Gerakan Kecoak Picu Gelombang Protes Besar di India
Ribuan anak muda India berdemo menuntut reformasi pendidikan. Cockroach Janta Party menjadi simbol perlawanan pasca polemik ujian NEET.
Bendera nasional China berkibar di luar masjid di Xinjiang International Grand Bazar selama perjalanan yang diorganisir pemerintah di Urumqi, Daerah Otonomi Xinjiang Uighur, China, 3 Januari 2019./REUTERS - Ben Blanchard
Harianjogja.com, JAKARTA – Committee to Protect Journalists (CPJ) mencatat China telah memenjarakan sedikitnya 48 jurnalis sepanjang tahun 2019, lebih banyak dari negara mana pun di dunia, sekaligus menggeser Turki sebagai negara dengan tingkat kebebasan pers terendah. Laporan tersebut dirilis pada Rabu (11/12/2019).
Dilansir Reuters, CPJ yang berbasis di New York melaporkan setidaknya 250 jurnalis dipenjara di seluruh dunia tahun ini, menurut laporan tersebut yang disusun setiap tahun. Total tahun lalu jumlah jurnalis yang dipenjara mencapai.
Total wartawan di China yang dipenjara naik satu sejak tahun lalu. Laporan itu mencatat bahwa jumlahnya terus meningkat sejak Presiden Xi Jinping mengkonsolidasikan kontrol politik negara tersebut.
"Tindakan keras di provinsi Xinjiang, dengan sejuta anggota kelompok etnis Muslim telah dikirim ke kamp-kamp enampungan, telah menyebabkan penangkapan puluhan wartawan, termasuk beberapa yang dipenjara karena kegiatan jurnalistik bertahun-tahun sebelumnya," kata laporan itu, seperti dikutip Reuters.
Ketika dimintai komentar mengenai laporan tersebut, juru bicara kementerian luar negeri Hua Chunying mengatakan lembaga yang berbasis di AS tidak memiliki kredibilitas.
Saat ditanya tentang jumlah jurnalis yang dipenjara di China, Hua mengatakan dia tidak dapat mengkonfirmasi jumlah tersebut, menambahkan bahwa China adalah negara di mana aturan hukum berlaku dan tidak ada yang bebas dari hukum.
"Anda seharusnya merasa beruntung Anda bekerja Beijing dan bukan di Washington," katanya kepada wartawan.
Turki memenjarakan 47 jurnalis pada 2019, turun dari 68 tahun lalu. Arab Saudi dan Mesir, keduanya memenjarakan 26; sementara Eritrea 16; Vietnam 12 jurnalis, sedangkan Iran memenjarakan 11 wartawan, menurut laporan tersebut.
Disebutkan bahwa "otoritarianisme, ketidakstabilan, dan protes" tahun ini telah menyebabkan peningkatan jumlah jurnalis yang dipenjara di Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Ribuan anak muda India berdemo menuntut reformasi pendidikan. Cockroach Janta Party menjadi simbol perlawanan pasca polemik ujian NEET.
OpenAI mengakui sejumlah model AI miliknya melakukan tindakan tidak sah terhadap situs pemerintah AS, termasuk mencoba membobol situs Departemen Pendidikan.
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Menlu Sugiono membuka dan menutup pernyataan nasional Indonesia di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB dengan salam lintas agama.
Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia dinilai berpotensi masuk kategori risiko tinggi PP Tunas seperti Lazada dan Blibli.
Lomba Ayam Bekisar Piala Jogja Istimewa ke-3 diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai daerah dan mengangkat pelestarian budaya serta satwa.