Penggunaan Air Tanah Sebabkan Banjir

Minggu, 20 Januari 2013 14:35 WIB
Penggunaan Air Tanah Sebabkan Banjir

Bisnis/Yayus Yuswoprihanto PERBAIKAN TANGGUL CILIWUNG Personil TNI bersama para pekerja memperbaiki tanggul Kali Ciliwung kawasan Jl. Latuharhary, Jakarta, yang jebol, Sabtu (19/01). Perbaikan tanggul tersebut dikerjakan secara maraton serta melibatkan berbagai pihak untuk mengantisipasi ketinggian air Ciliwung serta banjir susulan.

http://images.harianjogja.com/2013/01/190113-yay-BISNIS-10tanggul2-236x310.jpg" alt="" width="236" height="310" />JAKARTA -- Penggunaan air tanah oleh gedung-gedung bertingkat di Jakarta dianggap memberikan kontribusi terhadap banjir karena menyebabkan kenaikan muka air laut.

Hal itu disampaikan Edwin Husni Sutanudjaja, peneliti air tanah dari Utrecht University, Belanda dalam sebuah diskusi yang digelar Ruang Jakarta (Rujak) Center for Urban Studies. Dalam situs resmi organisasi tersebut, Edwin menuturkan, pengambilan air tanah dalam sebagai sumber air bukanlah hal yang berkelanjutan, tetapi justru digunakan untuk pembangunan mayoritas gedung di Jakarta.

“Untuk memperbaharuinya tidak membutuhkan waktu yang sedikit. Kontribusi pengambilan air tanah terhadap kenaikan muka air laut hampir 30 persen. Bisa kita bayangkan tingkat banjir di Jakarta beberapa tahun mendatang, bila kebiasaan ini tidak coba kita imbangi dengan perbaikan?” kata Edwin seperti dalam situs Rujak yang dikutip Minggu (20/1/2013).

Dia memaparkan air tanah merupakan air yang telah terperangkap jutaan tahun lamanya dan pengambilan air tersebut bukanlah yang dapat berkelanjutan. Namun, urainya, justru mayoritas pembangunan di Jakarta menggunakan sumber air tersebut sebagai sumber utama.

Dia memaparkan banjir di Jakarta memang sudah sampai di fase yang mengkhawatirkan setiap tahun. Oleh karena itu, papar Edwin, diperlukan sejumlah cara untuk mengatasinya, dari penerapan prinsip arsitektur yang ramah lingkungan, hingga perencanaan tata ruang yang tidak melebihi kapasitas daya dukung lingkungan dan terintegrasi dengan baik dari hulu ke hilir.

Selain itu, dia menuturkan, banjir juga berkaitan dengan topografi Jakarta yang berada di dataran yang lebih rendah dibandingkan daerah-daerah lain di sekitarnya. Menurut Edwin, sungai-sungai di Jakarta merupakan hilir dari hulu sungai di daerah lain sekelilingnya,seperti Jawa Barat, yang sebagian terletak di dataran tinggi.

Edwin menegaskan melihat sejarahnya, Jakarta memang sudah rawan banjir dari dulu akibat letak geografisnya yang memungkinkan terjadinya peningkatan debit air sungai-sungai dari daerah hulu saat musim hujan. “Namun pada akhirnya, banjir diperparah dengan ketidakmampuan manusia mengelola alam dan air dengan baik,” pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Laila Rochmatin
Laila Rochmatin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online