Malas Membaca, Masyarakat Indonesia Mudah jadi Korban Hoaks

Newswire
Newswire Kamis, 31 Mei 2018 01:50 WIB
Malas Membaca, Masyarakat Indonesia Mudah jadi Korban Hoaks

Ilustrasi hoaks./JIBI

Harianjogja.com, PURWOKERTO- Mengapa hoaks mudah menyebar di kalangan masyarakat Indonesia? Akademisi menyebut salah satunya karena rendahnya budaya literasi di masyarakat Indonesia.

Tingkat literasi masyarakat yang rendah memicu penyebaran hoaks, kata Dosen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Edi Santoso. Literasi antara lain terkait dengan budaya membaca buku.

"Masih banyak pengguna media sosial yang memiliki tingkat literasi media yang rendah, sehingga mudah termakan hoaks," katanya di Purwokerto, Rabu (30/5/2018).

Skeptisme atau kritisisme yang rendah, kata dia, mengakibatkan masyarakat mudah percaya pada sebuah kabar, meskipun itu anonim atau sumbernya tidak jelas.

"Kuncinya adalah masyarakat perlu memiliki tradisi verifikasi," katanya.

Dia menjelaskan, hoaks merupakan sejenis rumor, yang memiliki formula yakni tingkat penyebarannya akan berbanding lurus dengan tingkat urgensi isu terkait, dan juga kepastian informasinya.

"Maksudnya, semakin penting, atau dianggap penting, sebuah isu, potensi rumor akan semakin besar. Begitu juga, semakin tidak pasti suatu kabar, akan semakin menjadikan rumor itu berkembang," katanya.

Contohnya, kata dia, tragedi teror bom beberapa waktu yang lalu.

"Berbagai rumor bermunculan. Mengingat, ini peristiwa tidak saja penting, tetapi teramat serius. Terorisme akan selalu menjadi perhatian segenap pihak di negeri ini. Namun terkadang informasi serba tidak menentu bisa membuat hoaks tak terhindarkan," katanya.

Media sosial, kata dia, bisa menjadikan hoaks semakin liar, karena memfasilitasi penyebaran informasi anonim secara luas dan cepat.

"Siapa saja bisa memproduksi dan mereproduksi pesan hoaks. Karena itu solusi jangka pendek untuk menangkal hoaks saat terjadi peristiwa besar adalah otoritas terkait, misalnya pemerintah atau Polri, sesegera mungkin, atau secara periodik, memberikan keterangan yang jelas soal peristiwa tersebut. Karena yang terjadi di lapangan terus dinamis, pemuktahiran data informasi juga harus lancar, agar masyarakat tidak bertanya-tanya," katanya.

Jika perlu, kata dia, dibentuk semacam pusat informasi masyarakat. Sediakan "call center" untuk menjawab segala pertanyaan masyarakat termasuk segala tindakan yang akan diambil untuk mengendalikan keadaan.

"Selain itu, untuk memberikan efek jera bagi para penyebar hoaks bisa dengan \'mengamankan\' mereka yang terindikasi membuat atau menyebarkan hoaks," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online