Prevalensi Hipertensi Tinggi, Omron Dorong Cek Tekanan Darah Mandiri

Newswire
Newswire Kamis, 20 Agustus 2026 18:02 WIB
Prevalensi Hipertensi Tinggi, Omron Dorong Cek Tekanan Darah Mandiri

Prevalensi hipertensi di DIY mencapai 31,8% berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Prevalensi hipertensi di DIY mencapai 31,8% berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan prevalensi hipertensi secara nasional yang berada di angka 30,8%.

Kondisi itu membuat pengendalian tekanan darah secara berkesinambungan menjadi perhatian. Omron Healthcare Indonesia memperkuat akses masyarakat terhadap layanan pemantauan tekanan darah mandiri melalui Omron Experience Center (OEC) di Jalan Gajahmada No. 21, Pakualaman, Jogja. Fasilitas tersebut diperkuat melalui kerja sama dengan Datascrip Service Center untuk menyediakan layanan servis, kalibrasi alat, serta edukasi penggunaan tensimeter digital yang tervalidasi secara klinis.

Penguatan layanan ini dilakukan di tengah masih tingginya prevalensi hipertensi di DIY. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah pada penduduk usia 18 tahun ke atas di DIY mencapai 31,8%, lebih tinggi dibandingkan angka nasional sebesar 30,8%.

Keberadaa OEC di Jogja merupakan bagian dari upaya mendekatkan masyarakat dengan layanan yang mendukung penggunaan perangkat kesehatan secara tepat.

"Kami ingin mendekatkan akses terhadap layanan servis dan kalibrasi, sekaligus mendukung masyarakat agar dapat menggunakan perangkat kesehatan secara tepat dan optimal," Direktur OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, Kamis (20/8/2026).

Dorong Kebiasaan Pantau Tekanan Darah

Menurut Tomoaki, akses terhadap layanan yang mendukung penggunaan perangkat kesehatan secara tepat menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan pemantauan kesehatan yang berkelanjutan.

Pihaknya berkomitmen membantu masyarakat menurunkan risiko stroke dan serangan jantung melalui pencegahan serta pemantauan kesehatan yang lebih baik. Pengelolaan hipertensi membutuhkan pemantauan konsisten, termasuk ketika masyarakat melakukan pemeriksaan secara mandiri di rumah.

Komitmen tersebut sejalan dengan misi global, yakni Going for ZERO, yang diarahkan untuk membantu menekan risiko stroke dan serangan jantung.

Kehadiran OEC di Jogja tidak hanya berkaitan dengan layanan perangkat kesehatan. Fasilitas tersebut juga menjadi sarana edukasi agar masyarakat dapat memahami penggunaan tensimeter digital secara tepat dan optimal.

PERKI Tekankan Pentingnya Pemantauan di Rumah

Ketua Pokja Hipertensi Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. Bagus Andi Pramono, Sp.JP, FIHA, mengatakan hipertensi merupakan kondisi kesehatan yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang.

Karena itu, pemantauan tekanan darah secara berkala di rumah penting dilakukan untuk mengetahui kondisi tekanan darah dalam aktivitas sehari-hari.

"Pemantauan di rumah dapat membantu memberikan gambaran tekanan darah dalam aktivitas sehari-hari, terutama apabila dilakukan secara konsisten dengan perangkat yang tervalidasi dan metode pengukuran yang benar," kata Dr. Bagus, Kamis (20/8/2026).

Ia menambahkan hasil pengukuran mandiri juga dapat menjadi basis data yang membantu dokter mengevaluasi kondisi pasien ketika berkonsultasi.

"Masyarakat tidak hanya perlu mengetahui angka tekanan darahnya, tetapi juga memahami cara mengukurnya dengan benar dan mencatat hasilnya secara konsisten," ujarnya.

Urgensi pemantauan tekanan darah tersebut terlihat dari data kesehatan di DIY. SKI 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah pada penduduk usia 18 tahun ke atas di DIY sebesar 31,8%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan prevalensi hipertensi nasional yang mencapai 30,8%.

Sementara itu, data HEARTS Dinas Kesehatan Kota Jogja hingga Juli 2026 mencatat sekitar 97.362 penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami hipertensi. Namun, sebanyak 44,90% pasien terdaftar tidak tercatat melakukan kunjungan kontrol dalam 12 bulan terakhir.

Kondisi tersebut menjadi salah satu konteks penting bagi penguatan pemantauan kesehatan mandiri. Dengan pencatatan hasil pengukuran yang konsisten, data tekanan darah di rumah dapat digunakan sebagai informasi ketika pasien berkonsultasi dengan dokter.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online