BLT Kesra Rp900 Ribu Belum Cair? Ini Penyebab dan Cara Cek
BLT Kesra tahap 3 Rp900.000 belum masuk rekening? Simak penyebab, syarat pencairan, dan cara cek status penerima melalui Cek Bansos.
http://images.harianjogja.com/2013/02/DEMOKRAT14-370x246.gif" alt="" width="370" height="246" />JAKARTA—Anggota Dewan Pembina http://www.harianjogja.com/baca/2013/02/28/anas-ibas-dua-sejoli-yang-kini-bercerai-383647">Partai Demokrat, Hayono Isman mengatakan ketua umum partai sebaiknya tidak harus menjadi calon presiden sehingga terbuka peluang bagi munculnya kader terbaik untuk menjadi calon pemimpin nasional.
Menurut Hayono, kepemimpinan partai tidak harus berorientasi pada pemilihan presiden namun bagimana membangun partai untuk jangka panjang. Dengan demikian, siapapun yang terpilih sebagai ketua umum partai tidak harus mengejar peluang jadi capres namun konsentrasi mengurus partai.
“Saya mengusulkan nantinya siapapun ketua umum partai tak boleh menjadi capres. Siapa tahu ada kader yang yang lebih baik,” ujarnya dalam diskusi bertema “Demokrat pasca berhentinya Anas,” di Kompleks Parlemen, Kamis (28/2/2013). Hayono menegaskan usulannya tersebut juga berlaku di Partai Demokrat sendiri.
Menurutnya, dengan tidak adanya keharusan ketua umum partai jadi capres maka demokrasi akan bisa berkembang baik karena munculnya kompetisi. Selain itu, dengan terbukanya peluang bagi kader selain ketua umum jadi capres maka oligarki di partai bisa dihindari.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya yang turut menjadi nara sumber pada diskusi itu, mengatakan penumpukan jabatan srategis pada satu orang dalam sistem kepartaian membahayakan bagi perkembangan demokrasi.
Dia mencontohkan kepemimpinan di Partai Demokrat yang dipimpin oleh Ketua Majelis Tinggi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden SBY tidak saja sebagai Ketua Majelis Tinggi namun juga Ketua Dewan Pembina dan Ketua Dewan Kehormatan di Partai Demokrat.
“Ini merupakan contoh terburuk partai politik dalam perkembangan demokrasi dimana SBY dibebani banyak tugas,” ujarnya. Menurutnya, selama ini citra partai oligarkis bahkan genetis dimiliki PDI Perjuangan. Akan tetapi, dalam perkembangannya muncul Partai Demokrat yang semula lebih demokratis menjadi partai paling oligarkis.
Yunarto menilai aneh ketika Presiden SBY memegang kekuasaan sebagai Ketua Majelis Tinggi setelah Kongres di Bandung memilih Anas Urbaningrum sebagai Ketua umum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BLT Kesra tahap 3 Rp900.000 belum masuk rekening? Simak penyebab, syarat pencairan, dan cara cek status penerima melalui Cek Bansos.
Malioboro Run 4 Oktober berpotensi memicu kepadatan lalu lintas. KAI mengimbau penumpang Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan datang lebih awal.
Kebakaran TPA Jatibarang mulai terkendali, tetapi 20% titik api masih tersisa. Petugas terus mendinginkan tumpukan sampah hingga kedalaman 10 meter.
Kemkomdigi menilai notifikasi masa aktif belum cukup melindungi nilai ekonomi sisa kuota internet pelanggan sesuai amanat putusan MK.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 4 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak waktu berangkat, rute, stasiun, dan tarif Rp8.000.
Polri menjelaskan alasan mutasi 88 pati dan pamen setelah Suyudi Ario Seto menjadi Kapolri sebagai bagian dari percepatan organisasi.