Ini Regulasi yang Hambat Investasi Energi Terbarukan
Permen ESDM No 50/2017 dan perubahannya masih tidak menarik bagi para investor.
Aktivitas penambangan batu bara di Tambang Air Laya, Tanjung Enim, Sumatra Selatan, Minggu (3/3/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan
Harianjogja.com, JAKARTA – Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. Suryo Eko Hadianto meminta agar pemanfaatan batu bara tidak dibenturkan dengan upaya penekanan emisi karbon, karena komoditas itu disebut akan tetap digunakan di masa depan.
Selama ini, batu bara menjadi bahan baku utama energi di Indonesia melalui pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Komoditas itu bahkan berkontribusi 38 persen dari total energi Tanah Air.
Seiring berkembangnya teknologi, pembakaran batu bara juga semakin baik, bahkan hampir mendekati zero emission. Selain itu, teknologinya juga akan semakin murah di masa depan.
“Sebetulnya ini isunya adalah climate change dan emisi karbon. Ini sesuatu yang tidak perlu dibenturkan antara penurunan emisi karbon dan pemanfaatan batu bara,” katanya saat webinar, Jumat (24/9/2021) malam.
Pemerintah sendiri mulai menyusun road map untuk mengoptimalkan PLTU melalui perkembangan teknologi lebih ramah lingkungan.
Beberapa di antaranya adalah penerapan carbon capture, utilization and storage (CCUS) maupun carbon capture and storage (CCS) hingga proses pencampuran batu bara dengan biomassa dalam proses pembakaran atau co-firing biomass.
Keberadaan berbagai teknologi itu diyakininya malah akan menjadikan minat dunia untuk mengonsumsi batu bara semakin besar.
“Saya sangat yakin dunia akan kembali menggunakan batu bara. Hari ini Inggris kembali menggunakan batu bara, beberapa bulan lalu Kanada kembali gunakan batu bara. beberapa minggu lalu Jerman kembali menggunakan batu bara, karena batu bara energi yang relatif murah.”
Penurunan pemanfaatan batu bara dinilai malah akan memberikan efek domino, termasuk pada penerimaan negara non pajak. Selama ini, komoditas itu menjadi salah satu penyumbang penerimaan negara terbesar melalui ekspor.
Eko pun menolak upaya penurunan emisi karbon dengan membunuh keberadaan PLTU. Batu bara disebutnya ikut berkontribusi pada biaya listrik masyarakat tetap rendah meski masih disubsidi.
Perubahan energi baru terbarukan (EBT) secara masif dan menggantikan posisi batu bara secara serta merta justru akan menaikan tarif listrik. Bila tarif di masyarakat tidak naik dengan perubahan itu, maka subsidi negara untuk energi kian besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Permen ESDM No 50/2017 dan perubahannya masih tidak menarik bagi para investor.
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Harga pangan nasional hari ini menunjukkan cabai rawit merah Rp78.500/kg, telur Rp33.950/kg. Simak daftar lengkap harga terbaru dari PIHPS.
Momen haru terjadi usai sidang tuntutan Nadiem Makarim. Ia merangkul sopir ojol yang datang memberi dukungan di Pengadilan Tipikor.
Satpol PP Bantul menertibkan puluhan spanduk dan rontek liar yang dipasang melintang di jalan dan dekat lampu lalu lintas.
Meta memakai AI untuk mendeteksi akun anak di bawah 13 tahun di Facebook dan Instagram tanpa verifikasi dokumen.