189 Pekerja Media Tewas dalam Dua Tahun, Palestina Terbanyak

Jumali
Jumali Selasa, 03 November 2026 06:47 WIB
189 Pekerja Media Tewas dalam Dua Tahun, Palestina Terbanyak

Media massa, jurnalis, pers, wartawan/Ilustrasi

Harianjogja.com, JOGJA—Keselamatan jurnalis di berbagai negara masih menghadapi ancaman serius. Laporan terbaru Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) yang dirilis Senin (2/11) mencatat 189 pekerja media meninggal dunia sepanjang 2024–2025. Jumlah tersebut meningkat 20% dibandingkan periode dua tahun sebelumnya.

Data UNESCO menunjukkan angka kematian itu menjadi yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Catatan tersebut mencakup jurnalis profesional, pekerja media, hingga pembuat konten media sosial yang menjalankan aktivitas jurnalistik.

Dalam periode 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2025, sebagian besar kematian terjadi di wilayah yang dilanda konflik bersenjata. UNESCO mencatat 127 kasus pembunuhan jurnalis berlangsung di zona perang atau sekitar 67% dari total kematian global.

Angka kematian di wilayah konflik tersebut juga meningkat 24% dibandingkan dua tahun sebelumnya. Kondisi ini memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi pekerja media ketika meliput peperangan dan situasi keamanan yang tidak stabil.

Serangan Drone Jadi Ancaman bagi Jurnalis

Salah satu temuan yang menjadi perhatian dalam laporan UNESCO adalah penggunaan teknologi militer, khususnya pesawat nirawak atau drone, dalam serangan yang menewaskan pekerja media.

UNESCO mencatat sekitar 40% kematian jurnalis di zona konflik berkaitan dengan serangan drone. Sedikitnya 50 jurnalis tewas di enam negara akibat penggunaan teknologi tersebut sepanjang 2024–2025.

Temuan ini menunjukkan bahwa risiko peliputan di wilayah perang tidak hanya berasal dari pertempuran langsung. Perkembangan teknologi persenjataan juga menambah ancaman bagi pekerja media yang bertugas mendokumentasikan situasi di lapangan.

Palestina Catat Korban Jurnalis Terbanyak

Berdasarkan wilayah, negara-negara Arab menjadi kawasan dengan jumlah kematian jurnalis tertinggi, yakni 97 orang. Posisi berikutnya ditempati Amerika Latin dan Karibia dengan 37 korban.

Sementara itu, Palestina menjadi lokasi dengan jumlah pekerja media tewas terbanyak. UNESCO mencatat sedikitnya 62 jurnalis dan pekerja media meninggal dunia di wilayah tersebut.

Berikut rincian jumlah kematian berdasarkan wilayah dan lokasi konflik yang tercantum dalam laporan:

Wilayah atau lokasiJumlah kematian
Negara-negara Arab97 orang
Amerika Latin dan Karibia37 orang
Palestina62 orang
Ukraina12 orang
Federasi Rusia2 orang

Rusia Kritik Data dalam Laporan UNESCO

Laporan UNESCO tersebut juga mendapat tanggapan dari pemerintah Rusia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyampaikan keberatan karena sejumlah nama jurnalis Rusia yang tewas disebut tidak tercantum dalam laporan keselamatan jurnalis tersebut.

Zakharova menyatakan jurnalis-jurnalis Rusia itu meninggal akibat tindakan milisi rezim Kiev. Pernyataan tersebut merupakan kritik dari pihak Rusia terhadap cakupan data yang disajikan UNESCO.

Peningkatan jumlah pekerja media yang kehilangan nyawa menjadi perhatian bagi komunitas internasional. Perlindungan terhadap jurnalis, terutama mereka yang bertugas di wilayah konflik, menjadi persoalan penting di tengah meningkatnya penggunaan teknologi militer seperti drone.

Laporan tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi pekerja media ketika menjalankan tugas menyampaikan informasi kepada masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online