Gim Online Jadi Celah Propaganda Radikalisme, Ini Peringatan Guru Besar UKI

Newswire
Newswire Sabtu, 17 Oktober 2026 22:57 WIB
Gim Online Jadi Celah Propaganda Radikalisme, Ini Peringatan Guru Besar UKI

Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI), Prof. Angel Damayanti. Ist

Harianjogja.com, JAKARTA— Gim daring atau online game tidak hanya menjadi sarana hiburan. Fitur komunikasi, komunitas pemain, dan kebebasan membuat konten di dalamnya juga berpotensi dimanfaatkan kelompok ekstremis untuk menyebarkan propaganda serta merekrut anak muda yang rentan terpapar paham radikal.

Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI), Prof. Angel Damayanti, mengatakan gim daring bukan penyebab langsung radikalisme. Risiko muncul ketika fitur permainan disalahgunakan untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, dan membangun loyalitas eksklusif.

“Game online bukanlah penyebab langsung terjadinya radikalisme karena kebanyakan pemain tidak memiliki hubungan dengan ekstremisme. Risiko muncul ketika media ini dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, dan merekrut individu yang rentan seperti remaja dan anak muda,” ujar Angel di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Rektor UKI periode 2026–2030 itu menjelaskan kerentanan tersebut berkaitan dengan interaksi sosial berulang yang membangun ikatan emosional antarpemain. Identitas anonim serta keleluasaan membuat skenario dan simbol permainan juga dapat dimanfaatkan untuk menyisipkan pesan ekstremisme.

Menurut peneliti senior Center for Security and Foreign Affairs (CESFAS) UKI tersebut, pemanfaatan gim untuk propaganda kelompok radikal telah terdeteksi sejak dekade 1980-an dan berkembang seiring kemajuan teknologi digital.

Ia menyebut ISIS mulai memanfaatkan permainan seperti Call of Duty pada 2014 untuk menarik perhatian masyarakat dan menjalankan propaganda. Risiko juga berkembang ketika permainan semakin mudah dikustomisasi dan memungkinkan pengguna membuat konten sendiri.

Pada Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) disebut mengonfirmasi pola perekrutan anak muda yang diarahkan dari platform gim ke grup pesan tertutup, seperti WhatsApp atau Telegram, untuk membangun komunikasi lebih intensif.

Orang Tua Perlu Mengenali Perubahan Perilaku

Angel menilai gim yang dapat diakses berbagai kelompok usia, mengangkat simulasi militer atau peperangan, serta menyediakan fitur pembuatan konten perlu mendapat perhatian. Meski demikian, pengawasan tidak berarti seluruh permainan daring harus dianggap berbahaya.

Di lingkungan keluarga, orang tua disarankan mengenali gim yang dimainkan anak, menyepakati aturan penggunaan perangkat digital, mengaktifkan fitur keselamatan, serta membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi.

Perubahan perilaku yang mendadak juga perlu diperhatikan, misalnya anak mulai mengisolasi diri, menunjukkan kebencian intens terhadap kelompok tertentu, atau terlibat dalam komunitas yang memuja kekerasan.

Penanganan Perlu Melibatkan Banyak Pihak

Di tingkat kebijakan, Angel mendorong penanganan yang melibatkan pemerintah, aparat, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Menurut dia, pendekatan tidak cukup hanya mengandalkan pemblokiran konten, tetapi perlu disertai tata kelola keamanan digital berbasis risiko.

“Di samping itu, pendekatan Indonesia harus bergerak dari sekadar pemblokiran konten menuju tata kelola keamanan digital yang berbasis risiko. Tata kelola tersebut harus berlandaskan prinsip whole of government dan whole of society,” ungkapnya.

Sejumlah langkah yang diusulkan meliputi penilaian risiko fitur komunikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), mekanisme koordinasi penanganan ancaman antara BNPT, Komdigi, dan Polri, serta pengembangan deteksi dini yang menggabungkan teknologi dengan analisis manusia.

Angel juga mendorong penguatan literasi gim dalam pembelajaran bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Selain itu, BNPT dan perguruan tinggi dapat mengembangkan basis data risiko yang terukur, disertai kerja sama dengan penyedia gim global.

“Melalui kombinasi pencegahan di tingkat keluarga, literasi digital, dan regulasi yang kolaboratif, ekosistem gim daring di Indonesia dapat tetap aman serta terbebas dari bahaya intoleransi dan terorisme,” pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online