Bahlil Siapkan Skema Dana Bioetanol, E10 Dimulai pada 2027
Pemerintah menyiapkan skema pendanaan bioetanol untuk mendukung penerapan E10 pada 2027 tanpa membebani konsumen dan tetap menguntungkan petani.
Ilustrasi Vaksin COVID-19. /FOTO ANTARA -Irwansyah Putra
Harianjogja.com, JAKARTA--Sebuah penelitian tentang dampak vaksinasi Covid-19 dilakukan baru-baru ini.
Sebuah survei dari 5.396 tenaga medis di India yang telah menerima vaksin Covid-19 menunjukkan 66% dari mereka mengalami setidaknya satu gejala pasca vaksinasi atau reaktogenisitas.
Menurut The Health Site, responden dalam survei menyatakan bahwa gejala yang paling sering dialami adalah myalgia atau nyeri otot (44%), demam, (34%), sakit kepala (28%), nyeri lokal di tempat suntikan (27%), nyeri sendi (12%), mual (8%), dan diare (3%).
Dari semua itu, gejala yang paling umum adalah kelelahan, dialami 45% dari responden.
“Terjadinya gejala lain seperti sakit tenggorokan, insomnia, pusing kaku, ruam alergi, menggigil, muntah, sinkop dilaporkan 1% atau kurang," kata penulis studi.
BACA JUGA: Pria Bantul Rampas Tas Ibu Hamil hingga Terjatuh dari Motor
Gejala yang mereka alami pun tidak parah atau membutuhkan rawat inap. Survei juga menunjukkan bahwa dalam 90% kasus gejala yang dialami lebih ringan daripada yang diperkirakan responden.
Sementara itu, survei memperlihatkan bahwa efek samping di antara sebagian besar responden tidak bertahan lebih dari 24 jam setelah vaksinasi.
"Sebanyak 37% (1.225) responden mengungkapkan gejala mereka tidak berlangsung lebih dari sehari, sementara 31% menunjukkan gejala mereka bertahan selama 48 jam. Hanya 6% yang menyatakan bahwa gejala mereka bertahan lebih dari 2 hari," tulis peneliti lagi.
Mantan presiden Indian Medical Association, sekaligus salah satu peneliti studi ini, Rajeev Jayadevan, mengatakan survei ini membuktikan bahwa vaksin aman dan tidak perlu khawatir akan menyakiti tubuh.
“Jika lebih dari 5.000 orang yang divaksin melaporkan tidak ada masalah serius, maka itu merupakan jaminan yang cukup besar bahwa masyarakat umum bisa mendapatkan vaksin tersebut," tutur Jayadevan.
Temuan kunci lain dari survei ini adalah korelasi linier antara usia dan gejala pasca vaksinasi, yang menunjukkan bahwa reaktogenisitas menurun seiring bertambahnya usia.
“Ada kesalahpahaman bahwa reaktogenisitas terkait dengan pengembangan antibodi. Namun, setiap orang menanggapi vaksin secara berbeda dan memperoleh tingkat reaktogenisitas yang bervariasi tergantung pada usia dan faktor lain yang berperan," sambungnya.
Karenanya, imbuh Jayadevan, itu tidak bisa dianggap sebagai tanda untuk menentukan bahwa tubuh seseorang menghasilkan respon imun terhadap vaksin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Pemerintah menyiapkan skema pendanaan bioetanol untuk mendukung penerapan E10 pada 2027 tanpa membebani konsumen dan tetap menguntungkan petani.
BMKG menyebut gempa M7,7 NTT dipicu sesar naik busur belakang Flores yang berpotensi menghasilkan gempa hingga M7,9.
Gempa M7,7 di NTT merobohkan bangunan di Pelabuhan Lorens Say Maumere. Tiga korban dievakuasi, satu meninggal dunia.
Pieter Huistra menilai PSS Sleman berada di jalur tepat untuk membangun permainan dominan menjelang Super League 2026/2027.
PWI DIY memperkuat pengusulan Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin sebagai Pahlawan Nasional setelah 30 tahun gugur dalam tugas jurnalistik
Gempa M7,7 yang berpusat di Nagekeo dirasakan di Kota Bima. Satu rumah rusak sedang, Gudang Bulog dan plafon masjid juga terdampak.