Akui Lakukan Monopoli Layanan Jasa Kurir, Shopee & Shopee Express Siap Ubah Perilaku
Pengakuan perilaku diskriminatif itu dituangkan dalam Pakta Integritas Perubahan Perilaku yang akan ditandatangani Shopee maupun Shopee Express pada sidang
Siswa SD Yayasan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam Sukaraja mengikuti kegiatan belajar mengajar dalam tenda darurat di Desa Sukaraja, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, Senin (7/1/2019)./ANTARA-Ardiansyah
Harianjogja.com, JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) menyalurkan subsidi kuota internet tahap II untuk 4,6 juta siswa madrasah. Penyaluran ini melengkapi subsidi tahap I yang telah disalurkan ke 3,8 juta siswa madrasah.
Direktur Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam, M Isom Yusqi mengatakan 4,6 juta siswa itu terdiri dari jenjang Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).
“Banyak dari siswa madrasah tidak bisa melakukan pembelajaran hanya karena keterbatasan kuota internet, untuk itu kami salurkan bantuan subsidi kuota internet dalam rangka mendukung proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Madrasah secara maksimal,” kata Isom dikutip dari laman resmi Kemenag, Sabtu (7/8/2021).
Dalam kondisi darurat, kata Ishom, kegiatan pembelajaran tidak bisa berjalan secara normal seperti biasanya. Meski demikian, siswa madrasah harus tetap mendapatkan layanan pendidikan dan pembelajaran secara penuh melalui penerapan PJJ.
"Pemberian bantuan paket ini sebagai upaya meningkatkan layanan pendidikan pada masa pandemi," tuturnya.
Untuk siswa RA, bantuan yang diberikan sebesar kuota 7 GB. Untuk siswa MI, MTs, dan MA sebesar 10 GB. Untuk guru sebesar 12 GB. Sedang mahasiswa dan dosen sebesar 15 GB. Bantuan kuota ini dikirimkan ke ponsel para penerima pada bulan Mei dan Juni 2021.
Isom mengaku ada beberapa kendala yang dihadapi selama proses penyaluran bantuan kuota internet untuk siswa madrasah. Pertama, masih banyak siswa yang belum mendapatkan manfaat dari program ini disebabkan keberadaan mereka pada area blank spot atau tidak terjangkau signal provider internet.
“Berapapun bantuan kuota Internet yang akan kita salurkan kepada mereka, tentunya tetap tidak bisa digunakan, jika tidak ada jangkauan signal,” ungkap Isom.
Kendala Kedua, masih ada madrasah yang berada pada wilayah yang tidak mendapatkan aliran listrik. Ketiga, tidak sedikit siswa madrasah belum memiliki dukungan perangkat pembelajaran yang memadai seperti handphone atau laptop.
Pandemi ini mengajarkan banyak hal untuk terus menghadirkan solusi alternatif dalam memberikan layanan pendidikan bagi seluruh siswa madrasah di tengah keterbatasan dan kesulitan yang ada. Pandemi juga mengajarkan untuk melakukan inovasi dengan menghadirkan program-program yang berkualitas guna meningkatkan kualitas pendidikan madrasah.
“Transformasi Digital pada pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan, baik masih ada Pandemi Covid-19 atau tidak. Sehingga di masa yang akan datang kita sudah mampu mengembangkan Digitalisasi Pendidikan yang sistematik dan terukur,” pungkas Isom.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Pengakuan perilaku diskriminatif itu dituangkan dalam Pakta Integritas Perubahan Perilaku yang akan ditandatangani Shopee maupun Shopee Express pada sidang
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.
X batasi unggahan hanya 50 per hari untuk akun gratis. Kebijakan ini dorong pengguna beralih ke layanan berbayar.
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.