Selundupkan 1,3 Ton Ketamin, 8 Awak MV King Sun Jadi Tersangka
Bareskrim menetapkan delapan awak MV King Sun sebagai tersangka penyelundupan 1.298 kg ketamin di perairan Tanjung Berakit.
Harianjogja.com, SEMARANG – Badan Geologi menemukan bahwa permukaan tanah di kawasan pesisir Kota Semarang mengalami penurunan atau ambles 10 sentimeter (cm) setiap tahunnya.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM), Rudy Suhendar, mengatakan amblasnya permukaan tanah di Semarang memang tidak merata antara satu titik dengan titik lainnya. Meski demikian, berdasarkan pemantaun yang dilakukan sejak 2011, rata-rata amblasnya permukaan tanah di daerah pesisir Semarang terjadi pada rentang 2-10 cm setiap tahunnya.
Menurut Rudy, ada dua faktor yang menyebabkan amblesnya permukaan tanah, yakni faktor alam dan aktivitas manusia.
“Faktor alam lebih berkaitan dengan sifat alami konsolidasi tanah yang umumnya berada pada endapan relatif muda. Selain itu, juga karena pengaruh tektonik yang disebabkan struktur geologi,” ujar Rudi di sela talkshow di Hotel Patra, Kota Semarang, Rabu (20/11/2019).
Sementara itu, hak lain yang membuat permukaan tanah turun lebih dikarenakan faktor atau ulah manusia seperti konstruksi bangunan yang melebihi beban dan pengambilan air tanah yang berlebihan.
“Pengambilan air tanah berkontribusi penurunan permukaan tanah sekitar 20-30%,” ujarnya.
Dikatakan, amblesan tanah memang berjalan dalam kurun waktu yang sangat lama. Namun demikian, tidak dapat dihindari. Sementara itu, tidak mudah pula untuk memindahkan satu wilayah ke wilayah lain guna menghindari daerah amblesan.
Oleh karena itu, pihaknya pun mengimbau kepada semua kalangan, terutama pemerintah untuk mulai mewaspadai fenomena amblasnya permukaan tanah tersebut.
“Untuk mengurangi beban bangunan yang sudah ada itu belum ada teknologinya. Biasanya dengan menyesuaikan bangunan baru. Sehingga pemangku kepentingan harus menyikapi ini dengan membuat kebijakan di wilayahnya, seperti perizinan bangunan dan pengambilan air tanah,” terangnya.
Selain Semarang, fenomena penurunan permukaan tanah juga terjadi di beberapa daerah lain di Jateng. Rata-rata daerah yang mengalami amblesan tanah itu berada di pesisir pantai seperti Kota Pekalongan, Demak, dan Kabupaten Kendal bagian barat.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sudaryanto, mengatakan amblesnya permukaan tanah memang menyebabkan kerugian fisik, ekonomi, dan lingkungan, sehingga harus ditangani secara serius.
“Untuk tata ruang Semarang, ke depan sebaiknya pembangunan gedung, terutama kawasan industri diarahkan ke wilayah selatan dan juga mempertimbangkan gerakan tanah atau potensi longsor,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
Bareskrim menetapkan delapan awak MV King Sun sebagai tersangka penyelundupan 1.298 kg ketamin di perairan Tanjung Berakit.
KPK menggeledah Kanwil Pajak Surakarta dan sejumlah lokasi di empat daerah terkait kasus pajak Banjarmasin. Emas 1,3 kg turut disita.
Gelombang tinggi kembali menyumbat aliran air di Sanden dan Kretek, Bantul. Sekitar 55 hektare lahan pertanian kembali tergenang.
BNN menangkap MR alias Bos Gendut, buronan pemilik 98 kg sabu di Kampung Bahari. Sejumlah aset dan barang bukti turut disita.
AIcosystem Buka Cara Baru dalam Mengelola Pengalaman Pelanggan hingga Pengembangan Asisten Virtual
Wacana pembatasan BBM subsidi menyasar desil 9-10. Simak cara cek desil DTSEN melalui situs Cek Bansos Kemensos dengan NIK.