Serda AMF Meninggal Dianaya Senior, 4 Prajurit TNI AU Ditahan

Newswire
Newswire Sabtu, 12 September 2026 11:47 WIB
Serda AMF Meninggal Dianaya Senior, 4 Prajurit TNI AU Ditahan

Foto ilustrasi penangkapan. - Dibuat menggunakan Artificial Intelligence/AI

Harianjogja.com, MAGETAN—Kematian Serda Ahmad Muzammil Farisa, 22, anggota TNI Angkatan Udara (AU) yang bertugas di Satuan Psikologi, meninggalkan tanda tanya bagi keluarganya. Prajurit tersebut meninggal dunia pada Kamis (10/9/2026) dini hari setelah menjalani kegiatan yang oleh pihak TNI AU disebut sebagai "pembinaan".

Keluarga Serda Ahmad di Magetan, Jawa Timur, mengaku pertama kali menerima kabar kematian dengan informasi yang berbeda-beda. Ibunda almarhum, Retno Setyorini, mengatakan kabar tersebut justru diterimanya melalui percakapan di grup WhatsApp.

Menurut Retno, awalnya ada seseorang yang menanyakan nama ibu almarhum di dalam grup tersebut. Setelah ia menjawab pertanyaan itu, kabar duka mengenai putranya langsung muncul.

"Begitu saya jawab, langsung muncul kabar duka. Saya cuma bisa menangis dan lemas," tutur Retno.

Tidak lama kemudian, ayah almarhum, Toni Eko Prasetyo, memperoleh kontak dari rekan seangkatan Serda Ahmad. Pada informasi awal yang diterima keluarga, putranya disebut meninggal akibat kecelakaan ketika mengikuti pembinaan fisik.

Namun, keluarga kemudian menerima informasi lain dari rekan Serda Ahmad. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Serda Ahmad diduga menjadi korban tindakan kekerasan yang dilakukan empat seniornya di Mess Psikologi Galaksi, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Keluarga menyebut dugaan kekerasan tersebut bermula dari persoalan terkait pembetulan pesanan makanan. Informasi itu membuat keluarga mempertanyakan penyebab kematian Serda Ahmad.

Keluarga Soroti Kondisi Jenazah

Keraguan keluarga semakin kuat setelah melihat kondisi jenazah. Toni mengatakan terdapat lebam pada bagian dada serta bekas luka di dagu almarhum.

Atas kondisi tersebut, keluarga memilih memakamkan Serda Ahmad tanpa prosesi pemakaman militer. Mereka juga meminta pimpinan TNI AU mengusut perkara tersebut secara tegas.

"Kami memohon kepada Bapak Presiden, KSAU, dan jajaran pimpinan Satuan Psikologi untuk menindak tegas para pelaku yang memicu kematian anak kami," tegas Toni.

Di sisi lain, TNI AU memastikan empat prajurit yang disebut menganiaya Serda AMF telah ditangkap dan ditahan oleh Polisi Militer Angkatan Udara (Pomau).

Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana membenarkan penahanan tersebut. Namun, dia membantah bahwa Serda AMF meninggal karena dianiaya.

"Sudah ditahan," kata Nyoman saat dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Sabtu.

TNI AU Sebut Korban Meninggal Saat Pembinaan

Nyoman menegaskan Serda AMF meninggal ketika dilakukan "pembinaan". Namun, dia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai bentuk atau maksud kegiatan "pembinaan" yang dimaksud.

Proses penyelidikan kasus tersebut masih berlangsung di lingkungan Pomau. TNI AU sebelumnya juga telah menyampaikan bahwa dugaan kekerasan terhadap Serda AMF tengah diselidiki untuk mengungkap kronologi dan fakta kejadian secara utuh.

"Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau) saat ini tengah menyelidiki dugaan kekerasan yang dialami Serda AMF untuk mengungkap secara utuh kronologi serta fakta-fakta yang berkaitan dengan kejadian tersebut," kata Nyoman seperti dikutip siaran pers yang diterima Jumat (11/9).

Dalam siaran pers tersebut disebutkan Pomau telah memeriksa sejumlah saksi. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kronologi kejadian serta penyebab terjadinya dugaan aksi kekerasan tersebut.

TNI AU memastikan proses hukum yang dilakukan penyelidik Pomau berjalan secara independen dan profesional serta sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dengan penyelidikan yang masih berjalan, penyebab kematian Serda AMF dan rangkaian kejadian yang melatarbelakanginya masih menunggu hasil proses hukum dari Pomau.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online