Daratan Baru Muncul di Sekitar Anak Krakatau, Benarkah Cucu Krakatau? Ini Kata Pakar

Sunartono
Sunartono Kamis, 24 September 2026 12:17 WIB
Daratan Baru Muncul di Sekitar Anak Krakatau, Benarkah Cucu Krakatau? Ini Kata Pakar

Daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau. /Instagram.

Harianjogja.com, JAKARTA— Kemunculan daratan baru di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, sempat memicu kebingungan dan spekulasi publik. Fenomena tersebut bahkan disebut-sebut di media sosial sebagai kelahiran gunung api baru yang dijuluki "cucu Krakatau".

Pakar kebencanaan geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IABI) Daryono, meluruskan informasi tersebut. Dia menegaskan daratan yang muncul di kawasan tersebut bukanlah gunung api independen baru.

Daratan Baru Anak Krakatau Terbentuk dari Material Vulkanik

Daryono menjelaskan daratan yang menyembul di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung merupakan hasil akumulasi material vulkanik.

Material tersebut berupa abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang menumpuk secara bertahap di laut.

"Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yg mengendap di laut," ujar Daryono dikutip Kamis (24/9/2026).

Menurut dia, terbentuknya daratan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor geologis dan oseanografis.

Kedalaman dasar laut di kawasan kaldera purba yang merupakan sisa letusan 1883 tergolong dangkal. Kondisi tersebut membuat material erupsi yang terlempar dan mendominasi sektor tersebut lebih cepat menumpuk hingga membentuk daratan.

Selain itu, dinamika arus dan gelombang laut Selat Sunda turut memengaruhi proses sedimentasi. Material terbawa menuju titik-titik perairan yang lebih tenang hingga akhirnya mengendap secara permanen.

Keberadaan daratan tersebut masih sangat dinamis karena dipengaruhi pertarungan antara aktivitas vulkanik dan erosi alam.

Jika erupsi Gunung Anak Krakatau terus berlanjut, pasokan material baru dapat membuat daratan semakin meluas. Daratan juga dapat menjadi lebih kokoh apabila terlapisi lava cair yang kemudian membeku.

Sebaliknya, apabila aktivitas erupsi berhenti, hantaman gelombang dan abrasi laut dapat mengikis endapan pasir hingga membuat daratan tersebut kembali tenggelam.

Tiga Syarat Daratan Bisa Disebut Gunung Api Baru

Untuk mengedukasi masyarakat agar tidak keliru memahami fenomena tersebut, Daryono menjelaskan terdapat tiga syarat geologis utama agar suatu daratan dapat dikategorikan sebagai gunung api baru yang berdiri sendiri.

Pertama, saluran magma mandiri. Daratan harus memiliki jalur magma sendiri yang terhubung langsung ke dapur magma melalui rekahan baru dan terpisah dari kawah induknya.

Kedua, aktivitas erupsi sendiri. Daratan tersebut wajib memuntahkan magma atau gas dari kawahnya sendiri, bukan sekadar menampung material yang berasal dari gunung api di sekitarnya.

Ketiga, deformasi dan struktur geologis. Harus terdapat aktivitas gempa vulkanik lokal atau pembengkakan tanah (deformasi) yang terpusat tepat di bawah daratan baru tersebut.

Masyarakat Diimbau Tidak Terprovokasi Isu Spekulatif

Menanggapi berbagai isu spekulatif yang beredar, Daryono mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum terverifikasi di media sosial.

Menurut dia, kemunculan daratan baru tersebut merupakan proses sedimentasi vulkanik yang lumrah terjadi di kawasan gunung api aktif.

"Langkah paling bijak yg perlu dilakukan adalah selalu menyaring informasi melalui sumber resmi yg berwenang, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)," tegas Daryono.

Dia juga mengingatkan masyarakat untuk selalu mematuhi rekomendasi mengenai jarak aman yang telah ditetapkan oleh petugas di lapangan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online