Banjir Bandang Nepal-Tibet, Kemlu Pantau 45 WNI
Kemlu memantau sekitar 45 WNI di Nepal setelah banjir bandang Nepal-Tibet. Hingga 27 Agustus, belum ada laporan WNI terdampak.
Rel kereta api, jalur kereta api - Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah mempercepat persiapan pengembangan jaringan Kereta Trans Sumatra dan Kereta Trans Kalimantan sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas antardaerah. PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah menuntaskan penyusunan roadmap Trans Sumatra, sementara pemerintah mulai menjalin komunikasi dengan calon investor dari China dan Rusia untuk proyek Trans Kalimantan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan percepatan kedua proyek tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperluas jaringan transportasi berbasis rel di Indonesia.
"Oh kita menindaklanjuti apa yang disampaikan Presiden. Kita sudah berkoordinasi dengan KAI. KAI sudah menyiapkan roadmap-nya. Nanti kemudian dari situ kita berharap bahwa ada investasi, baik dalam negeri maupun luar negeri, untuk menggarap Trans Sumatra dan Trans Kalimantan," ujar Dudy usai menghadiri agenda Pertemuan Presiden RI dengan 150 Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Trans Sumatra Lebih Siap Dikembangkan
Menurut Dudy, pengembangan jaringan kereta di Pulau Sumatra memiliki tingkat kesiapan yang lebih tinggi dibandingkan Kalimantan. Hal itu karena sebagian lintasan rel telah tersedia sehingga pembangunan difokuskan pada penyambungan jalur yang sudah ada.
"Kalau Trans Sumatra kan sebagian sudah tersedia, tinggal kita sambung-sambungkan. Kalau Trans Kalimantan memang kita harus mulai dari nol," katanya.
Sementara itu, pembangunan Kereta Trans Kalimantan memerlukan perencanaan dari tahap awal lantaran hingga kini pulau tersebut belum memiliki jaringan kereta api.
Meski pembangunan Trans Kalimantan masih berada pada tahap awal, pemerintah telah membuka komunikasi dengan sejumlah investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Dudy menyebut China dan Rusia menjadi dua negara yang telah dijajaki untuk berpartisipasi dalam proyek tersebut.
"Belum, belum (ada kereta api di Kalimantan). Tapi sudah kita jajaki dengan dalam negeri maupun dengan luar negeri. Di antaranya China dan Rusia sudah kita jajaki," ujarnya.
Namun demikian, pemerintah belum menetapkan nilai investasi maupun estimasi biaya pembangunan karena seluruhnya masih menunggu hasil studi kelayakan bisnis dari para calon investor.
"Belum, belum. Kita juga harus lihat perhitungan bisnisnya mereka," katanya.
Komunikasi dengan Rusia
Dudy juga mengungkapkan pemerintah kembali membuka komunikasi dengan Rusia terkait peluang kerja sama pembangunan jaringan kereta api. Langkah tersebut menghidupkan kembali penjajakan yang sempat dilakukan pada era Presiden Joko Widodo.
"Nah, itu (kerja sama Rusia) kita buka kembali, kita jajaki kembali, termasuk dengan China," ujarnya.
Sebelumnya, rencana pembangunan jaringan Kereta Trans Kalimantan pernah ditawarkan sebagai kerja sama strategis antara pemerintah Indonesia dan Rusia untuk memperluas infrastruktur perkeretaapian di luar Pulau Jawa.
Pada 2015–2016, perusahaan asal Rusia, JSC Russian Railways, sempat merancang proyek KA Borneo di Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah dengan nilai investasi mencapai puluhan triliun rupiah.
Proyek yang ditujukan untuk angkutan batu bara sekaligus penumpang itu kemudian tertunda hingga akhirnya investor Rusia memutuskan menarik diri.
KAI dan Danantara Ikut Terlibat
Selain membuka peluang investasi, pemerintah juga memastikan PT Kereta Api Indonesia akan terlibat dalam pengembangan proyek tersebut. Saat ini, KAI berada di bawah pengelolaan Danantara.
"Ya tentunya, kan KAI kan Danantara," kata Dudy.
Menurut Dudy, proyek yang lebih dahulu direalisasikan akan sangat bergantung pada hasil perhitungan bisnis para investor. Ia menilai peluang pengembangan Trans Sumatra saat ini lebih besar karena didukung kebutuhan logistik yang telah terbentuk, sedangkan Trans Kalimantan dinilai memiliki daya tarik lebih besar bagi investor asing.
Ia menambahkan komunikasi dengan calon investor terus berlangsung dan saat ini mereka masih menghitung aspek teknis maupun keekonomian proyek sebelum mengajukan proposal resmi kepada pemerintah.
"Kalau komunikasi sudah. Mereka pasti sedang mencoba untuk menghitung, kemudian nanti akan menyampaikan proposal ke kita," tandas Dudy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Kemlu memantau sekitar 45 WNI di Nepal setelah banjir bandang Nepal-Tibet. Hingga 27 Agustus, belum ada laporan WNI terdampak.
Pemerintah memastikan cadangan BBM berada di standar minimal 18–21 hari dan harga BBM subsidi tak naik hingga akhir 2026.
Mako Brimob Polda DIY di pesisir Gunungkidul mulai dibangun. Sebanyak 18 rumah dinas ditargetkan rampung sebelum akhir Desember 2026.
Nguyen Quang Hai absen membela Vietnam di FIFA ASEAN Cup 2026 karena cedera pergelangan kaki. Kim Sang-sik memanggil Minh Khoa.
Jumlah pernikahan di Sleman turun 895 dalam empat tahun. Ekonomi, pendidikan, karier hingga pendewasaan usia nikah menjadi sejumlah faktor.
Klasemen medali Asian Games 2026 Selasa 22 September pukul 15.00 WIB. Indonesia turun ke posisi 20 setelah Cok Istri menambah perunggu.