Honda Terseret Kerugian Rp45,9 Triliun Akibat EV
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Ilustrasi ibadah haji dan umrah./JIBI
Harianjogja.com, JAKARTA- Tidak teliti memang bisa membuat repot seseorang. Seperti yang dialami seorang jemaah umroh Indonesia, RS asal Jakarta.
Ia ditahan pihak keamanan Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah Minggu malam (13/5/2018) saat hendak kembali ke tanah air, karena di dalam tas ranselnya kedapatan tiga butir peluru yang terdeteksi oleh mesin X-Ray.
Keterangan KJRI Jeddah yang diterima Antara di Jakarta, Selasa (15/5/2018) , menyebutkan jamaah yang berprofesi sebagai anggota Polri itu, semula menyangkal kalau membawa barang terlarang itu. Namun saat dibuka dan diperiksa tasnya, petugas menemukan tiga butir peluru terselip di tas itu.
RS telah mencoba meyakinkan petugas bahwa tidak ada unsur kesengajaan karena niatnya mau beribadah.
Permasalahan yang dialami RS diketahui oleh seorang petugas protokol KJRI Jeddah yang sedang bertugas malam itu dan segera melaporkan kasus tersebut kepada pimpinan di KJRI Jeddah.
Konsul Jenderal (Konjen) RI Jeddah, Mohamad Hery Saripudin, segera memerintahkan Rahmat Aming, Pelaksana Fungsi (PF) Konsuler-3 merangkap Kepala Kanselerai dan Majedi Sarbaini, staf KJRI, segera mendatangi kantor penyidik untuk memberikan pendampingan kepada RS.
Atas jaminan KJRI Jeddah, RS akhirnya berhasil dikeluarkan dari tahanan dan diinapkan sementara di kantor KJRI Jeddah bersama isteri.
Anggota yang telah 14 tahun bertugas di Satuan Bhayangkara itu menuturkan, ia teringat sekitar dua bulan lalu saat bertugas mengisi senjatanya dengan enam butir peluru dan tiga lagi sebagai cadangan ia selipkan di tas ransel tersebut.
"Yang enam sudah di silinder, tiga saya taruh di tas," tutur RS kepada petugas KJRI.
Usai bertugas, sambung RS, tas punggung yang digunakan untuk umroh tanpa memeriksa dan mengeluarkan isinya. Tas itu pula yang ia bawa saat berangkat ke Arab Saudi bersama istri untuk menunaikan ibadah umrah.
"Saya juga kadang-kadang orangnya kurang teliti pak, yah," ujar RS.
Saat berangkat tas ransel itu kosong dan hendak digunakan untuk menaruh oleh-oleh. Karena kosong tas itu disimpan di dalam koper dan dimasukkan ke bagasi sehingga lolos saat pemeriksaan di bandara Madinah.
Namun, saat hendak pulang ke Indonesia melalui Bandara Jeddah, dalam tas gendong tadi tidak hanya telah penuh dengan oleh-oleh, melainkan juga terselip benda terlarang yang terdeteksi mesin x-ray.
Rahmat Aming meminta RS dan isteri agar bersabar atas ujian yang menimpa mereka. Pasalnya, penyelesaian kasusnya akan memakan waktu karena harus menunggu jawaban terhadap surat dari KJRI Jeddah yang berisi permohonan penghentian penyidikan dari kantor pusat di Riyadh.
"Pengurusannya makan waktu paling cepat seminggu. Bisa dua minggu, sebulan atau bahkan dua bulan," ujar Rahmat Aming.
Ayah dari dua anak, kelahiran Banyumas 1979, itu bersama isteri segera memberitahukan pimpinan di kantor tempat ia bekerja, sambil menunggu penuntasan kasusnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Trump minta China dan Taiwan menahan diri di tengah ketegangan. AS belum pastikan kirim senjata ke Taipei dan soroti chip Taiwan.
Okupansi hotel Jogja naik hingga 70% saat long weekend. PHRI DIY ungkap tren booking mendadak dan imbau wisatawan waspada penipuan.
Serabi 2026 bantu lebih dari 1.800 UMKM perempuan memahami bisnis digital, strategi harga, dan pengembangan usaha berbasis data.
Prabowo minta TNI-Polri bersih dari praktik ilegal, tegaskan larangan backing judi, narkoba, dan penyelundupan.
Perdagangan hewan kurban Bantul naik jelang Iduladha 2026, omzet pedagang diprediksi tumbuh hingga 40 persen.