Panas Bumi Ungaran Dikembangkan, PLN Siapkan PLTP 55 MW
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.
Foto ilustrasi bayi kembar. - ist
Harianjogja.com, JAKARTA—Kasus jual beli bayi melalui media sosial terungkap setelah Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menemukan tujuh bayi telah diperjualbelikan dengan harga hingga Rp80 juta. Polisi memastikan seluruh bayi berhasil diselamatkan dan jaringan pelaku kini dibongkar.
Wakil Kepala Bareskrim Polri Irjen Nunung Syaifuddin menyampaikan jumlah bayi yang diperjualbelikan dalam kasus tersebut mencapai tujuh orang. Meski jumlahnya tidak besar secara angka, ia menegaskan perkara ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan nyawa manusia.
"Tujuh orang bayi ini bukan jumlah yang sedikit karena ini terhitung nyawa sehingga menjadi atensi khusus pimpinan kami untuk bisa mengungkap perkara ini," ujar Nunung di Bareskrim, Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Direktur Tindak Pidana Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Dirtipid PPA dan PPO) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Nurul Azizah menjelaskan praktik jual beli bayi dilakukan melalui berbagai platform media sosial, di antaranya TikTok hingga Facebook.
Berdasarkan hasil penyelidikan, harga bayi yang diperjualbelikan bervariasi mulai Rp8 juta hingga Rp80 juta, tergantung mekanisme transaksi serta peran perantara dalam jaringan tersebut.
"Harga dari Ibu bayi, Rp8 juta sampai dengan Rp 15 juta. Kalau harga perantara Rp15 sampai Rp80 juta. Kalau perantara, semakin banyak perantaranya, harganya semakin mahal," katanya.
Dalam pengungkapan kasus jual beli bayi ini, penyidik telah menetapkan total 12 tersangka. Para tersangka terbagi dalam dua kelompok, yakni orang tua kandung yang menjual bayi dan pihak perantara yang memfasilitasi transaksi ilegal tersebut.
Jaringan tersebut diketahui beroperasi di sejumlah daerah di Indonesia, meliputi Jakarta, Banten, Jogja, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, Bali, Kalimantan, Kepulauan Riau, hingga Papua sejak 2024.
"Dari keterangan tersangka, jaringan ini telah melakukan aktivitas penjualan bayi secara ilegal sejak tahun 2024 dengan pendapatan ratusan juta rupiah," katanya.
Kasus jual beli bayi melalui media sosial ini masih terus dikembangkan oleh penyidik untuk mengungkap kemungkinan korban lain maupun jaringan yang lebih luas, termasuk aliran keuntungan yang diperoleh para pelaku dari praktik ilegal tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.
Bahlil Lahadalia mengatakan Kemenko Hilirisasi dan Transisi Energi dibentuk untuk mempercepat eksekusi target hilirisasi dan transisi energi.
PT Virgo Karya Shipping memberikan pendampingan hukum kepada nakhoda Kapal Virgo Transport 8 yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Sarmuji resmi menjadi Menperin menggantikan Agus Gumiwang. Kadin meminta empat persoalan industri segera menjadi perhatian.
Koperasi Semesta belum bisa memasok susu untuk MBG karena produksi terserap industri dan UMKM. Populasi sapi akan ditambah 200 ekor.
BPS mencatat inflasi September 2026 mencapai 3,28% secara tahunan. Program MBG turut mendorong kenaikan harga daging ayam ras.