dan program secara utuh.

“Artinya lebih kepada hal-hal yang substantif. Jadi memperkenalkan visi misi dari para pasangan calon atau para caleg dari partai politik sehingga pertimbangan-pertimbangan rasional pemilih itu menjadi hal yang dikedepankan dalam memutuskan pilihannya,” ucap dia.

Saat ini, publik malah disibukkan dengan isu pro kontra ucapan Natal, kabar Prabowo Subianto berjoget ria di tengah-tengah perayaan Natal, hingga munculnya video rekayasa Ma’ruf Amin yang seolah-olah memakai kostum sinterklas.

Video Prabowo itu muncul di unggahan instagram keponakannya Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Video berdurasi 35 detik itu kemudian viral di Twitter dengan tagar #JogetNatalPrabowo. Warganet pun mengomentari sinis apa yang dilakukan Ketua Umum Partai Gerindra.

Tanggapan Tiap Kubu

Ketua Badan Pemenangan Nasional Koalisi Indonesia Adil Makmur Prabowo-Sandi, Djoko Santoso menganggap masyarakat Indonesia tidak bodoh sehingga termakan dengan komentar bohong soal Prabowo yang berjoget dan merayakan Natal bersama keluarga.

Djoko mengatakan video Prabowo menari tersebut tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap elektabilitas peserta Pilpres nomor urut 02 ini. “Makin lama sebenarnya rakyat Indonesia ini juga makin pintar karena adanya TV, adanya media sosial itu sudah tidak membuat bodoh-bodoh banget lah,” katanya, Kamis (27/12).

Mantan Panglima TNI ini mengatakan Prabowo pada perayaan Natal beberapa hari itu diundang keluarganya yang beragama kristiani. “Jadi ya sudah. Kita sebagai bangsa Indonesia sudah biasa-lah dengan perbedaan,” jelasnya.

Sementara itu, Arya Sinulingga, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (Jubir TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, mengimbau agar publik tidak meributkan soal capres Prabowo Subianto yang berjoget pada perayaan Natal bersama keluarganya.

“Justru aksi Prabowo yang berjoget pada perayaan Natal bersama keluarga itu adalah penanda kebhinekaan Indonesia,” kata Arya, akhir pekan.

Menurut Arya, video yang menampilkan Prabowo berjoget pada perayaan Natal bersama keluarga adalah hal wajar, mengingat banyak anggota keluarga besar Prabowo yang beragama Kristen.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding. Menurut dia, wajar jika Prabowo berjoget gembira pada perayaan Natal bersama keluarga karena sebagian keluarganya beragama Kristiani.

“Keluarga besar Pak Prabowo sebagian lristiani, sehingga wajar jika Pak Prabowo bergembira bersama keluarga,” kata Abdul Kadir Karding.

Keributan masyarakat di media sosial tidak hanya menimpa Prabowo, tetapi juga calon wakil presiden Ma’ruf Amin. Namun, Ma’ruf mengaku tidak sakit hati atas video ucapan selamat Natal untuk umat Kristiani yang direkayasa seolah-olah dirinya menggunakan kostum sinterklas.

Seseorang ditangkap di Aceh karena membuat video rekayasa yang berisi Ma’ruf Amin menggunakan kostum sinterklas sedang mengucapkan selamat Natal.

Ma’ruf mengatakan dirinya menyerahkan kasus tersebut sepenuhnya kepada pihak berwajib.

“Enggak-lah, masa sakit hati. Kiai itu tidak boleh sakit hati,” ujar Ma’ruf Amin, Jumat (28/12/2018).

Ma’ruf membenarkan adanya video ucapan selamat Natal dari dirinya. Menurut dia, mengucapkan selamat Natal tidak dilarang oleh Majelis Ulama Indonesia.

Selain itu, ajaran Syeikh Al-Azhar yakni Syeikh Ali Jumuah (Ali Gomaa), Syeikh Yusuf Qardawi tidak mempermasalahkan umat muslim mengucapkan selamat Natal. “Ulama-ulama besar itu semua memperbolehkan, jadi enggak ada masalah, boleh tidak boleh mengucapkan, enggak masalah,” ucap dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online