China Bersiap Pimpin BRICS 2027, Xi Jinping Ajukan 4 Usulan

Newswire
Newswire Minggu, 13 September 2026 11:57 WIB
China Bersiap Pimpin BRICS 2027, Xi Jinping Ajukan 4 Usulan

Pertemuan dalam rangkaian KTT BRICS di India. Antara/Anadolu/py.\r\n

Harianjogja.com, BEIJING— China siap mengambil alih keketuaan BRICS pada 2027 dan akan menjadikan momentum tersebut untuk memperkuat kerja sama negara-negara Selatan Global (Global South).

Presiden China Xi Jinping mengatakan negaranya juga akan menjadi tuan rumah Pertemuan Ke-19 KTT BRICS. China akan mendorong agenda yang mendukung pembangunan serta kemakmuran bersama negara-negara anggota.

"China akan mengambil alih keketuaan BRICS tahun depan dan menjadi tuan rumah Pertemuan Ke-19 KTT BRICS. China akan memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat konsensus dan membuka masa depan bersama, memulai era Dasawarsa Emas ketiga kerja sama BRICS, serta bersama-sama menciptakan masa depan cerah bagi kemakmuran bersama," kata Presiden Xi Jinping dalam sesi pertama KTT ke-18 BRICS di New Delhi, Sabtu (12/9), seperti termuat dalam laman Kementerian Luar Negeri China yang diakses ANTARA, Minggu.

Keketuaan BRICS berganti setiap tahun sesuai dengan huruf-huruf akronimnya. Masa jabatan setiap negara dimulai pada 1 Januari dan berakhir pada 31 Desember pada tahun yang sama.

Negara yang mendapat giliran memimpin BRICS memiliki kewenangan menetapkan prioritas agenda selama masa keketuaannya. Negara tersebut juga bertugas menyelenggarakan KTT tahunan sekaligus mengarahkan pertemuan tingkat menteri dan kelompok kerja utama.

Xi Soroti Peran BRICS bagi Selatan Global

Xi menyebut 2026 menandai peringatan 20 tahun kerja sama BRICS. Menurut dia, BRICS telah berkembang menjadi wadah kerja sama yang paling berpengaruh bagi negara-negara berkembang.

"Sebagai barisan terdepan negara Selatan Global, anggota BRICS tetap berpegang pada kemandirian, aktif menjajaki jalur pembangunan masing-masing, serta menjadi contoh bagi negara-negara berkembang lain untuk bersatu dan memperkuat diri," ucapnya.

Selama dua dekade keberadaannya, Xi mengklaim BRICS telah menghasilkan banyak capaian. Kelompok tersebut, menurut dia, turut berperan dalam menghadapi berbagai tantangan seperti krisis keuangan internasional, pandemi COVID-19, perubahan iklim, serta persoalan lainnya.

"BRICS kini telah memasuki tahap baru pembangunan berkualitas tinggi dalam kerangka 'Kerja Sama BRICS yang Lebih Besar'. Saat ini kekuatan Selatan Global tumbuh semakin kuat dan multipolarisasi dunia tidak dapat dibendung, tapi pada saat yang sama unilateralisme dan politik kekuasaan juga menguat. Negara-negara BRICS harus dengan teguh berdiri mengarahkan tatanan internasional menuju arah yang lebih adil dan rasional," kata Xi.

Dalam KTT tersebut, Xi juga menyampaikan empat usulan yang menurutnya perlu menjadi arah kerja sama negara-negara BRICS.

1. Mendorong Pembangunan Inovatif

Usulan pertama adalah menjadikan BRICS sebagai pelopor dalam mendorong pembangunan inovatif. Xi menawarkan Inisiatif BRICS tentang pemberdayaan industrialisasi baru melalui kecerdasan buatan atau AI.

"Pada kesempatan ini, saya mengusulkan Inisiatif BRICS tentang pemberdayaan industrialisasi baru melalui kecerdasan buatan (AI). China bersedia bekerja sama dengan semua pihak untuk menghasilkan lebih banyak capaian penelitian, pengembangan, dan penerapan, serta memperdalam kerja sama rantai industri dan rantai pasok," ucapnya.

2. Menjaga Perdamaian dan Stabilitas

Usulan kedua berkaitan dengan perdamaian dan stabilitas. Xi meminta negara-negara BRICS menjadi pelopor dalam menjaga stabilitas, termasuk di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Teluk dan Timur Tengah.

"Situasi di kawasan Teluk dan Timur Tengah masih terus berkembang, konflik tersebut telah menimbulkan kerugian besar bagi rakyat negara-negara di kawasan dan juga tidak sesuai dengan kepentingan bersama masyarakat internasional. Masalah Palestina senantiasa menjadi inti persoalan Timur Tengah dan jalan keluarnya adalah melaksanakan solusi dua negara dan mewujudkan hidup berdampingan secara damai antara Palestina dan Israel," kata Presiden Xi.

3. Memperkuat Pertukaran Antarperadaban

Xi juga mengusulkan agar BRICS menjadi pelopor dalam mendorong pertukaran dan pembelajaran antarperadaban. Kerja sama tersebut mencakup bidang kebudayaan, pariwisata, pendidikan, serta tata kelola negara.

"Kita harus menyelenggarakan dengan baik Forum Pertukaran Antarmasyarakat BRICS, berbagi pengalaman dalam tata kelola negara, dan memperdalam kerja sama di bidang kebudayaan, pariwisata, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya," tambah Xi.

4. Mereformasi Tata Kelola Global

Usulan keempat adalah menjadikan BRICS sebagai pelopor dalam mereformasi dan menyempurnakan tata kelola global dengan mengikuti tren demokratisasi.

Xi mendorong terbentuknya sistem tata kelola global yang lebih adil dan rasional, menjaga kewibawaan PBB, serta menentang tindakan keluar dari organisasi internasional, mengingkari kesepakatan, maupun membangun mekanisme tandingan.

"Kita harus mendukung sistem perdagangan multilateral yang berpusat pada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), mendorong reformasi WTO, menentang penyalahgunaan tarif, dan melawan segala bentuk proteksionisme," tegas Xi.

KTT BRICS 2026 di New Delhi

KTT ke-18 BRICS berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, pada 12–13 September 2026 di bawah keketuaan India. KTT tersebut mengusung tema "Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability" atau Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan.

Sejumlah pemimpin negara hadir dalam KTT BRICS tersebut. Mereka antara lain Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, serta Perdana Menteri India Narendra Modi.

Brasil diwakili Menteri Luar Negeri Mauro Vieira, sedangkan Arab Saudi diwakili Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.

Selain negara anggota, BRICS juga telah menerima sejumlah negara mitra dalam kerangka kerja sama kelompok tersebut. Negara-negara itu meliputi Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam.

Saat ini BRICS terdiri dari 11 negara, yaitu Brazil, Cina, Mesir, Ethiopia, India, india, Iran, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab. Berdasarkan data yang dikutip BRICS, kelompok tersebut mewakili sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto (PDB) global, dan 26 persen perdagangan global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online