Karhutla 1.511 Hektare, Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan
Kemenhut menjatuhkan sanksi kepada enam perusahaan setelah karhutla membakar 1.511,55 hektare areal kelolaan di Kalimantan.
Foto ilustrasi ebola dibuat dengan artificial intelligence.
Harianjogja.com, JAKARTA— Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) terus bertambah cepat. Institut Kesehatan Masyarakat Nasional (INSP) pada Senin (24/8) mencatat total 5.514 kasus terkonfirmasi dengan 2.642 kasus kematian sejak wabah tersebut dimulai.
Dalam laporan terbaru itu, INSP menyebut terdapat tambahan 55 kasus baru dan 23 kematian dalam 24 jam terakhir. Sebanyak 18 pasien lainnya dinyatakan sembuh.
"Dalam 24 jam terakhir, dilaporkan 55 kasus baru dan 23 kematian; sementara 18 lainnya dinyatakan sembuh. Dengan demikian, total kasus sejak awal wabah telah mencapai 5.514, dengan 2.642 kematian," kata INSP dalam buletin harian.
Lonjakan kasus tersebut turut mendorong negara-negara di sekitar RD Kongo meningkatkan kewaspadaan. Sebanyak 10 negara di Afrika timur, tengah, dan selatan telah memperketat pemeriksaan kesehatan di perbatasan dengan Kongo untuk mengantisipasi penyebaran Ebola.
Vaksin dan Pengobatan Belum Disetujui
Penanganan wabah menghadapi tantangan karena hingga kini belum ada vaksin atau pengobatan yang resmi disetujui untuk Bundibugyo, Ebola jenis baru.
Meski demikian, data laboratorium menunjukkan vaksin baru Ervebo yang disalurkan dari persediaan vaksin Ebola global ke Kongo mungkin dapat memberikan perlindungan tertentu.
Cepatnya pertambahan kasus juga menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Koordinator Senior PBB untuk Ebola di RD Kongo, Julien Harneis, mengatakan separuh dari 2.500 kasus kematian akibat Ebola terjadi dalam 20 hari terakhir.
Harneis menyampaikan kondisi tersebut dalam konferensi pers di Jenewa. Menurut dia, tambahan sumber daya sangat dibutuhkan untuk mengendalikan wabah yang berlangsung di wilayah seluas Prancis tersebut.
Wabah Berlangsung di Tengah Konflik
Upaya pengendalian Ebola berlangsung ketika RD Kongo masih menghadapi dampak konflik bersenjata yang telah berlangsung selama 30 tahun.
Kondisi tersebut turut meningkatkan kebutuhan bantuan kemanusiaan di wilayah yang terdampak wabah. Situasi keamanan dan kebutuhan penanganan kesehatan menjadi bagian dari tantangan dalam merespons penyebaran Ebola di negara tersebut.
Kasus Ebola Sebelumnya Tercatat 5.208
Sebelum laporan terbaru INSP pada Senin (24/8), jumlah kasus terkonfirmasi Ebola di RD Kongo tercatat 5.208 kasus. Data tersebut dilaporkan Institut Kesehatan Masyarakat Nasional RD Kongo pada Kamis (20/8), dengan jumlah kematian mencapai 2.476 orang.
Dengan demikian, data pada 24 Agustus menunjukkan penambahan kasus terkonfirmasi dan kematian dibandingkan laporan pada 20 Agustus.
Wabah Ebola tersebut diumumkan pada 15 Mei lalu. Wabah ini berbeda dari sebagian besar wabah sebelumnya karena belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk jenis patogen baru bernama Bundibugyo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kemenhut menjatuhkan sanksi kepada enam perusahaan setelah karhutla membakar 1.511,55 hektare areal kelolaan di Kalimantan.
DPR memastikan RUU Perampasan Aset disahkan paling lambat Desember 2026. Komisi III kini mengejar pembahasan tersisa.
Pakar UMY Susilo Nur Aji menilai desil DTSEN bukan label mutlak kesejahteraan dan perlu dievaluasi sesuai dinamika ekonomi keluarga.
Kondur Gangsa 2026 digelar malam ini di Keraton Jogja. Simak titik pengalihan arus lalu lintas dan jam pemberlakuannya.
Tradisi Siraman Panjang Keraton Kasepuhan Cirebon kembali digelar. Warga antusias berebut air bekas cucian pusaka yang dipercaya membawa berkah.
Video pencopotan logo Bank Mandiri di gedung Jakarta viral di tengah polemik rekening Mas Botok yang mendapat sorotan publik.