Banjir Bandang Nepal Tewaskan 616 Orang, 2.500 Masih Hilang

Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela Sabtu, 29 Agustus 2026 13:07 WIB
Banjir Bandang Nepal Tewaskan 616 Orang, 2.500 Masih Hilang

Truk terendam banjir yang terjadi di Nepal./istimewa-RRI.co.id

Harianjogja JAKARTA—Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang yang menerjang wilayah Nepal bertambah menjadi 616 orang. Kepolisian Nepal juga melaporkan 2.301 orang mengalami luka-luka dan sekitar 2.500 orang masih belum diketahui keberadaannya.

Data tersebut disampaikan Kepolisian Nepal pada Sabtu (29/8/2026) waktu setempat. Para korban yang masih hilang berada di kawasan perbatasan Nepal dan China, termasuk puluhan warga Amerika Serikat serta sejumlah warga negara asing lainnya.

Bencana banjir bandang juga menerjang wilayah perbatasan China. Salah satu pejabat China yang dikutip media pemerintah setempat mengatakan belum ditemukan tanda-tanda korban selamat di pos perbatasan China yang diterjang gelombang banjir dahsyat pada awal pekan ini.

Bahkan, tidak ada bangunan yang masih dapat dikenali di area yang terdampak bencana tersebut.

Salah satu rekaman pada Rabu memperlihatkan dahsyatnya banjir yang menerjang sebuah gedung administrasi besar di Pelabuhan Gyirong. Arus banjir menyeret kendaraan-kendaraan berukuran besar di kawasan tersebut.

Tim penyelamat China tiba di pelabuhan darat itu pada Jumat sore. Lokasi Pelabuhan Gyirong berada di ketinggian lebih dari 3.800 meter di atas permukaan laut.

“Bangunan-bangunan yang berada di zona terdampak tanah longsor sebagian besar telah rata dengan tanah dan tidak ada bentuk bangunan yang dapat dikenali,” kata Liu Maolin, pemimpin tim penyelamat, kepada stasiun televisi pemerintah China, CCTV.

Tim Penyelamat Hadapi Medan Ekstrem

Hingga Sabtu, belum ada korban selamat yang ditemukan di lokasi tersebut. Meski demikian, Liu memastikan tim penyelamat tetap melanjutkan pencarian selama masih terdapat kemungkinan korban dapat ditemukan.

Tim penyelamat harus bekerja dalam kondisi medan dan cuaca yang ekstrem. Mereka juga membawa peralatan dengan bobot mencapai puluhan kilogram selama menjalankan operasi pencarian.

Menurut laporan China Emergency Management News, kondisi ketinggian lokasi membuat aktivitas fisik menjadi sangat berat. Bahkan berjalan beberapa langkah dapat memicu sesak dada, kesulitan bernapas, pusing hingga sakit kepala.

Operasi pencarian dan penyelamatan masih dilakukan untuk menemukan korban yang belum diketahui keberadaannya sekaligus memastikan kondisi di kawasan terdampak bencana.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online