Hari Santri Nasional, Pesantren Didorong Perkuat Literasi Digital Tangkal Radikalisme

Newswire
Newswire Kamis, 22 Oktober 2026 18:02 WIB
Hari Santri Nasional, Pesantren Didorong Perkuat Literasi Digital Tangkal Radikalisme

Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. KH. Didin Nurul Rosidin

Harianjogja.com, CIREBON — Pesantren dinilai memiliki peran strategis dalam membentengi generasi muda dari paparan intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan. Selain memperkuat pendidikan agama dan akhlak, pesantren perlu membekali santri dengan kemampuan literasi digital agar lebih kritis dalam menyaring informasi di media sosial.

Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. KH. Didin Nurul Rosidin, M.A., Ph.D., mengatakan tradisi keilmuan pesantren memiliki modal penting untuk membangun ketahanan generasi muda terhadap paham radikal.

Hal itu disampaikannya bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional pada Kamis (22/10/2026). Momentum yang diperingati setiap 22 Oktober tersebut, menurutnya, perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kontribusi pesantren dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.

"Kekuatan utama santri itu terletak pada pertemuan antara kedalaman ilmu, pendidikan akhlak, pengalaman hidup bersama, dan kesadaran kebangsaan. Maka otomatis, ketika keempatnya berjalan dengan baik, pesantren sebenarnya mempunyai modal penting untuk membentuk ketahanan terhadap intoleransi, ekstremisme, dan juga kekerasan," kata Didin melalui keterangan persnya.

Meski demikian, ia mengingatkan ketahanan terhadap paham radikal tidak terbentuk secara otomatis hanya karena seseorang berstatus santri. Karakter moderat perlu dibangun melalui proses pendidikan yang konsisten dan berkelanjutan.

"Namun, kita juga harus menyadari bahwa status sebagai santri itu tidak otomatis membuat mereka menjadi kebal terhadap propaganda. Inilah yang kemudian harus kita jadikan refleksi bahwa ketahanan itu merupakan hasil pendidikan yang harus terus dirawat," ujarnya.

Tradisi Pesantren Jadi Modal Menghadapi Radikalisme

Didin menjelaskan, tradisi pembelajaran di pesantren dapat melatih santri untuk memahami persoalan agama secara lebih mendalam dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Metode sorogan, bandongan, serta musyawarah membuka ruang bagi santri untuk mempelajari beragam penafsiran dan perbedaan pandangan ulama.

Pengalaman tersebut dinilai penting di tengah derasnya arus informasi digital yang memungkinkan potongan ceramah, narasi provokatif, dan informasi tanpa sumber yang jelas menyebar dengan cepat.

"Santri belajar bahasa, membaca kitab, kemudian memahami penjelasan guru, dan mengenali perbedaan pendapat ulama. Nah, ini tentunya diharapkan membuat santri berlatih untuk lebih berhati-hati menghadapi kesimpulan keagamaan yang terlalu instan dan terlalu mudah, terutama yang suka mengkafirkan, suka menyesatkan, atau menghalalkan kekerasan terhadap orang lain," tuturnya.

Kehidupan di lingkungan pesantren juga menanamkan nilai tawadhu, tasamuh, tawazun, tawassuth, dan i'tidal. Nilai-nilai tersebut mengajarkan kerendahan hati, toleransi, keseimbangan, sikap moderat, serta keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Didin, nilai-nilai itu perlu diterjemahkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk ketika santri berinteraksi di ruang digital. Perbedaan pandangan tidak semestinya menjadi alasan untuk merendahkan orang lain, menyebarkan kebencian, atau membenarkan kekerasan.

Warisan kebangsaan pesantren, termasuk semangat Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, juga perlu diwujudkan dalam bentuk pengabdian sesuai tantangan zaman. Salah satunya dengan berkontribusi membangun ruang publik yang damai dan menghargai keberagaman.

BNPT Didorong Bangun Ekosistem Pencegahan

Dalam menghadapi ancaman radikalisme di era digital, Didin menilai kolaborasi antara pesantren, perguruan tinggi, dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) perlu diperkuat. Upaya pencegahan, menurutnya, tidak cukup dilakukan melalui penyampaian pesan atau larangan, tetapi juga dengan menciptakan lingkungan yang memberi ruang bagi anak muda untuk bertanya dan berdialog.

"BNPT masih sangat relevan hingga kini karena memang secara faktual kita masih menghadapi persoalan itu. Maka kalau saya boleh usulkan, yang harus dilakukan oleh BNPT adalah membangun lingkungan atau ekosistem yang memungkinkan generasi muda belajar, bertanya, merasa dihargai, dan menyelesaikan perbedaan secara damai," katanya.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun kemitraan pendidikan berkelanjutan antara pengasuh pesantren, akademisi, dan BNPT. Pembelajaran juga dapat dikembangkan menggunakan studi kasus yang dekat dengan pengalaman generasi muda.

Melalui pendekatan tersebut, peserta didik dapat berlatih mengenali ciri-ciri ceramah provokatif, berita konflik yang tidak disertai sumber tepercaya, hingga ajakan menyerang kelompok lain. Kemampuan mengidentifikasi narasi semacam ini diharapkan membuat generasi muda lebih siap menghadapi propaganda di media sosial.

Didin juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam merancang program pencegahan. Bahasa dan format penyampaian pesan perlu menyesuaikan karakter generasi Z dan generasi Alfa agar lebih mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan mereka.

Selain itu, perluasan ruang perjumpaan lintas kelompok, penyediaan jalur bantuan yang tepercaya bagi remaja yang mengalami keterasingan, serta evaluasi program berdasarkan perubahan perilaku menjadi bagian penting dari upaya pencegahan.

Santri Perlu Kritis Menyaring Informasi

Aspek lain yang perlu diperkuat adalah kewaspadaan epistemik atau epistemic vigilance, konsep yang dikembangkan oleh Dan Sperber. Konsep ini menekankan pentingnya memeriksa kredibilitas sumber dan menilai informasi secara kritis sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Dalam praktiknya, generasi muda perlu membiasakan diri memeriksa asal informasi, memahami konteks sebuah pernyataan, membandingkan sumber, serta mempertimbangkan tujuan di balik pesan yang diterima. Langkah tersebut penting agar media sosial tidak menjadi saluran penyebaran prasangka dan kebencian.

Didin berharap perpaduan pendidikan pesantren, literasi digital, dan kerja sama lintas lembaga dapat membentuk generasi muda yang memiliki keyakinan kuat sekaligus mampu menghargai perbedaan.

"Dengan generasi muda yang moderat dan kritis itulah, maka akan muncul generasi yang kuat keyakinannya, jernih pertimbangannya, luas pergaulannya, dan yang lebih penting lagi adalah bertanggung jawab atas tindakannya," ujar Didin.

Penguatan peran pesantren dalam menghadapi radikalisme pun tidak hanya berkaitan dengan pendidikan keagamaan. Pesantren juga dapat menjadi ruang pembelajaran untuk membangun sikap kritis, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi digital demi menjaga perdamaian serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online