283.270 Kasus ISPA Tercatat, Ini 5 Kota dengan Udara Terburuk

Nabilla Almi
Nabilla Almi Minggu, 18 Oktober 2026 13:17 WIB
283.270 Kasus ISPA Tercatat, Ini 5 Kota dengan Udara Terburuk

Ilustrasi ISPA - FReepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Sebanyak 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat di Indonesia selama Agustus hingga 13 Oktober 2026, di tengah meluasnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada Minggu (18/10/2026), pemantauan IQAir menunjukkan Pontianak, Palembang, Pekanbaru, Tangerang Selatan, dan Tangerang masuk dalam daftar lima kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia.

Data IQAir per pukul 10.00 WIB menunjukkan indeks kualitas udara di Pontianak, Kalimantan Barat, mencapai 255. Angka tersebut menempatkan Pontianak di urutan teratas dalam daftar kota yang dipantau, disusul empat kota lainnya dengan indeks kualitas udara yang juga tinggi.

Di tengah kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan kasus ISPA telah tersebar di tujuh provinsi yang terdampak karhutla. Sebanyak 63 kabupaten dan kota dilaporkan mengalami dampak terhadap kesehatan masyarakat.

Daftar 5 Kota dengan Kualitas Udara Terburuk

Berdasarkan data IQAir pada Minggu (18/10/2026) pukul 10.00 WIB, berikut lima kota di Indonesia dengan indeks kualitas udara tertinggi dalam daftar tersebut:

Pontianak, Kalimantan Barat: indeks AQI 255.

Palembang, Sumatra Selatan: indeks AQI 186.

Pekanbaru, Riau: indeks AQI 174.

Tangerang Selatan, Banten: indeks AQI 170.

Tangerang, Banten: indeks AQI 167.

Kondisi kualitas udara yang buruk menjadi perhatian karena paparan polusi dan asap karhutla dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan. Masyarakat perlu memperhatikan kondisi udara sebelum beraktivitas di luar ruangan, terutama kelompok yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

Kemenkes Catat 283.270 Kasus ISPA

Kemenkes mencatat total 283.270 kasus ISPA selama Agustus hingga 13 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 63.711 kasus dialami anak berusia 0–5 tahun, sedangkan 219.559 kasus lainnya terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun.

Direktur Kemenkes, Then Sayuti, menyampaikan perkembangan kasus tersebut dalam konferensi pers Perkembangan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan Kemenko Polkam RI. Dia menyebut kasus ISPA harian hingga 13 Oktober mencapai 3.897 kasus.

"Situasi harian hingga hari ini kasus ISPA sebanyak 3.897 hingga 13 Oktober dan secara kumulatif ini ada total 283.270 kasus ISPA," ucap Then Suyanti dalam konferensi pers Perkembangan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan Kemenko Polkam RI.

Then mengatakan dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat telah meluas ke tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten dan kota. Dia juga mengingatkan bahwa sejumlah daerah masih mencatat kualitas udara dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dalam kategori berbahaya.

ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung, sinus, tenggorokan, hingga paru-paru, sebagaimana dijelaskan dalam informasi Kemenkes melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.

7 Cara Menjaga Kesehatan saat Kualitas Udara Buruk

Paparan asap dan polusi udara perlu diantisipasi melalui kebiasaan sehari-hari. Berikut tujuh langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan.

1. Batasi Aktivitas di Luar Ruangan

Kurangi kegiatan di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Perlindungan perlu lebih diperhatikan bagi bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit paru-paru atau jantung.

2. Gunakan Masker yang Sesuai

Jika harus keluar rumah saat terjadi kabut asap atau polusi, gunakan masker yang sesuai, seperti respirator N95. Masker jenis ini membantu menyaring partikel halus apabila terpasang rapat dan digunakan dengan benar.

3. Cegah Asap Masuk ke Dalam Rumah

Tutup pintu dan jendela ketika asap dari luar masuk dan kualitas udara memburuk. Hindari merokok di dalam rumah serta kurangi sumber polusi dalam ruangan, termasuk asap pembakaran dan kegiatan memasak yang menghasilkan banyak asap.

4. Terapkan Kebiasaan Hidup Bersih

Cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir. Saat batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau siku bagian dalam.

Masyarakat juga perlu menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami infeksi saluran pernapasan, menjaga kebersihan lingkungan, serta tidak membakar sampah.

5. Penuhi Kebutuhan Gizi dan Istirahat

Konsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk sayur dan buah. Pastikan kebutuhan air minum terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh, tidur dengan durasi memadai, dan melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan.

6. Kenali Gejala ISPA Sejak Dini

Gejala ISPA dapat berupa batuk, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, dan demam. Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi mata serta memperburuk keluhan pernapasan.

Jika mengalami sesak napas yang semakin berat atau kondisi kesehatan memburuk, segera cari pertolongan medis.

7. Periksa Kesehatan dan Ikuti Imbauan Resmi

Periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan apabila gejala menetap atau memburuk. Ikuti anjuran tenaga kesehatan, terutama bagi penderita asma dan penyakit paru-paru.

Siapa yang Berisiko Mengalami ISPA?

ISPA dapat menyerang siapa saja. Namun, bayi dan balita, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit penyerta seperti asma, penyakit paru-paru, penyakit jantung, dan diabetes perlu lebih waspada.

Perokok aktif maupun pasif serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah juga berisiko mengalami gangguan pernapasan.

Apakah ISPA Sama dengan TBC?

ISPA dan tuberkulosis (TBC) merupakan dua kondisi yang berbeda meskipun sama-sama dapat menyerang saluran pernapasan, terutama paru-paru.

ISPA adalah kelompok infeksi saluran pernapasan yang umumnya disebabkan oleh virus. Sementara itu, TBC merupakan penyakit infeksi menular akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering menyerang paru-paru.

Apakah ISPA Bisa Sembuh Total?

ISPA dapat sembuh total, terutama jika disebabkan oleh infeksi ringan yang bisa pulih dengan sendirinya. Namun, kesembuhan bergantung pada penyebab infeksi, tingkat keparahan, kondisi kesehatan penderita, dan ketepatan penanganan.

Masyarakat yang mengalami gejala perlu memperhatikan perkembangan kondisi kesehatannya dan mencari pertolongan medis apabila keluhan memburuk.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online