Gencatan Senjata Rusia-Ukraina Tekan Harga Minyak Dunia

Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika Senin, 12 Oktober 2026 11:37 WIB
Gencatan Senjata Rusia-Ukraina Tekan Harga Minyak Dunia

Kilang minyak lepas pantai. - Foto dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (12/10/2026) setelah muncul kesepakatan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina. Kesepakatan tersebut meningkatkan harapan pasar terhadap berkurangnya risiko gangguan pasokan energi global.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman Desember turun 1,65% menjadi US$102,99 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November terkoreksi 1,92% menjadi US$90,09 per barel.

Sentimen pasar menguat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Kesepakatan ini diharapkan mengurangi potensi gangguan pasokan akibat konflik kedua negara.

"Mulai saat ini, gencatan senjata energi berlaku dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua pihak telah sepakat. Jangan melanggarnya!" ujar Trump melalui unggahan di media sosial.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan dukungan terhadap kesepakatan tersebut. Namun, dia menekankan bahwa Rusia juga harus berkomitmen menjalankan gencatan senjata.

"Ukraina mendukung gencatan senjata dan penting bagi Rusia untuk turut mendukungnya," kata Zelenskyy melalui media sosial.

Pasokan Diesel Rusia Jadi Perhatian Pasar

Harapan terhadap tambahan pasokan energi juga muncul setelah Trump mengungkapkan kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Pada Jumat, Trump mengatakan Rusia akan memasok lebih dari 4 juta ton solar atau diesel ke pasar global berdasarkan kesepakatan yang dicapai melalui pembicaraan telepon dengan Putin.

Tambahan pasokan tersebut berpotensi meredakan kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan bahan bakar. Sebelumnya, ketidakpastian geopolitik menjadi salah satu faktor yang membayangi prospek pasokan energi internasional.

Di sisi lain, perkembangan diplomasi di Timur Tengah turut menjadi perhatian pelaku pasar. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan bin Abdullah.

Mengutip kantor berita resmi Arab Saudi, kedua pejabat membahas perkembangan situasi keamanan terbaru di kawasan serta upaya untuk meredakan ketegangan.

Al Jazeera melaporkan Araghchi menyampaikan kesiapan Iran membantu membuka dialog antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Langkah diplomatik tersebut muncul setelah serangkaian serangan Houthi terhadap Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan.

Harga Minyak Masih Dibayangi Risiko Geopolitik

Meski harga minyak melemah, pergerakan komoditas tersebut diperkirakan masih fluktuatif dalam jangka pendek. Konflik AS-Iran dan potensi gangguan produksi akibat Badai Isaias di Amerika Serikat menjadi sejumlah faktor yang masih diperhatikan pasar.

Dalam risetnya pada Senin, UOB menilai tekanan kenaikan harga minyak masih berpotensi berlanjut karena risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk Meksiko.

"Badai Isaias menguat menjadi kategori 3 dengan kecepatan angin mencapai 120 mil per jam saat mendekati pesisir Teluk AS, sehingga memaksa produsen energi mengurangi produksi lepas pantai," tulis UOB.

Pengurangan produksi lepas pantai tersebut berpotensi menekan produksi minyak Amerika Serikat dan memperketat pasokan di pasar global.

Selain faktor cuaca, UOB menyoroti risiko geopolitik di Timur Tengah setelah serangan rudal Houthi terhadap Bandara Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 12 orang dan menyebabkan lebih dari 300 orang terluka.

"Serangan rudal Houthi terhadap Bandara Riyadh telah meningkatkan premi risiko geopolitik di Timur Tengah secara signifikan," tulis UOB.

Dengan demikian, meskipun kesepakatan gencatan senjata Rusia-Ukraina memberikan sentimen positif bagi pasar minyak, perkembangan konflik dan potensi gangguan produksi masih menjadi faktor yang dapat memengaruhi pergerakan harga dalam waktu dekat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online