7 Siswa SMK Ngawi Sakit Usai Santap MBG, Ini Penjelasan Polisi
Tujuh siswa SMK Pamardi Siwi 2 Ngrambe, Ngawi, mengalami mual, muntah dan pusing setelah makan MBG. Sampel makanan diuji di laboratorium.
Salah satu sudut Kampung Batik Laweyan/JIBI/Solopos/Dok
Harianjogja.com, SOLO—Daerah Laweyan Solo, Jawa Tengah diyakini menyimpan banyak bungker yang dibangun sejak masa kerajaan.
Selain keberadaan lorong bawah tanah rahasia yang diduga berfungsi sebagai jalur distribusi opium atau candu semasa Kerajaan Pajang dan Kasunanan Solo, di wilayah Laweyan, Solo, diyakini terdapat banyak bungker.
Bungker-bungker itu diduga berada di bawah rumah para juragan atau saudagar batik di Laweyan. Keyakinan tersebut dicuatkan pecinta sejarah Solo, KRMT L Nuky Mahendranata Nagoro saat berbincang dengan Solopos.com-jaringan Harianjogja.com.
Dulu, bungker-bungker itu digunakan oleh para juragan di Laweyan untuk menyimpan aset berharga mereka berupa kain batik tulis. Bungker sengaja dibuat lantaran mereka menyadari potensi terjadinya perampokan.
“Lorong berbeda dengan bungker. Lorong untuk sirkulasi, untuk lalu lintas. Kalau bungker untuk menyimpan barang. Setiap rumah di sini saya kira ada bungkernya,” ujar Nuky, Selasa (30/11/2021) di Kopi Puspa Laweyan.
BACA JUGA: 1 Orang Teknisi Tewas di Kebakaran Gedung Cyber Jakarta
Dia menjelaskan pada zaman dulu para saudagar atau bos batik di Laweyan bisa dibilang merupakan pesaing dari kaum ningrat di kerajaan. Dengan kekayaan yang dimiliki mereka membentuk dan membangun komunitasnya.
“Dulu ada dua kelompok masyarakat. Pertama golongan ningrat yang memiliki hegemoni kekuasaan kerajaan. Mereka bertindak sesuai dengan kekuasaannya. Golongan kedua orang yang punya uang seperti di Laweyan,” kata dia.
Hubungan dua golongan masyarakat itu menurut Nuky cenderung kurang baik. Sebab ada cerita di mana Paku Buwono (PB) II ketika terjadi geger pecinan melarikan diri ke Laweyan dan ingin meminjam kuda milik warga.
Tapi permintaan itu ditolak oleh para saudagar batik di Laweyan. Kisah tersebut membuktikan kurang harmonisnya hubungan antara kaum ningrat keraton dengan para saudagar batik di Laweyan selama beberapa waktu.
“Saya menduga banyak rumah di sini ada bungkernya. Bungker ini berbeda dengan lorong yang saya sampaikan tadi. Bungker ini merupakan ruang bawah tanah yang tertutup atau tidak saling terhubung,” sambung dia.
Dalam situasi darurat bungker tersebut juga bisa digunakan untuk bersembunyi para saudagar batik dan keluarganya. Keberadaan lorong dan bungker-bungker di Laweyan ini bisa dibilang sebagai salah satu daya tarik wisatawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
Tujuh siswa SMK Pamardi Siwi 2 Ngrambe, Ngawi, mengalami mual, muntah dan pusing setelah makan MBG. Sampel makanan diuji di laboratorium.
Pemkab Temanggung mendukung wacana guru PPPK menjadi ASN pusat. Beban APBD daerah berpotensi berkurang sekitar Rp150,5 miliar.
DPRD Bantul mengkaji usulan perubahan Perbup BUMKalma setelah pengelola menyoroti kebutuhan operasional dan penguatan kelembagaan.
Perpres ojol masih difinalisasi Komdigi. Pemerintah menguji formula bagi hasil yang adil bagi pengemudi dan menjaga bisnis platform ride-hailing.
BNN menangkap MR alias Bos Gendut, buronan kasus sabu 98 kg, di salon Mangga Besar. BNN juga menyita uang dan aset Rp39,95 miliar.
Tujuh tentara AS dilaporkan tewas dalam bentrokan di USS Abraham Lincoln. Insiden disebut dipicu stres akibat perang berkepanjangan.