Indonesia-Chile Siapkan Kemitraan Mineral Hijau dan Industri Baterai

Newswire
Newswire Senin, 05 Oktober 2026 10:12 WIB
Indonesia-Chile Siapkan Kemitraan Mineral Hijau dan Industri Baterai

Indonesia mengusulkan Green Minerals Partnership dengan Chile untuk memperkuat kerja sama mineral kritis, baterai, pertambangan, dan investasi. /Antara.

Harianjogja.com, JAKARTA—Indonesia mendorong penguatan kerja sama dengan Chile di sektor energi dan mineral kritis melalui usulan pembentukan Green Minerals Partnership. Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno mengusulkan penyusunan nota kesepahaman atau MoU untuk mendukung kemitraan tersebut.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Santiago menyebutkan MoU Green Minerals Partnership akan mencakup sejumlah bidang. Di antaranya proyek industri bersama, koalisi negara produsen, teknologi pertambangan hijau, platform investasi, serta strategi distribusi berbasis kelautan.

Usulan itu disampaikan Havas ketika melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu Chile Francisco Perez Mackenna di sela-sela Indonesia-Latin America and the Caribbean Business Mission (INALAC-BM) 2026 di Santiago, Chile, Kamis (1/10).

Mackenna menyambut baik usulan tersebut dan menyatakan akan menindaklanjutinya pada kesempatan pertama. Menlu Chile itu juga menunjukkan ketertarikan terhadap kapasitas produksi vaksin BioFarma serta peluang pengadaan vaksin untuk Chile.

Fokus pada baterai dan vaksin

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia dan Chile sepakat mengutamakan pemanfaatan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Chile (IC-CEPA) untuk sektor baterai dan vaksin.

Havas juga mendorong pengembangan ekosistem baterai dan kendaraan listrik yang melibatkan Corporacion Nacional del Cobre (Codelco), PT Freeport Indonesia, dan INALUM.

Codelco, badan usaha milik Pemerintah Chile, menyatakan terbuka untuk menjalin kerja sama dengan Indonesia, khususnya dalam bidang riset dan teknologi.

Selain pengembangan ekosistem baterai, Havas mengusulkan pembentukan Indonesia-Chile Industrial Bridge di sektor pertambangan. Kerja sama tersebut akan melibatkan INALUM, Freeport, dan Codelco bersama Elecmetal, perusahaan terkemuka di Chile.

Salah satu bidang yang menjadi perhatian dalam kerja sama itu adalah pengelolaan limbah sisa hasil pengolahan biji mineral atau tailing agar lebih ramah lingkungan. Limbah tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan lebih lanjut.

Dorong kerja sama migas dan pelabuhan

Agenda kerja sama Indonesia dan Chile juga diperluas ke sektor minyak dan gas. Havas mendorong penjajakan kontrak jangka panjang, partisipasi Petrobras, badan usaha sektor migas milik Brasil, dalam lelang blok migas di Indonesia, serta pembentukan usaha patungan di negara ketiga.

Perwakilan Petrobras yang saat itu berada di Santiago menyatakan kesiapan bekerja sama dengan Pertamina dalam kerangka diversifikasi untuk menghadapi perkembangan situasi geopolitik saat ini.

Sehari setelah pertemuan tersebut, Jumat (2/10), Havas mengunjungi Puerto San Antonio, otoritas pelabuhan kontainer Chile. Dalam kunjungan itu, dia mengundang pihak Puerto San Antonio datang ke Indonesia untuk bertemu dengan operator pelabuhan dan kontraktor berpengalaman di Tanah Air.

Puerto San Antonio menawarkan tender konsesi terminal kontainer dan logistik kargo curah bersih atau clean bulk yang akan berakhir pada 2029. Otoritas pelabuhan tersebut juga menawarkan proyek perluasan pelabuhan melalui reklamasi kepada perusahaan konstruksi Indonesia.

Perdagangan Indonesia-Chile meningkat

Kerja sama ekonomi kedua negara juga ditopang oleh IC-CEPA yang ditandatangani pada 14 Desember 2017. Perjanjian tersebut mulai diimplementasikan pada 10 Agustus 2019.

Melalui perjanjian itu, sebanyak 6.704 produk Indonesia memperoleh tarif bea masuk nol persen ke Chile. Produk tersebut mencakup komoditas pertanian, perikanan, manufaktur, pertambangan, dan industri.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, total perdagangan bilateral Indonesia dan Chile pada 2025 mencapai 535,51 juta dolar AS. Nilai tersebut meningkat 12,40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Produk Indonesia juga semakin kompetitif di pasar Chile. Beberapa produk yang disebut memiliki daya saing tersebut antara lain otomotif, pupuk, dan alas kaki.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online