Blackout Karimun Belum Pulih, Warga Sewa Hotel demi Bekerja
Pemadaman listrik di Karimun belum sepenuhnya pulih. Warga menyewa hotel demi bekerja, sementara PLN mempercepat pemulihan sistem.
Ilustrasi anak-anak/Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA - Anak-anak di Indonesia semakin rentan mengalami kekerasan. Hasil survei menunjukkan lebih dari 80% anak pernah mengalami kekerasan di sekolah.
Kondisi keluarga Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan kompleks. Ada sebuah tren defungsionalisasi keluarga di Indonesia.
Prof Euis Sunarti mengatakan, ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak dan perempuan. Salah satu fakta yang mengejutkan adalah meningkatnya kekerasan di kalangan anak.
Sebuah survei yang dilakukan oleh International Center for Research on Women (ICRW) NGO Research di tahun 2014 menemukan sebanyak 84,1% anak Indonesia pernah mengalami kekerasan di sekolah.
"Angka ini tertinggi di antara negara-negara lain di Asia. Selain itu, isu anak lainnya adalah anak yang terlalu terburu-buru, sibuk dan merasa sendiri dalam keramaian,” ujar Professor di bidang ketahanan dan pemberdayaan keluarga, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor (IPB), seperti dikutip Okezone dari laman IPB, Rabu (5/9/2018).
Hal itu terungkap dalam 1st International Seminar on Family and Consumer Issues dengan tema “Challenge Family in Asia: Present and Future”, di IPB International Convention Center, Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh sekiranya 100 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga di Indonesia.
Menurutnya, Model Kampung KB berbasis ecovillage menjadi salah satu contoh program pemberdayaan keluarga Indonesia yang berhasil.
Pembicara lainnya dari Malaysia, Thailand dan Australia juga memaparkan permasalahan yang dihadapi di negaranya. Permasalahan keluarga yang dihadapi kurang lebih sama, yaitu berkisar di masalah penggunaan gadget yang berlebihan pada anak, semakin meningkatnya single families, meningkatnya angka perceraian, mundurnya umur menikah dan menurunnya angka fertilitas.
Sementara itu, Wakil Rektor bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB Dr Drajat Martianto mengatakan, Indonesia, layaknya negara-negara lainnya, menghadapi tantangan dan dampak dari revolusi 4.0 yang ditandai dengan penggunaan internet yang begitu tinggi.
Informasi beredar bebas, tak terkecuali pada anak-anak. "Bahkan anak-anak pun sudah dapat memesan makanan via gadget. Baik buruknya informasi yang diterima tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga khususnya orangtua,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone
Pemadaman listrik di Karimun belum sepenuhnya pulih. Warga menyewa hotel demi bekerja, sementara PLN mempercepat pemulihan sistem.
Pemkab Gunungkidul menyusun Perbup Insentif dan Disinsentif Kendali Ruang untuk mendorong investasi berkelanjutan sekaligus menjaga lingkungan.
Polda Metro Jaya memastikan kabar ajudan Febrie Adriansyah tewas ditembak merupakan hoaks. Polisi masih menyelidiki penyebab kematian Sutrimo.
Sport tourism menjadi salah satu instrumen untuk mengejar target kunjungan wisatawan pada 2026 yang dipatok mencapai 8.553.878 orang.
Pemerintah mengkaji insentif kendaraan listrik yang akan dikaitkan dengan pengembangan mobil dan motor nasional untuk memperkuat industri EV.
Genesis Mission membuka era baru riset berbasis AI. Simak peran Google, dampaknya bagi sains global, dan peluang implementasinya di Indonesia.