Rupiah Melemah ke Rp17.903, Ini Pemicu Tekanan Global
Rupiah melemah 21 poin ke Rp17.903 per dolar AS. Konflik Timur Tengah, dolar AS, The Fed, dan data domestik jadi sorotan
Foto ilustrasi energi alternatif, dibuat menggunakan Artifical Intelligence.
Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah menempatkan transisi energi hijau dan pembangunan digital sebagai dua mesin utama atau twin engine untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan keberhasilan strategi tersebut bergantung pada sinergi antara ketersediaan energi bersih yang terjangkau dan percepatan pembangunan infrastruktur digital.
"Pemerintah berkomitmen mengorkestrasikan transisi energi dan pembangunan digital sebagai twin engine penggerak pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sinergi antara ketersediaan energi bersih yang terjangkau dan akselerasi infrastruktur digital menjadi kunci utama menciptakan iklim investasi berdaya saing global sekaligus mempercepat pencapaian target pertumbuhan jangka panjang," kata Haryo dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Target yang hendak dicapai pemerintah tidak kecil. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027, investasi nasional perlu tumbuh 8–9 persen dengan kebutuhan penanaman modal mencapai Rp2.218 triliun hingga Rp2.258 triliun.
Kebutuhan Energi untuk Industri dan Data Center
Haryo mengatakan keandalan energi hijau menjadi prasyarat untuk menopang kebutuhan listrik nasional yang diproyeksikan mencapai 700–800 Terawatt-hour (TWh) pada 2030.
Kebutuhan tersebut berjalan seiring dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kapasitas pembangkit hingga 100 Gigawatt (GW) peak berbasis energi terbarukan.
Percepatan transisi energi juga didukung pembangunan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer-sirkuit. Infrastruktur tersebut diarahkan untuk menjamin pasokan listrik yang andal bagi industri maupun pusat data (data center).
Pemerataan akses energi dilakukan melalui Program Listrik Desa. Program tersebut telah menjangkau 1.505 lokasi pada 2025 dan ditargetkan mencakup 4.390 lokasi pada 2026.
Dengan perluasan tersebut, rasio elektrifikasi ditargetkan mendekati di atas 99 persen. Pada saat yang sama, indeks ketahanan energi ditargetkan meningkat ke angka 7,13.
Mineral Strategis Perkuat Ekonomi Hijau
Selain pasokan energi, Indonesia memiliki modal berupa sumber daya mineral strategis. Kekayaan tersebut mencakup nikel, timah, bauksit, tembaga, emas, dan batu bara.
Pemerintah melihat hilirisasi berbasis energi bersih sebagai peluang untuk meningkatkan nilai tambah. Salah satunya melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang berpotensi memberikan nilai tambah hingga 67 kali lipat dengan permintaan global 5,91 triliun dolar AS pada 2045.
Menurut Haryo, cadangan mineral kritis serta potensi bahan baku panel surya seperti pasir silika juga memberikan posisi tawar strategis bagi Indonesia dalam rantai pasok global.
"Momentum ini berhasil menarik minat kemitraan dari Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada untuk berkolaborasi dalam pengembangan teknologi transisi energi dan diversifikasi rantai pasok mineral kritis global di Indonesia," kata dia.
Pembiayaan Hijau dan Kebutuhan SDM
Dari sisi pendanaan, Pemerintah mendorong pemanfaatan sejumlah skema pembiayaan hijau. Instrumen yang didorong antara lain green bonds, blended finance, JETP, dan AZEC.
Pembiayaan tersebut diselaraskan dengan penguatan sumber daya manusia (SDM). Pemerintah memperluas Program Magang Lulusan Perguruan Tinggi dan Program Vokasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di industri hijau.
Haryo menilai integrasi energi hijau dengan digitalisasi menjadi peluang penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam peta ekonomi dan transisi energi global.
“Optimalisasi potensi energi hijau dan digitalisasi secara terpadu merupakan golden moment bagi Indonesia untuk menegaskan posisinya sebagai tuan rumah energi dan pemain utama transisi energi global,” kata Juru Bicara Haryo.
Melalui skema pembiayaan inovatif serta penyiapan SDM berkualitas, Haryo mengatakan Pemerintah optimistis sektor ekonomi hijau dapat membantu mempercepat pencapaian target emisi nol bersih sekaligus menciptakan lapangan kerja baru yang berkualitas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Rupiah melemah 21 poin ke Rp17.903 per dolar AS. Konflik Timur Tengah, dolar AS, The Fed, dan data domestik jadi sorotan
Kenali 5 keterbatasan Chromebook sebelum membeli, mulai dari aplikasi Windows, Microsoft Office, penyimpanan hingga perangkat eksternal.
Pelebaran Jalan Selokan Mataram Sleman belum tuntas karena pembebasan lahan. Sebanyak 11 bidang, termasuk sebagian Makam Santren Gejayan, disiapkan.
Kerja Ngejar Apa, Sih? tayang 12 November 2026. Simak sinopsis, daftar pemain, dan kisah persaingan masa probasi.
Indonesia mengakhiri Asian Games 2026 di peringkat ke-16 dengan 39 medali, terdiri dari lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu.
Sebanyak 600 lulusan SMK DIY dijadwalkan berangkat bekerja ke luar negeri pada 29 Oktober 2026. Mayoritas akan bekerja sebagai caregiver di Jepang.