Anak Krakatau Erupsi 3 Kali, Kolom Abu Tertinggi 500 Meter

Newswire
Newswire Minggu, 18 Oktober 2026 13:52 WIB
Anak Krakatau Erupsi 3 Kali, Kolom Abu Tertinggi 500 Meter

Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi\r\n

Harianjogja.com, LAMPUNG SELATAN—Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, kembali mengalami erupsi pada Minggu (18/10/2026). Dalam rangkaian aktivitas tersebut, kolom abu tertinggi mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau 657 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan aktivitas erupsi tersebut tercatat oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga, sehingga masyarakat dan pengunjung diminta tidak mendekati gunung api dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.

Tiga Kali Erupsi, Kolom Abu Condong ke Utara hingga Timur Laut

Berdasarkan hasil pengamatan pada Minggu, erupsi pertama terjadi pukul 11.44 WIB. Kolom abu yang teramati berwarna hitam, berintensitas tebal, dan condong ke arah utara.

Erupsi kembali terjadi pada pukul 12.01 WIB. Tinggi kolom abu mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau 657 mdpl, dengan warna hitam, intensitas tebal, serta arah sebaran condong ke utara.

Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi sekitar 41 detik.

Erupsi berikutnya terjadi pada pukul 12.59 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 100 meter di atas puncak atau 257 mdpl. Kali ini, kolom abu berwarna kelabu hingga hitam, berintensitas tebal, dan condong ke arah timur laut.

Erupsi ketiga tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 56 milimeter dan durasi sekitar 36 detik.

Masyarakat Diminta Menjauhi Kawah Aktif dalam Radius 5 Km

Suwarno menegaskan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan pengunjung diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dengan tidak mendekati gunung api maupun melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah aktif.

“Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat dan pengunjung diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dengan tidak mendekati gunung api serta tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah aktif,” katanya.

Untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik, petugas melakukan pemantauan secara intensif selama 24 jam melalui pengamatan visual dan instrumental. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar untuk menilai kondisi gunung api, menentukan langkah mitigasi, serta mengantisipasi potensi bahaya yang dapat muncul.

Nelayan Selat Sunda Diimbau Memantau Informasi Resmi

Selain meminta masyarakat menjauhi kawah aktif, Suwarno mengingatkan nelayan yang beraktivitas di Perairan Selat Sunda agar memperhatikan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kondisi cuaca juga perlu diperhatikan sebelum nelayan memutuskan untuk melaut.

Masyarakat turut diimbau agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api sebaiknya selalu merujuk pada keterangan resmi lembaga berwenang.

Suwarno berharap masyarakat tetap mematuhi rekomendasi keselamatan dan mengikuti perkembangan informasi secara berkala. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko bencana sekaligus menjaga keselamatan masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online