Pascagempa, Pasar Inpres Manonda Palu Mulai Menggeliat

Newswire
Newswire Minggu, 07 Oktober 2018 09:17 WIB
Pascagempa, Pasar Inpres Manonda Palu Mulai Menggeliat

Tim SAR berusaha mengevakuasi korban yang masih tertimbun reruntuhan di Hotel Roaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018). /Antara-Basri Marzuki

Harianjogja.com, JAKARTA-Pasar Inpres Manonda di Jalan Kacang Panjang, Palu Tengah, Kota Palu kembali bergeliat setelah delapan hari pascagempa bumi dan gelombang Tsunami yang menghantam kawasan tersebut, Jumat (28/9/2018).

Pedagang mulai terlihat berdatangan dari wilayah Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Banyak dari mereka menjual hasil bumi dan ternak, seperti tomat, kacang panjang, ikan teri, terung, mentimun, bawang merah, bawang putih, cabai, tempe, hingga kerupuk.

Di antara pedagang yang menjajakan hasil buminya di tepian jalan, para pemilik ruko juga telah kembali lagi berjualan logistik serta barang kebutuhan lain, seperti tepung terigu, gula, garam, dan minyak. Salah seorang pedagang, Sulis (40), mengaku mulai mengangkut tomat hasil buminya sejak Rabu (3/10/2018).

"Tomat-tomat ini diambil dari Desa Maranata di Kabupaten Sigi. Saya ke pasar menggunakan mobil \'pick-up\' (bak terbuka) untuk berjualan, sudah sejak tiga hari lalu," kata Sulis saat ditemui di pasar bersama anaknya, Rizky (14).

Ia mengatakan wilayah tempat tinggalnya juga ikut diguncang gempa, tetapi dampaknya tidak separah di wilayah lain. "Tembok retak dan pagar rumah kami rebah, tetapi selain itu semua baik-baik saja. Hingga hari ini, saya sekeluarga masih tidur di halaman depan rumah, untuk jaga-jaga," katanya.

Pedagang lainnya, Nefi (39), mengaku harus mulai berjualan untuk membeli kebutuhan. "Uangnya buat dipakai beli beras, dan keperluan rumah tangga lainnya, minyak, juga BBM," kata warga Kota Palu Tengah itu.

Ia menambahkan tiga hari pascagempa masih banyak pertokoan tutup, tetapi sejak Rabu (3/10/2018), sejumlah ruko sudah mulai buka. Dalam kesempatan berbeda, Arifa, ibu berusia 45 tahun, mengaku harga barang kebutuhan masih tergolong normal.

"Dari tadi saya belanja belum menemukan sayur yang dijual mahal, misalnya tomat ini satu kilogramnya seharga Rp20 ribu-Rp25 ribu, kacang panjang ini Rp2 ribu, terung dan mentimun juga masih murah, tempe ukuran panjang Rp25ribu juga masih dapat dibeli. Yang cukup langka mungkin, seperti minyak goreng dan gula," kata warga Jalan Pue Bongo, Palu.

Seorang pembeli saat ditemui di Pasar Inpres Manonda mengaku barang yang masih tergolong langka di antaranya gas, minyak goreng, dan gula.

"Pasar merupakan sentra ekonomi, pusat penjual dan pembeli bertemu. Aktifnya pasar merupakan indikator keamanan, jadi di saat masyarakat bergerak, pasar bergeliat, artinya saudara-saudara kita menunjukkan optimisme untuk bangkit," kata.

Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi Imam Rulyawan saat ditemui di tengah kegiatan bersih pasar, Sabtu.

Ia menjelaskan di tengah relawan dan aparat masih melakukan evakuasi, kehidupan masyarakat juga perlahan bergeliat kembali.

"Artinya, pasar ini harus nyaman, banyak puing yang hancur pascagempa harus dibersihkan. Ini buktinya, saat kita selesai membersihkan puing, halaman toko langsung dipakai oleh Ibu Salma dan putrinya, Nur Fainah, untuk berjualan. Adik kita Nur sedang libur, ia saat ini duduk di bangku kelas 2 SMP. Cita-citanya sebagai desainer. Ia tetap semangat membantu ibunya, di tengah musibah ini, artinya kita harus tetap bangkit dan semangat," kata Imam saat ditemui selepas menemui pedagang di Pasar Inpres.

Gempa bumi dan gelombang Tsunami menghantam Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Parigi Moutong di Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018). Hingga saat ini, jumlah korban mencapai 1.649 jiwa dan sekitar 70 ribu warga bertahan di pengungsian.

Jumlah korban diperkirakan masih akan terus bertambah, mengingat proses evakuasi jenazah masih terus berlangsung di Petobo, Perumahan Balaroa, Kota Palu, dan beberapa desa di Kabupaten Sigi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online