Anak Krakatau Erupsi Lagi, Dentuman Terdengar di 3 Provinsi

Newswire
Newswire Sabtu, 05 September 2026 13:52 WIB
Anak Krakatau Erupsi Lagi, Dentuman Terdengar di 3 Provinsi

Erupsi Anak Krakatau pada 5 September 2026 diduga menyebabkan dentuman terdengar hingga Bandung Raya, Banten, dan Lampung. /Antara.

Harianjogja.com, BANDUNG— Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada Sabtu (5/9/2026) diduga menjadi penyebab suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat di tiga provinsi, termasuk Bandung Raya. Aktivitas erupsi tersebut berlangsung sejak pukul 23.07 WIB hingga setidaknya pukul 04.40 WIB.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan laporan suara dentuman dan getaran datang dari sejumlah wilayah di Jawa Barat, termasuk Bandung Raya, Banten, dan Lampung. Waktu munculnya fenomena tersebut bertepatan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang dipantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Erupsi menerus dalam durasi beberapa jam yang berasosiasi dengan erupsi lava air mancur merupakan fenomena yang umum terjadi. Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama," kata Lana di Bandung, Sabtu.

Mengapa Dentuman Anak Krakatau Terdengar di Bandung?

Meski Bandung Raya berjarak jauh dari Gunung Anak Krakatau, suara erupsi dapat merambat hingga wilayah tersebut. Lana menjelaskan fenomena itu dapat terjadi karena adanya pelepasan gas secara cepat serta gesekan dan turbulensi aliran lava berkecepatan tinggi di dalam konduit atau lubang kepundan.

"Gelombang suara dari Anak Krakatau dapat merambat jauh melalui atmosfer dan akhirnya terdengar di Bandung, meskipun beberapa wilayah pesisir yang lebih dekat belum tentu mendengarnya dengan jelas," katanya.

Menurut Lana, gelombang suara atau tekanan udara berfrekuensi rendah dapat menjangkau jarak hingga ratusan kilometer melalui atmosfer. Kondisi atmosfer dan arah angin juga dapat memengaruhi perjalanan gelombang suara tersebut.

Perubahan suhu, tekanan, dan angin pada lapisan atmosfer di ketinggian tertentu dapat menyebabkan gelombang suara mengalami pembiasan. Jalurnya dapat membengkok dan kembali menuju permukaan di lokasi yang jauh dari sumber suara.

"Hingga suara bisa turun kembali jauh dari sumber. Yang terasa di Bandung yang berjarak 700 km (garis lurus) adalah dentuman, kaca dan pintu bergetar," ucapnya.

Erupsi Disertai Semburan Merah Menyala

Berdasarkan pemantauan PVMBG, aktivitas erupsi pada periode tersebut juga disertai suara gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten.

Pengamatan visual menunjukkan adanya semburan berwarna merah menyala yang berlangsung secara terus-menerus. Meskipun ketinggian kolom erupsi belum dapat dipastikan, karakter semburan tersebut menyerupai fenomena lava fountain atau lava air mancur.

Fenomena lava fountain dapat menghasilkan aliran lava. Karena itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap perlu diwaspadai masyarakat yang berada di wilayah sekitar kawasan gunung api tersebut.

Gunung Anak Krakatau Masih Level III

Badan Geologi mengimbau masyarakat tidak panik menyikapi aktivitas terbaru Gunung Anak Krakatau. Lana juga meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, khususnya informasi mengenai kemungkinan tsunami.

"Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik. Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami," kata Lana.

Saat ini aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Status tersebut telah ditetapkan sejak 2 Juli 2026.

Dengan status tersebut, masyarakat tetap diminta mewaspadai sejumlah potensi bahaya erupsi. Bahaya tersebut meliputi aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, hingga hujan abu vulkanik.

Sebaran abu vulkanik juga dapat mengganggu jarak pandang dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak.

"Masyarakat kami minta tetap waspada terhadap potensi bahaya erupsi, termasuk sebaran abu vulkanik, namun tidak perlu panik. Apabila terjadi hujan abu, masyarakat di wilayah terdampak diimbau menggunakan pelindung pernapasan dan mengikuti arahan resmi dari Badan Geologi, PVMBG, serta BPBD setempat," ujar Lana.

Radius 3 Kilometer Harus Dikosongkan

Untuk alasan keselamatan, masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki dilarang memasuki kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau harus dikosongkan dari aktivitas masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki. Ketentuan ini perlu dipatuhi karena potensi aliran lava dan lontaran material pijar masih dapat terjadi," ucap Lana.

Sementara itu, masyarakat yang berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung diimbau tetap menjalankan aktivitas seperti biasa dengan tetap memperhatikan perkembangan informasi resmi pemerintah.

Badan Geologi juga meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah kesalahpahaman serta keresahan akibat informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Kementerian ESDM melalui PVMBG akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan aktivitas gunung api tersebut. Informasi resmi dapat diperoleh melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di nomor (022) 7272606 atau Pos Pengamatan Gunung Krakatau di (0254) 651449/085846324506.

Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau juga dapat dipantau melalui aplikasi MAGMA Indonesia, laman resmi, serta media sosial Kementerian ESDM, Badan Geologi, dan PVMBG.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online