Soal AI dan Nuklir, Prabowo: Teknologi Bisa Mengancam Manusia

Akbar Evandio
Akbar Evandio Minggu, 28 Juni 2026 16:17 WIB
Soal AI dan Nuklir, Prabowo: Teknologi Bisa Mengancam Manusia

Presiden Prabowo Subianto menghadiri agenda Penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri 2026, di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Minggu (28/6/2026).Bisnis-Akbar Evandio

Harianjogja.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menyoroti pesatnya perkembangan teknologi global yang dinilai tidak selalu membawa dampak positif bagi kehidupan manusia. Ia pun meminta kalangan akademisi dan ilmuwan untuk lebih serius mengkaji potensi risiko, terutama dari kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi nuklir.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menutup Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Minggu (28/6/2026).

Menurutnya, setiap kemajuan teknologi selalu memiliki dua sisi yang perlu dicermati secara seimbang. Di satu sisi, teknologi mampu memberikan manfaat besar bagi peradaban manusia, tetapi di sisi lain juga menyimpan potensi ancaman serius.

“Kita harus sadar bahwa teknologi tidak selalu berdampak positif. Nuklir, misalnya, bisa menjadi sumber energi yang murah dan relatif bersih, tetapi juga memiliki potensi menghancurkan peradaban manusia,” ujar Prabowo.

Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan energi nuklir selama ini telah digunakan secara luas di berbagai sektor strategis, seperti kesehatan, pertanian, hingga penyediaan energi. Namun, risiko penyalahgunaan tetap menjadi perhatian utama yang tidak boleh diabaikan.

Selain itu, Prabowo juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan yang kini menjadi fokus hampir seluruh negara di dunia. Persaingan dalam penguasaan teknologi AI disebutnya semakin ketat karena setiap negara berlomba untuk tidak tertinggal dalam inovasi.

“Hampir semua negara sekarang mengejar AI, tidak mau ketinggalan,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sejumlah pengembang AI sendiri telah menyampaikan kekhawatiran terkait dampak teknologi tersebut. Salah satu yang disinggung adalah kemunculan agent AI, yakni sistem kecerdasan buatan yang dapat bekerja secara mandiri untuk individu, organisasi, hingga negara.

“Konon kabarnya sudah ada jutaan agent AI yang bisa berkomunikasi sendiri dalam sistemnya,” ujar Prabowo.

Ia menilai, perkembangan ini menunjukkan bahwa manusia telah menciptakan teknologi dengan kemampuan yang semakin melampaui batas di berbagai bidang. Bahkan, mesin kini mampu menghasilkan karya kompleks serta mengungguli manusia dalam beberapa kompetisi intelektual.

Melihat kondisi tersebut, Prabowo meminta para guru besar, profesor, dan komunitas akademik untuk mengambil peran lebih besar dalam mengkaji arah perkembangan teknologi, termasuk dampak sosial, etika, dan keamanannya.

“Peran akademisi sangat penting untuk memastikan teknologi berkembang ke arah yang benar dan bermanfaat bagi manusia,” tegasnya.

Ia berharap kajian yang mendalam dari kalangan ilmuwan dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang tepat, sehingga perkembangan teknologi tetap berada dalam kendali dan memberikan manfaat maksimal tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online