Pria Pacitan Disiram Cairan Kimia saat Berangkat ke Pasar
Pria di Pacitan menjadi korban penyiraman cairan kimia saat hendak ke pasar. Korban mengalami luka bakar dan dirujuk ke rumah sakit.
Harianjogja.com, SEMARANG – Badan Geologi menemukan bahwa permukaan tanah di kawasan pesisir Kota Semarang mengalami penurunan atau ambles 10 sentimeter (cm) setiap tahunnya.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM), Rudy Suhendar, mengatakan amblasnya permukaan tanah di Semarang memang tidak merata antara satu titik dengan titik lainnya. Meski demikian, berdasarkan pemantaun yang dilakukan sejak 2011, rata-rata amblasnya permukaan tanah di daerah pesisir Semarang terjadi pada rentang 2-10 cm setiap tahunnya.
Menurut Rudy, ada dua faktor yang menyebabkan amblesnya permukaan tanah, yakni faktor alam dan aktivitas manusia.
“Faktor alam lebih berkaitan dengan sifat alami konsolidasi tanah yang umumnya berada pada endapan relatif muda. Selain itu, juga karena pengaruh tektonik yang disebabkan struktur geologi,” ujar Rudi di sela talkshow di Hotel Patra, Kota Semarang, Rabu (20/11/2019).
Sementara itu, hak lain yang membuat permukaan tanah turun lebih dikarenakan faktor atau ulah manusia seperti konstruksi bangunan yang melebihi beban dan pengambilan air tanah yang berlebihan.
“Pengambilan air tanah berkontribusi penurunan permukaan tanah sekitar 20-30%,” ujarnya.
Dikatakan, amblesan tanah memang berjalan dalam kurun waktu yang sangat lama. Namun demikian, tidak dapat dihindari. Sementara itu, tidak mudah pula untuk memindahkan satu wilayah ke wilayah lain guna menghindari daerah amblesan.
Oleh karena itu, pihaknya pun mengimbau kepada semua kalangan, terutama pemerintah untuk mulai mewaspadai fenomena amblasnya permukaan tanah tersebut.
“Untuk mengurangi beban bangunan yang sudah ada itu belum ada teknologinya. Biasanya dengan menyesuaikan bangunan baru. Sehingga pemangku kepentingan harus menyikapi ini dengan membuat kebijakan di wilayahnya, seperti perizinan bangunan dan pengambilan air tanah,” terangnya.
Selain Semarang, fenomena penurunan permukaan tanah juga terjadi di beberapa daerah lain di Jateng. Rata-rata daerah yang mengalami amblesan tanah itu berada di pesisir pantai seperti Kota Pekalongan, Demak, dan Kabupaten Kendal bagian barat.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sudaryanto, mengatakan amblesnya permukaan tanah memang menyebabkan kerugian fisik, ekonomi, dan lingkungan, sehingga harus ditangani secara serius.
“Untuk tata ruang Semarang, ke depan sebaiknya pembangunan gedung, terutama kawasan industri diarahkan ke wilayah selatan dan juga mempertimbangkan gerakan tanah atau potensi longsor,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
Pria di Pacitan menjadi korban penyiraman cairan kimia saat hendak ke pasar. Korban mengalami luka bakar dan dirujuk ke rumah sakit.
Jadwal terbaru Prameks Jogja–Kutoarjo 2026 lengkap. Simak jam keberangkatan, tips hindari kehabisan tiket, dan jam sibuk penumpang.
Jadwal DAMRI Jogja ke YIA 2026 lengkap dengan tarif Rp80.000. Transportasi praktis, nyaman, dan bebas ribet menuju bandara.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.